Senin, 18 Agustus 2014

Save The Water: Bukti Cinta Tulus Pada Generasi Penerus



Sejak Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Kesehatan (BPJS Kesehatan) diluncurkan pemerintah tanggal 1 Januari 2014, konon jumlah pasien meningkat drastis. Puskesmas, klinik, hingga rumah sakit dipenuhi oleh warga yang ingin berobat. Ya, program pemerintah itu kabarnya telah membantu ribuan orang yang ingin mendapat pengobatan yang memadai namun lebih murah bahkan gratis.

Begitu juga dengan rumah sakit tempat saya bekerja, sejak kemunculan BPJS Kesehatan ke permukaan, lonjakan jumlah pasien tiap harinya hampir sama dengan lonjakan penumpang kereta api menjelang hari raya. Tentu pihak rumah sakit tetap ingin memberikan pelayanan terbaiknya dengan meningkatkan kemampuan sumber daya manusianya melalui pelatihan dan seminar, juga menambah jumlah sarana prasarana demi menunjang validnya diagnosa dan terlayaninya semua kebutuhan pasien. 

Seiring bertambahnya sarana dan prasarana yang digunakan pastilah berbanding lurus dengan bertambahnya kebutuhan akan air. Karena bisa dipastikan hampir semua peralatan medis tak jauh dari air. 

Disamping itu, hampir semua tindakan medis juga berhubungan dengan air. Salah satu contoh yang paling sederhana adalah cuci tangan. Sesuai standar WHO, setiap ahli medis harus menerapkan 6 langkah dan 5 momen cuci tangan. Berita baiknya, 6 langkah 5 momen itu bisa juga diterapkan di rumah dalam kehidupan kita sehari-hari. Apa saja 6 langkah 5 momen mencuci tangan itu? Insya Allah akan saya bahas di akhir tulisan ini.

Selain cuci tangan, bukti lain simbiosis medis dengan air adalah ketika pasien memerlukan terapi rehidrasi, maka biasanya pasien akan diberikan cairan infus yang berisi zat-zat penting, begitu juga obat vial yang rata-rata berbentuk serbuk juga harus diencerkan terlebih dahulu dengan water steril for injection sebelum disuntikkan, bahkan water steril juga dipakai untuk melembabkan udara bagi pasien yang memerlukan terapi oksigen.

Itu baru satu rumah sakit. Di Indonesia jumlah rumah sakit tak terhitung banyaknya, maka tak terhitung pula besarnya debit air yang dikeluarkan.

Begitu vitalnya peran air ini di setiap lini pelayanan medis sehingga tak heran jika di setiap tempat dimana ada air mengalir akan ada himbauan berbunyi, “Gunakan air seperlunya” atau “Jangan biarkan air menetes”. Hal itu bertujuan agar para tenaga medis dan masyarakat yang memanfaatkan lebih tergerak untuk menghemat pengeluaran air sehingga tak ada air yang terbuang percuma.

Air sebagai steering kehidupan
Bukan hanya unit medis saja yang memerlukan air bersih sebagai tenaga utamanya. Dalam setiap inci kehidupan, kita tak bisa lepas dari air. Bagi umat muslim ketika kita berpuasa, Nabi Muhammad SAW menganjurkan agar kita mengakhirkan sahur, tujuannya selain untuk membedakan dengan puasa pada agama lain tentu supaya kita tidak terlalu lama menahan haus sehingga bisa mencegah terjadinya dehidrasi. Selain itu kondisi badan juga harus prima, bagi yang sedang sakit diijinkan untuk tidak berpuasa. Karena dalam kondisi sakit tubuh membutuhkan cairan lebih banyak daripada saat kita sehat.

