Senin, 14 September 2015

Yuk, Proteksi Diri Kita Dari Kanker Cerviks




seminar nasional kanker serviks hari Sabtu, 12 September 2015

 
Apa kabar temans? Sebenarnya saya mau posting tulisan ini sejak hari Sabtu yang lalu, setelah saya mengikuti seminar nasional kanker cerviks (kanker mulut rahim) bersama dr. Boyke, tapi oh tapi, anak saya demam dan mengharuskan saya untuk fokus mengurusnya. Bukan itu saja ternyata paket internet saya juga habis, akhirnya tertundalah postingan ini.
Nah, langsung saja, yah, saya paparkan oleh-oleh seminar bersama dr. Boyke hari  Sabtu kemarin di Gedung Patra Graha Cilacap. 

 
dr. Boyke Dian Nugraha, Sp. OG. MARS siap memberi ulasan lengkap tentang kanker serviks


Jadi begini, temans, kanker cerviks sudah menjadi pembunuh nomor 2 bagi wanita setelah kanker payudara. Malahan kadang-kadang dia juga jadi pembunuh nomor wahid. Istilah jawanya, unda undi urutannya. Ngeri, kan? Asal tahu saja, pada stadium awal, kanker cerviks tidak menimbulkan gejala apapun.  

Faktor Penyebab

Menurut pemaparan dr. Boyke, secara umum penyebab kanker cerviks adalah cinta yang salah. Ya, 85 % penyebab kanker cerviks adalah perselingkuhan dan seks bebas. Adanya “WIL” atau “’PIL” yang merusak keharmonisan rumah tangga. Sisanya, 15% disebabkan oleh pemakaian handuk, toilet, alat kedokteran yang tidak steril, lingkungan, dan air kotor. 

Namun, penyebab utama kanker serviks adalah karena masuknya virus HPV (Human Papilloma Virus) onkogenik. Virus ini bersifat umum, berbasis DNA dan stabil secara genetic. Stabilitas genetic ini berarti infeksi akibat virus dapat dicegah melalui vaksinasi dalam jangka waktu yang panjang, tidak seperti virus influenza, misalnya, dia berbasis RNA yang kerap berubah sehingga membutuhkan vaksinasi secara teratur. Ada lebih dari 100 jenis tipe HPV yang sudah teridentifikasi, namun HPV tipe 16, 18, 45, dan 3 seraca bersamaan bertanggung jawab atas 80% kasus kanker cerviks di seluruh dunia. 

Bagaimana virus ini bisa masuk dan menginfeksi tubuh? HPV dapat dengan mudah ditularkan melalui aktifitas seksual, bahkan tak perlu sampai penetrasi, melalui sentuhan kulit di wilayah genital pun sudah cukup untuk membuat virus ini masuk. Apalagi jika daya tahan tubuh sedang melemah, virus ini bisa dengan leluasa beranak pinak. 

Saat virus ini masuk dan mulai menginfeksi tubuh, akan mulai terbentuk sel-sel yang berbeda dengan sel normal. Jika daya tahan tubuhnya baik, biasanya virus itu bisa langsung mati, atau jika orang itu sudah pernah vaksinasi HPV, maka virus HPV itu juga gagal memperbanyak diri. Orang itu pun sembuh dari virus HPV. 

Namun, jika seseorang itu belum pernah vaksinasi HPV dan tidak menjalankan pola hidup sehat apalagi sering berganti pasangan seks ditambah daya tahan tubuhnya sedang melemah, virus HPV bisa dengan mudah masuk lagi dan menjadi sel-sel prekanker. Jarak antara sejak terinfeksi virus ini sampai dengan muncul gejala yang biasanya sudah stadium lanjut mencapai 10 sampai 15 tahun. Oleh karena itu, setia pada pasangan sudah cukup menjadi tameng yang kuat dari masuknya virus ini.

Faktor resiko

Faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya kanker cerviks antara lain :
1.     Wanita yang menikah atau melakukan hubungan seksual pertama kali di bawah usia 20 th. Hal ini karena organ kewanitaannya belum matang dan sempurna.
2.     Wanita yang menikah lebih dari 2 kali atau lebih. Hal ini bisa menyebabkan infeksi silang, karena berbedanya kondisi alat kelamin setiap laki-laki.
3.     Wanita yang memiliki pasangan seks yang telah melakukan hubungan seksual lebih dari 2 kali dengan wanita lain.
4.     Wanita yang pasangannya tidak disunat.
5.     Wanita dengan riwayat kanker pada keluarganya.

