Kamis, 02 Oktober 2014

Idul Adha, Tak Sekedar Ritual Menyembelih






Hari Raya Idul Adha sudah di depan mata. Bagaimana sahabat semua mempersiapkannya? Adakah di antara sahabat semua yang berencana untuk berkurban tahun ini? Semoga kita termasuk orang yang dimudahkan oleh Allah SWT untuk melaksanakan kurban.

Sahabat, Idul Adha adalah hari raya umat Islam yang di dalamnya terdapat prosesi penyembelihan hewan kurban. Hewan kurban yang disembelih adalah merupakan hewan ternak yaitu unta, sapi, kambing, dan biri-biri. Di sini saya tidak akan membahas tentang kisah awal mula turunnya perintah berkurban, tentu sahabat semua sudah mendengarnya, bukan? Sebuah kisah nyata yang diabadikan dalam Alqur'an tentang keikhlasan menjalankan perintah Allah SWT.

Berkurban, menurut para ulama fiqh hukumnya sunnah muakkadah (utama) dan tak ada satu sahabat Nabi yang menyatakan bahwa kurban adalah wajib. Tapi tentu sebagai umat yang mencintai Allah dan NabiNya pasti kita akan berupaya untuk menunaikan ibadah yang sangat mulia itu.

Beberapa waktu yang lalu, saya mengikuti sebuah kajian yang diadakan rutin di rumah sakit tempat saya bekerja. Temanya menarik, tentang esensi ibadah kurban. Dibawakan oleh Ustadzah Samhatun yang insya Allah sudah mumpuni dalam berdakwah. Mendengar ceramahnya yang membakar semangat itu, saya jadi ingin membagikannya kepada sahabat semua. 

Sahabat, ternyata berkurban bukan hanya sekedar kita membeli hewan kurban lalu menyerahkan kepada panitia kurban untuk disembelih. Bukan sekedar itu. Ada makna yang lebih dalam dan lebih menyentik hati kita. Karena hakikat berkurban lebih mulia dari itu. Beliau, Ustadzah Samhatun merinci kepanjangan dari kata "Qurban".

Q = Quality. Bukan hanya soal kualitas hewan kurban kita, tapi bagaimana kualitas diri kita. Banyak orang berkurban dengan alasan gengsi, karena tahun kemarin tidak berkurban, atau bahkan malu karena tetangga sebelah berkurban. Niat seperti ini jelas mengganggu makna kurban sendiri. Berkurban hukumnya bukan wajib, tapi jika mewajibkan diri untuk alasan seperti itu jelas sebuah kekeliruan. Hanya Allah SWT yang tahu apakah kurban kita diterima atau tidak. Ya, ini soal keikhlasan kita. Kualitas keimanan kita. Ketika kita sudah paham benar makna berkurban maka akan lebih mudah bagi kita untuk ikhlas. Seperti halnya zakat membersihkan harta, maka berkurban dengan niat untuk Allah insya Allah juga bisa membersihkan harta kita. 

U = Usaha yang halal. Sahabat, hewan kurban yang diserahkan kepada panitia bukan untuk pamer atau apapun. Murni tujuannya untuk Allah sebagai bakti dan cinta kita padaNya. Lalu, bagaimana jika kita menyerahkan hewan kurban hasil korupsi perusahaan, mencuri uang, atau jalan haram lainnya? Mungkinkah Allah SWT menerimanya, mungkin panitia tidak tahu bahkan mereka tak perlu tahu dari mana hewan kurban itu berasal. Tapi Allah yang Maha Mengetahui tidak pernah tidur, Dia tahu bahkan apa yang tersembunyi dari dalam hati makhlukNya. Tak malukah kita di hadapanNya? Termasuk di dalamnya jika kita berhutang untuk membeli hewan kurban. Sekali lagi, hukum berkurban adalah sunnah muakkadah bukan wajib. Allah yang Maha Mencintai makhlukNya tak akan membebani kita dengan sesuatu yang berat yang tak mampu kita pikul. (QS. Al Baqarah ayat 286). Sebab itu, lebih afdhol jika kita menyerahkan hewan kurban yang berasal dari keringat kita sendiri, jerih payah dan usaha kita. Misalnya dengan menabung per bulannya, Insya Allah yang seperti itu lebih menimbulkan rasa bahagia tersendiri dan lebih mengena di hati kita sekaligus membuat cinta iman kita bertambah kepadaNya. 

R = Religi (agama) yang benar. Perlu sahabat ketahui bahwa bukan hanya Islam yang menganjurkan pemeluknya untuk berkurban. Di sini penting bagi kita untuk meluruskan tujuan kita berkurban. 

B = Bertaubat. Berkurban dengan niat untuk Allah merupakan sarana untuk bertaubat. Mengharapkan keridhaan Allah dan insya Allah bisa menghapus dosa-dosa kita. 

A = Amanah. Daging kurban yang sudah disembelih harus dibagi tiga, yaitu sepertiga untuk orang yang berkurban, sepertiga untuk disedekahkan dan sepertiga sisanya untuk dihadiahkan kepada orang lain. Sungguh memalukan, jika belum juga disembelih, shahibul qurban sudah meminta yang macam-macam kepada panitia. Minta bagian kakinyalah, ekornyalah, atau bagian kepalanyalah. Ketika kita sudah menyerahkan hewan kurban kita kepada panitia, ya sudah, kita amanahkan, kita percayakan seutuhnya pada panitia. Insya Allah panitia yang bertugas sudah paham tentang pembagiannya. Tak perlu kita ungkit-ungkit lagi. 

N = Nikmat. Ya, orang yang berkurban apalagi disertai keikhlasan tinggi merupakan kenikmatan tersendiri. Betapa bahagianya ketika menyadari bahwa kita telah melaksanakan perintahNya. Itu menjadi kepuasan tersendiri bagi kita yang berkurban. Ada rasa haru yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata.

Mudah-mudahan apa yang saya bagikan ini bisa menjadi pencerahan dan inspirasi serta menumbuhkan semangat berkurban. Amin.






Referensi gambar dan materi :
  1. Kajian mingguan 
  2. http://id.wikipedia.org/wiki/Kurban_(Islam)
  3. http://monster-bego.blogspot.com/2012/10/kisah-idhul-adha.html 
  4. http://edidermawan.blogspot.com/2012/10/koleksi-kartu-ucapan-idul-adha-1433-h.html


Tidak ada komentar :