Tengok juga pepohonan yang mudah layu jika tak disiram. Meski akarnya mampu mencari air sendiri, namun dia tetap membutuhkan air dari luar tubuhnya. Yang unik dari pepohonan adalah sifatnya yang berbeda-beda. Ada pohon kaktus yang kuat bertahan dalam kondisi panas dan gersang. Ada pula bunga edelweiss yang akrab disebut bunga abadi karena mampu mekar lebih lama dan mereka tumbuh di areal pegunungan dengan suhu dingin menggigit tulang. Meski keduanya hidup di lingkungan ekstrem, tapi mereka tetap bisa bertahan hidup. Menyimpan cadangan air adalah kuncinya. Kaktus menyimpan air dalam ruang di batangnya. Kaktus juga memiliki daun yang dapat berubah menjadi duri. Duri-duri itu bertugas mengurangi penguapan air lewat daun, sehingga kaktus bisa bertahan tanpa air.(1)





(1)




Begitu juga dengan edelweiss. Setiap batangnya ditutupi oleh kulit yang kasar dan bercelah yang dapat menyimpan air dalam waktu cukup lama. (2)

(3)




Dunia fauna juga begitu akrab dengan air. Tak ada satu makhluk hidup pun yang bisa jauh dari air. Bahkan calon bayi dalam rahim sang bunda juga terlindungi oleh cairan ketuban yang menjaga janin dari segala bahaya yang datang dari luar.

Hutan dan tugas pokoknya
Allah Maha Adil. Ketika Dia dengan kuasaNya menciptakan sederet alat canggih untuk bertahan hidup bagi tanaman dan hewan, Dia juga tak lupa memberi manusia alat canggih yang tiada duanya yaitu sebuah teknologi berupa alat penyimpan air yang abadi, jika manusia juga berusaha untuk membuatnya tetap ada. Alat itu bernama hutan.

Hutan dengan segala ekosistem di dalamnya merupakan penyimpan air raksasa. Mengapa? Karena hutan mampu menyerap tetesan air hujan lebih banyak melalui daun dan batang pohon, menampungnya dalam wadah-wadah tak kasat mata dalam tanah, membuat air tanah bebas dari endapan yang membuat air jadi tercemar, sehingga bisa mengalirkan air tanah yang bersih menuju pemukiman-pemukiman penduduk. Ajaibnya lagi bisa meminimalkan terjadinya erosi dan banjir.

Membuka lahan, menebang pohon sesuka hati, apalagi sampai membakar hutan merupakan tindakan yang sangat merugikan. Bukan hanya kita yang rugi, tapi anak-cucu-cicit kita kelak. Mereka akan kesulitan mendapatkan air bersih, udara sejuk dan sehat, serta bencana yang seolah tiada habisnya. Tentu kita boleh memanfaatkan kayu-kayu pohon dari hutan yang tak diragukan lagi kualitasnya, tapi setidaknya kita tetap harus menerapkan praktek penebangan yang selektif atau menebang dengan dampak minimal (Reduced Impact Logging). Tujuannya tak lain agar kelestarian hutan tetap terjaga dan pasokan air bersih untuk setiap makhluk hidup tetap ada. (4)


Menghargai air
Entah budaya, entah malu, entah apa lagi alasannya, sudah menjadi pemandangan biasa dalam suatu acara hajatan jika kita menemukan banyak sampah gelas air mineral bertebaran di segala sudut. Bukan masalah gelas air mineralnya yang memang dirancang oleh pabriknya untuk sekali pakai, tapi masih adanya air di dalam gelas itu yang membuat hati miris melihatnya. Tanpa merasa bersalah, masyarakat membuang gelas air mineral yang bahkan baru diminum sekali dua kali tegukan. Belum lagi jika si empunya hajat juga menyediakan air dalam gelas plastik yang berisi es sirup, es teh, es jeruk dan sebagainya. Kalau dibandingkan dengan yang habis diminum, tentu yang ditinggal dalam keadaan isinya tinggal separuh, sepertiga, atau seperempat jauh lebih banyak.

Cobalah berpikir matematis, jika jumlah air yang tinggal separuh, sepertiga dan seperempatnya itu disatukan ada berapa banyak liter air yang terbuang sia-sia? Itu baru satu lokasi hajatan, padahal dalam satu tahun saja entah berapa kali hajatan digelar oleh masyarakat. Mungkin jumlah air yang terbuang itu akan cukup untuk memberi minum warga satu desa yang kekurangan air. Bukan tak boleh kita mengambil  air minum, tapi tentunya kita bisa mengukur batas maksimal lambung kita masing-masing.

