Senin, 06 Oktober 2014

Dahsyatnya Sebuah Kebiasaan


“The world is full of wonders, there’s nothing you can’t do, anything is possible, when you believe in you …”

Penggalan lagu When You Wish Upon A Star yang dinyanyikan oleh grup Hi5 telah menjadi motivasi saya untuk selalu berusaha menjadi lebih baik. Banyak cita-cita saya yang kandas begitu saja karena -menurut saya- saya kurang memperjuangkannya. Sebenarnya saya menyadarinya, tapi lagi-lagi tak ada motivasi yang jelas mengapa saya harus memperjuangkannya. Pekerjaan saya sebagai pegawai tetap di sebuah rumah sakit swasta terbaik di kota saya mungkin sudah membuat saya terlena. Istilah kerennya, saya berada di zona nyaman. Saya bekerja shift, harus pula mengurus seorang putri, dan tentu saja mengurus segala pekerjaan rumah karena suami bekerja di luar kota.


Lelah, itu yang selalu menjadi tameng pertama saya ketika hati kecil saya mulai protes tentang impian saya yang sebenarnya. Senjata saya kedua, adalah tak ada waktu. Inipun sering menjadi sebab terjadinya perang baratayudha di hati kecil saya. Ketika hati kecil saya mengatakan, please deh, kamu punya waktu 24 jam. Maka dengan lantang, saya jawab, apa kau tidak lihat cucian yang menggunung dan setrikaan yang membukit? Belum lagi aku harus menyiapkan makan malam untuk si kecil, setelah itu aku juga harus menemaninya belajar?. Saat itu juga saya merasakan sebuah  cibiran yang menyakitkan dari hati kecil saya, itu karena kau tak bisa mengatur waktumu dengan baik.

Dibandingkan dengan presiden, saya bukan orang yang sesibuk beliau sebenarnya. Tapi entahlah, ada banyak kebiasaan-kebiasaan saya yang saya tahu itu sia-sia tapi sulit juga untuk dihilangkan. Masalahnya ternyata sederhana sekali, kebiasaan.

Sean Covey, dalam 7 Habits of Highly Effective Teens (saya memang bukan remaja lagi, tapi saya suka membaca buku-buku remaja, hehehe) dengan tegas mengatakan, latihlah kebiasaanmu, karena kebiasaanmu akan menjadikanmu sukses atau menghancurkanmu. Sangat menonjok, bukan? Setali tiga uang dengan Sean Covey, seorang pujangga Inggris pernah mengatakan, mula-mula kita membentuk kebiasaan kita, lama kelamaan kebiasaanlah yang membentuk kita. Saya contohnya.

Tapi ternyata membentuk kebiasaan baru tak semudah merautkan pensil yang tumpul. Perlu usaha baru, tekad kuat, dan semangat juang yang tinggi. Terutama untuk melawan rasa malas. Lalu apa yang menjadikan kita mampu mengubah kebiasaan? Sebuah motivasi. Ingat lagi apa tujuan kita sebenarnya. Saya punya kebiasaan tidur lagi setelah shalat subuh, padahal saya tahu itu bukan kebiasaan baik bahkan bisa melenyapkan rizki kita. Tapi, masalahnya tidur selepas subuh memang menyenangkan. Setelah saya ikut sebuah komunitas mengaji, saya berjuang sekuat tenaga melawan kantuk untuk tetap berjibaku pada kitab suci, meski terkadang malah ketiduran. Lama kelamaan hal itu seolah menjadi wajib dan saya merasa sangat bersalah jika belum membaca kitab suci selepas shalat subuh. Untuk mengubah kebiasaan saya itu, saya butuh waktu tiga bulan.

Semuanya memang memerlukan waktu, yang instan seringkali tak sehat. Perjuangan meraih cita-cita tak sekedar memperjuangkan keinginan kita tapi lebih dari itu ada perjuangan merubah kebiasaan-kebiasaan yang bisa menghambat tercapainya tujuan kita. Di situlah pertempuran sebenarnya dimulai.
Sering kita dapati di masyarakat, seseorang dikenal karena kebiasaannya. Kebiasaanya itu telah menjadi ciri khas yang melekat. Ketika kita memiliki kebiasaan baik atau minimal kebiasaan yang bisa diterima oleh masyarakat, kita akan cenderung dihargai bahkan dipercaya untuk melakukan sesuatu yang berkaitan dengan kebiasaan kita. Sebaliknya, jika kebiasaan kita justru mengganggu masyarakat, kita akan dikucilkan dan sering dilupakan. Dengan kata lain, kita adalah kebiasaan kita.

Siapakah orangnya yang tak ingin sukses? Bahkan penjahat sekalipun juga ingin sukses dalam setiap aksinya, bukan? Tapi tentu saja, konteks sukses di sini bukan sukses untuk sesuatu yang negatif, melainkan sukses yang bermanfaat juga untuk orang lain. Kesuksesan dibangun dengan dasar kebiasaan yang baik. Sebuah kebiasaan juga bisa menguatkan kita dalam situasi seburuk apapun. Kebiasaan membaca, kebiasaan menghargai orang lain, berpikir positif, termasuk di dalamnya kebiasaan untuk tenang dalam mengambil keputusan. Semuanya berpengaruh pada kehidupan kita kini dan kelak.

Jadi, (sambil mengingatkan diri sendiri) jika kita masih memiliki kebiasaan-kebiasaaan negatif yang kita tahu bisa mengancam masa depan kita kelak, belum terlambat untuk mengubahnya. Seperti lagu di atas, segalanya mungkin, jika kita percaya pada diri kita sendiri. Are you ready?

Tidak ada komentar :