Lalu bagaimana pencegahannya?

Dilihat dari cara masuknya virus HPV, setia pada pasangan sepertinya sudah merupakan tindakan efektif sekaligus menutup pintu masuknya virus ini ke dalam tubuh. Selain itu ada juga cara pencegahan yang lain:
1.     Pola hidup sehat
       Hindari makanan yang mengandung tinggi lemak. Perbanyak konsumsi makanan yang mengandung kadar protein tinggi, buah-buahan yang mengandung beta karoten dan vitamin C, seperti wortel, apel, dan tomat. Beberapa vitamin dan mineral (Vitamin A, E, B6 dan selenium) yang dikenal sebagai senyawa antioksidan yang dapat meningkatkan system kekebalan tubuh (imunitas) terhadap penyakit kanker dengan cara menyerap radikal bebas (partikel yang merusak sel tubuh).
2.     Hindari merokok
3.     Hindari stress yang berkepanjangan
4.     Perilaku seks yang sehat, tanpa “PIL” atau “WIL”
5.     Olah raga
6.     Vaksinasi (paling efektif)
7.     Deteksi dini dengan pemeriksaan IVA, papsmear/papnet

Vaksinasi kanker cerviks

Vaksinasi ini bisa dilakukan pada wanita usia 9-55 tahun. Pemberian vaksinasi pada usia 9-25 th proteksinya bisa mencapai 95%, sedangkan vaksinasi yang dilakukan pada usia di atas 25 th, proteksinya mencapai 85%. Jadi, yuk, sayangi tubuh kita, jaga organ kewanitaan kita dengan melakukan vaksinasi ini. Vaksinasi ini dilakukan sebanyak 3 kali. Pada 0 bulan, 1 bulan berikutnya, dan 6 bulan pasca vaksinasi pertama. Tidak ada efek samping dari vaksinasi ini, paling banter nyeri setelah disuntik. Hehehe. Harga vaksinasi ini terbilang lumayan, kurang lebih 750rb sekali vaksin. Tapi tentunya jumlah ini jauh lebih murah ketimbang pengobatan kanker cerviks yang mencapai ratusan juta.

Deteksi dini kanker cerviks

Pada stadium awal, kanker cerviks biasanya tanpa gejala. Baru ketahuan setelah berada dalam stadium lanjut. Cara paling mudah mendeteksi adanya stadium awal adalah dengan melakukan pemeriksaan IVA, yang bisa dilakukan dengan mudah dan murah di setiap puskesmas.
Papsmear juga dianjurkan dilakukan tiap 6 bulan atau setahun sekali guna memproteksi diri, terutama sekali bagi wanita yang sudah menikah. Yang dimaksud dengan papsmear adalah pemeriksaan lendir dari leher rahim dengan alat spatula atau sejenis sikat halus. Nantinya lender itu akan diperiksa oleh patolog di bawah mikroskop dengan memisahkan sel normal dan sel abnormal. Namun, pemeriksaan ini tingkat ketelitiannya masih kurang. Ada pemeriksaan yang namanya papnet, metodenya sama dengan papsmear, namun  diperiksa oleh computer canggih yang sangat sensitif terhadap sel abnormal atau sel prekanker bahkan dalam jumlah kecil.
Meski begitu, apapun pemeriksaannya, jauh lebih baik daripada tidak pernah melakukan pemeriksaan sama sekali.

Okey, segitu dulu pemaparan saya tentang hasil seminar tentang kanker cerviks kemarin. Sebenarnya masih ada pembahasan tentang gizi bagi pasien kanker serviks (dipaparkan oleh dr. Madya Ardi Wicaksono, M. SI) dan olahraga yang tepat bagi pasien kanker serviks (dipaparkan oleh dr. Susiana Candrawati, Sp. KO), Insya Allah akan saya ulas lain waktu. Mudah-mudahan bermanfaat.

Sumber :
1.     Makalah dan pembahasan materi dari dr. Boyke Dian Nugraha, Sp. OG. MARS

Tidak ada komentar :