Parahnya bukan hanya di tempat hajatan, barangkali di rumahpun kita sering membuang air minum. Padahal kita sendiri yang membayar untuk membeli air minum, bukankah itu sama saja kita membuang uang? Mari kita introspeksi diri.

Jadi masihkah kita tak mau menghargai air meski hanya segelas  plastik air mineral?

Kalau menilik kembali kerja keras hutan yang berupaya memberi kita air bersih, masih tegakah kita membuang air dengan percuma? Tidakkah kita ingin menghargai air yang telah membuat hidup kita menjadi lebih hidup?

Air hemat, hidup tetap sehat
Menghemat air bukan berarti kita tidak mandi atau tidak menggunakan air sama sekali tapi meminimalisir pemakaian adalah tindakan yang bijaksana. Memanfaatkan air sesuai kebutuhan, minum air sesuai kemampuan dan kebutuhan tubuh, merupakan salah satu dari sekian banyak cara sederhana untuk mengurangi tingkat keborosan air.

Bagi ibu-ibu rumah tangga, cara menghemat air namun kesehatan tetap terjaga bisa dilakukan melalui kamar mandi. Misalnya menggunakan shower untuk mandi atau memakai closet duduk, dipercaya bisa mengurangi pemakaian air yang berlebihan daripada memakai gayung. Meski harganya lebih mahal tapi tentu lebih baik jika ternyata mampu menghemat debit air yang dikeluarkan. Dengan menghemat pengeluaran air, berarti kita akan juga menghemat pengeluaran uang, bukan?

Contoh lain bahwa kita tetap bisa sehat tapi tetap hemat air adalah dengan mencuci tangan dengan cara yang benar dan saat yang tepat. Boleh memakai air mengalir (kran dimatikan dulu saat cuci tangan) atau menggunakan handrub yang banyak dijual di pasaran. Nampaknya sepele, tapi percayalah kesehatan berawal dari tangan kita.

Seperti yang saya janjikan di awal tulisan ini. Berikut saya sampaikan pedoman 6 langkah 5 momen sesuai standar WHO yang bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

6 langkah itu adalah :

  1.  Ratakan handrub atau sabun ke seluruh permukaan telapak tangan.
  2. Gosok bagian punggung tangan dan sela-sela jari kiri (posisi telapak tangan kanan di atas    punggung  tangan kiri). Lakukan sebaliknya.
  3. Gosok bagian telapak tangan dan sela-sela jari.
  4. Gosok punggung jari dengan cara meletakkan punggung jari pada telapak tangan lainnya dengan jari saling mengunci.
  5. Gosok ibu jari dengan cara memutar oleh telapak tangan kanan. Lakukan sebaliknya secara bergantian.
  6. Gosok ujung jari tangan kanan pada telapak tangan kiri dengan cara memutar kea rah bagian tubuh dan lakukan sebaliknya. 

(5)


5  momen mencuci tangan :
  1.  Sebelum makan
  2.  Sesudah buang air besar
  3.  Sebelum memegang bayi
  4.  Sesudah menceboki anak
  5.  Sebelum menyiapkan makanan
(6)


Untuk tenaga kesehatan, 5 momen itu adalah :


(7)

 Semoga tulisan kecil ini bisa memberi motivasi dan semangat kita untuk selalu menjaga kelestarian air,  demi anak-cucu-cicit kita kelak sebagai warisan dan bukti cinta kita bagi kelangsungan hidup generasi mendatang.






Referensi materi dan gambar :
  1. (http://www.anehdidunia.com/2012/04/indahnya-bunga-kaktus.html) 
  2.  (http://www.belantaraindonesia.org/2011/11/apakah-edelweis-bisa-di-stek-pada.html)
  3.  http://aenze.blogspot.com/2013/04/bunga-keabadian-edelweis-dan-mitosnya.html
  4.  http://www.ifacs.or.id/id/climate-change-forests-and-us/forests-and-water/
  5.  https://m.facebook.com/rshsbdg/photos/a.10150264117475110.375150.258165525109/10151809082650110/?type=1&source=46&refid=17 
  6. http://uptdkesehatansukaraja.blogspot.com/2012/06/ayo-cuci-tangan-dengan-benar.html 
  7. http://widitaputra.wordpress.com/2013/04/25/cuci-tangan/

Tidak ada komentar :