Selasa, 18 Agustus 2015

Makanya, Jangan Sombong!

Review buku baru, ah.

Kali ini saya akan mereview novel baru yang masih anget-anget kuku. Istilah cakepnya, baru keluar dari oven penerbit. Yuk, cus... 

Sebentar, kayaknya saya perlu menampilkan penampakan covernya dulu, deh, biar afdhol reviewnya. 


Eng... ing... eng... Tarararaaaaaa..........



Ehm, sengaja ni novel nampangnya bareng sama kakak-kakaknya. Biar kelihatan akur. Hehehe....





Untuk wanita seperti saya, yang setiap harinya berkutat pada jarum suntik dan infus, saya cuma bisa mengerutkan kening  saat membaca berbagai istilah sepakbola yang banyak bertebaran di novel ini. Iya sih, saya sering nemenin suami nonton bola, tapi nemeninnya sambil tidur, eh ujug-ujug ketiduran. Saya juga cukup puas cuma dengan ngelihat kotakan kecil di ujung kanan tivi, yang menampakkan skor dua kubu. Udah itu tok. Walau begitu, saya tetep dengan sukacita mengkhatamkan novel ini. Karena saya tahu, saya akan cekikikan cantik. Bukan itu aja, yang jelas saya akan disuguhi cerita yang pesan moralnya langsung ke hati. Kayak buku-bukunya mas penulis sebelumnya.

Okey. Saya nggak mau bikin mas penulisnya jadi bertambah komedonya gara-gara kata-kata saya tadi, jadi skip aja deh. To the point yah.

Begini, dalam dunia sepakbola, satu hal yang kutahu, itu adalah permainan tim. Bukan saya atau kamu yang main. Tapi kita. Jadi, kalah menang adalah hasil kerja bersama.
Cerita saat Seto cs berhasil masuk final namun pas finalnya pemain intinya malah sibuk sendiri - sendiri, membuat saya  ingat, gimana luar biasanya reaksi masyarakat Indonesia saat timnas kita  lolos melaju ke final dalam sebuah ajang sepakbola internasional, pemainnya diundang sana-sini, dinner apalah apalah,  terikat kontrak iklan ini itu. Semua terlena. Walaupun nggak kayak di novel ini yang pemain intinya malah pada ngundurin diri saat final, tapi ending keduanya sama. Kalah. Di saat itulah semuanya baru menyadari sesuatu. Ada sikap kita yang salah saat menyikapi kemenangan. Nggak perlu munafik untuk mengakui ada sejumput kesombongan yang menguasai dada.

Nah, buat ente yang masih ada rasa sombong, silakan baca novel ini. Dijamin ente nggak bisa berkutik manis. Apalagi berkutek ria. *Yaelah, mau baca novel apa meni pedi*. Duh, kok jadi gagal fokus. Skip lagi. 

Satu hal yang nampaknya ingin ditekankan oleh mas penulis, yaitu JANGAN SOMBONG. Ya, jangan sombong, kalau ente nggak ingin dapat akibat dari kesombongan itu. Allah jelas nggak suka sama orang yang sombong. Semesta alam pun ikut mengutuk mereka yang sombong. Pengen bukti? Silakan baca novel ini. 

Saya sangat suka sama tokoh utama yang begitu gigih mempertahankan sekaligus memperjuangkan idealisme dan cita-citanya. Keren. Walaupun semua sahabat meninggalkannya. Tapi dia tetap bertanggungjawab sampai akhir. Menurut saya, itulah pemimpin sejati.

Oh ya, buat kamu yang punya eskul sekolah yang udah lama dibekukan sama kepsek, terus kamu pengen eskul itu diaktifin lagi, kamu bisa ngintip triknya Seto cs di novel ini. Ada? Ada dong. Tapi inget, jangan sombong, ya. 

Penasaran, kan?
Apah? Gimana ceritanya? 

Baiklah, jadi begini, ada seorang pemuda yang merasa punya passion dalam bidang sepakbola. Kenapa? Karena dia udah ratusan kali kalah adu Tazos, Tamiya, dan Bayblade. Baru setelah teman-temannya semua kena demam Captain Tsubasa, dia pun unjuk kebolehan. Ya, penampilannya di lapangan nggak bisa diremehkan. Tapi, sayang,  SMA tempatnya menuntut ilmu ternyata nggak punya eskul sepakbola, karena tuh eskul udah dibekukan dalam lemari besi oleh Pak Kepsek. Alasannya? *Ih, nanya mulu.

Maka, dimulailah perjuangan demi mencairkan si eskul itu. Selanjutnya .... 

Baca aja deh sendiri, rekomended pokoknya. Terutama buat kamu yang mengaku cinta sama olahraga ini dan pengen jadi bagian di dalamnya.


Okey...






1 komentar :

Haris Firmansyah mengatakan...

Wah, koleksinya hampir lengkap ya. Reviewnya juga ciamik nih. Bisa menangkap makna-makna tersirat yang saya sebar di novel. Ceilah. :D