Sabtu, 06 September 2014

"Mengancam" via Jabatan

Sore itu, seorang teman sesama perawat bercerita bahwa dia habis dimarahi sampai bersih oleh salah satu keluarga pasien yang memperkenalkan diri sebagai anggota dewan. Masalahnya sepele, teman saya itu membuka map di hadapannya. Ketika itu dia menerima telepon dari unit IGD menanyakan ketersediaan kamar, tentu saja teman saya membuka map khusus daftar pasien (karena sudah tidak ada lagi papan daftar pasien yang dulu terpajang besar). Hanya membuka map, lalu teman saya itu mendapat ancaman serius hendak dilaporkan ke bagian direksi. Meskipun berkali-kali minta maaf (teman saya itu bingung mengapa dia dimarahi hanya karena membuka map, padahal keluarga pasien yang saat itu bertanya tentang kondisi keluarganya yang sedang dirawat itu sedang dilayani oleh teman saya yang lain), tetap saja sederet ancaman mengalir deras seolah teman saya itu telah melakukan hal yang mengancam nyawanya. Setelah itu, beliau meninggalkan jejak dengan menulis nama dan jabatannya sebagai anggota dewan di secarik kertas sambil minta agar perawat menghubungi beliau jika terjadi sesuatu dengan pasien. Kertas itupun ditaruh rapi di map pasien.

Menurut sahabat, apa tujuan beliau mencantumkan jabatannya di bawah namanya? Apa lagi jika bukan ingin disegani, dihormati, sekaligus mengandung ancaman. Ancaman gagal karir karena telah berani berurusan dengan anggota dewan. Di sana nampaknya juga ada semacam jaminan agar keluarga yang sakit itu mendapat pelayanan paling baik. Walau tanpa menuliskan jabatan sekalipun, sebenarnya keluarga pasien itu mengaku sangat puas dengan pelayanan di bangsal saya. 

Jabatan memang membuat seseorang merasa berada di atas. Alhasil, pengakuan dari orang lain, dihormati dan disegani orang lain pun menjadi harapannya. Terkadang malah dia sanggup membuat orang lain terjungkal dari posisinya jika tak mampu memberikan pelayanan terbaik.

Mengapa ancaman lewat jabatan ini begitu disukai banyak orang? Karena tak semua orang bisa berada sama persis dengan posisi strategisnya. Dengan jabatannya, dia bisa mengendalikan orang, memaksa orang mengakui bahwa dia adalah orang penting yang wajib dihormati (seperti kisah teman saya di atas). Sehinnga siapa yang tak tergiur punya jabatan?

Menurut saya, menyelesaikan masalah dengan menyebutkan jabatannya bukanlah suatu sikap dewasa. Sebelas dua belas dengan anak kecil yang mengganggu pekerjaan ayahnya karena ingin mencari perhatian. Bicara baik-baik bahwa ada sikap yang kurang berkenan tentu merupakan sikap yang menghormati jabatan yang diembannya. Sekaligus menghormati dan mengangkat citra positif institusinya.Seperti teman saya di atas, mau tak mau saya berpikir betapa buruk akhlak anggota dewan yang sejatinya merupakan pilihan masyarakat. Bukankah beberapa waktu yang lalu kita sama-sama memilih anggota dewan? Lupakah mereka dengan segenap janji ketika kampanye? Ah, sudahlah. Sakit perut jika kita mau susah-susah memikirkannya.

Sahabat, kita dihormati bukan karena kita punya jabatan, tapi karena akhlak kita, kepribadian kita, dan keanggunan kita dalam menyelesaikan masalah terutama masalah yang berkenaan dengan hati. Kemahiran menata emosi, kematangan berpikir logis dan penuh solusi, dan menghargai orang yang kita ajak bicara akan secara tak langsung memunculkan sikap kewibawaan dari diri kita. Bahkan tanpa merasa diancam, secara otomatis membuat orang berpikir bahwa kita bukanlah orang yang mudah disetir sekehendak hati.

Orang yang menyebut jabatannya ketika bicara dengan orang lain (terutama berhubungan dengan pelayanan umum masyarakat) nampak sekali bahwa sebenarnya dia tak percaya diri, minder, takut berlebihan atau kasarnya orang yang gila hormat. Dia merasa wajib untuk menyebut jabatannya agar orang lain lebih peduli dan lebih perhatian pada dirinya. Akhirnya, yang terjadi adalah orang akan menghargai jabatannya bukan si empunya jabatan. Menyedihkan, bukan?

Jadi, jangan kita terlena dengan jabatan yang kita punya sehingga sesuka hati kita memanfaatkannya, bahkan untuk kepentinngan pribadi. Bukankah kelak kita akan ditanya tentang jabatan yang kita emban? Karena hakikatnya jabatan adalah amanah.

Tidak ada komentar :