Selasa, 29 November 2016

Dunia, Kesetiaan, dan Sahabat

Kepikiran nggak sih, ada seseorang yang punya harta triliyunan rupiah tapi nggak terdeteksi sama wartawan? Sehingga nggak ada satupun media yang menyebut namanya sebagai salah satu orang terkaya di dunia?
Percaya nggak sih, kalau sukses dunia bisa didapat dari kerja cerdas di samping kerja keras? Selalu melangkah lebih maju, inovatif, dan kreatif, namun setelah semua itu ada di tangan, akhirnya memilih hidup dengan kebersahajaan?

Atau, apa arti sahabat sejati menurutmu? Apa arti kesetiaan bagimu?



Novel ini menjawab semuanya. Tentang kamu. Tentang indahnya menyulam rasa sabar. Tentang berharganya seorang sahabat. Tentang cinta yang teruji. Tentang prinsip yang tak goyah oleh duniawi.

Sabtu, 26 November 2016

Remaja Keren, Remaja Beken



Hari Sabtu ini saya ingin meresensi buku-buku baru. Rasanya rugi kalau buku yang berkualitas nggak di-share. Tujuannya? Tentu saja agar pembaca bisa mendapatkan manfaat dari buku yang saya resensi. Iya, saya tahu. Selera pembaca belum tentu sama kayak saya. Saya hanya ingin berbagi info soal buku-buku yang recommended. Itu saja. 






Buat saya yang udah meninggalkan angka 30, menjadi remaja adalah kenangan paling mengesankan. Gimana nggak? Di usia remaja, saya punya teman-teman yang seru. Jalan-jalan di alun-alun pas malam minggu bareng sahabat-sahabat saya. Trus nginep di salah satu rumah sahabat saya. Paginya main ke laut. Pokoknya hari-hari ceria terus. Kayak nggak ada beban gitu. 

Masuk SMA, saya suka sama salah satu teman. Tapi saya pendam hingga sekarang, kenapa? karena saya merasa banyak hal yang lebih penting yang harus saya lakukan ketimbang memelihara rasa yang belum tentu berbalas. #curcol

Suatu Hari Kala Empati Itu Terasah


Mengajarkan empati sama persis seperti saya mengajarkan anak saya agar suka membaca. Butuh proses. Awalnya, membacakan dia buku-buku cerita sebelum tidur. Sekarang dia lebih suka baca sendiri. 

Empati bukanlah sesuatu yang bisa terjadi begitu saja. Apalagi empati itu erat kaitannya dengan hubungan sesama manusia. Nggak bisa lah dianggap sepele. Santai bilang, nanti juga anknya paham sendiri. No, Mom. 

Menurut KBBI, empati adalah keadaan mental yang membuat seseorang merasa atau mengidentifikasikan dirinya dalam keadaan perasaan atau pikiran yang sama dengan orang atau kelompok lain. Intinya empati tuh kita bisa merasakan apa yang orang lain rasakan. Kita memosisikan diri kita sebagai orang lain. Empati ini tingkatannya lebih tinggi dari simpati. 

Minggu, 13 November 2016

Menikmati Liburan di Puncak Pass Resort



Sesibuk apapun kita, tak ada salahnya untuk merencanakan liburan. Bersama keluarga atau teman-teman bahkan bersama orang yang kita sayangi. Selain dapat me-refresh otak, liburan bresama akan membuat hubungan kita menjadi lebih harmonis.

Belum punya destinasi liburan? Ya, mungkin banyak dari Anda yang belum memiliki planning wisata untuk berlibur. Mungkin karena tugas yang menumpuk, pekerjaan yang menyita waktu, atau urusan-urusan rumah tangga yang wajib dikerjakan. Bagi Anda yang ingin refreshing, pilihan tempat yang tepat adalah berlibur ke daerah puncak karena suasananya yang nyaman, sejuk, dan tenang.
  
Baca juga : Istirahat Ala Aisha


Ketika berlibur lebih dari sehari sebaiknya Anda mencari penginapan atau hotel terlebih dahulu, agar lebih mudah dapat melalui OTA (Online Travel Agent) yang sudah dipercaya, salah satunya adalah Traveloka. Jika sudah mendapatkan penginapan, Anda akan lebih nyaman beribur. Salah satu penginapan yang menjadi referensi di daerah Bogor  adalah Puncak Pass Resort. 


Jumat, 04 November 2016

Resep Perkedel Wortel

Sebenarnya sih saya agak malu gitu mau posting resep masakan. Secara, saya nggak hobi berada di dapur. Cuma pas lagi insyaf aja saya main ke dapur. Masak apa gitu yang sederhana. Masak air contohnya. Hehehe. Berhubung saya udah kadung janji, baiklah, saya coba posting ya. Mudah-mudahan hasilnya enak kayak punya saya. Ini ceritanya saya lagi semangat bikin makanan karena Pak Suami yang request.

Mulai, ya. Bismillah... 


Bahan-bahannya 
 
Bahan-bahan yang diperlukan :
  • ampas wortel
  •  tahu putih
  •  penyedap rasa (selera)
  •  telur (di rumah saya pakainya telur ayam kampung, jadi saya pakai 2. Kalau mau pakai telur ayam biasa cukup 1 saja)
  • bumbu yang dihaluskan : bawang putih, lada bubuk, garam secukupnya, pala seiris 
Cara membuatnya :

Bumbu dihaluskan



Tahu putih dihancurkan juga lalu dicampur ke dalam wadah ampas wortel, jangan lupa bumbunya dimasukkan juga

     
ini penampakan wortel plus tahu plus bumbunya. Jangan lupa telurnya dimasukkan juga. Cicipin dulu, kalau kurang gurih tambahkan penyedap rasa
Trus dibentuk bulat-bulat sesuai selera. Abis itu digoreng dalam minyak panas. Apinya jangan terlalu besar.

Ini perkedel yang udah jadi. Abaikan yang gosong, ya. Rasanya tetap gurih. Apalagi dimakan sama sambal. Hmmm....


Hehehe, maaf yaa, saya nggak bisa bikin resep macam yang di buku-buku resep masakan. Selamat mencoba.

Cari yang Ori, Jangan Bajakan






Kemarin saya baca postingan status teman di facebook tentang buku yang dijual di sebuah pameran buku ternyata KW semua. Saya juga pernah pergi ke pameran buku di kota saya, terus pulang nggak dapet apa-apa. Pak Suami sampai heran, padahal tadi berangkatnya udah semangat banget. Bahkan blio dengan rela hati ngambil uang di ATM demi istrinya berburu buku baru. 

Iyalah, saya batal beli buku di sana. Bayangin saja, masa buku-bukunya Pramudya Ananta Toer cuma seharga dua puluh lima ribu rupiah. Asal tahu aja di ECC (Elex Comic Center), toko buku yang menyediakan buku-buku gramedia di Cilacap, buku-bukunya Pak Pramudya harganya ratusan ribu, Sist. Nyungsep banget kan harganya. Padahal si pedagang itu bawa spanduk penerbit loh. Seolah-olah dia dari penerbit tertentu. 

Apa kesimpulannya? Saya sih nggak berani men-judge kalau itu buku KW. Cuma, perasaan saya bilang begitu. Itu baru buku-bukunya Pak Pramudya. Buku Harry Potter malah dijual dua puluh ribuan tuh satu bukunya. Belum lagi buku-bukunya Tere Liye, Dee Lestari, dan novel-novel karya penulis ternama lainnya. Dijual di bawah harga standar. Jadi tambah ilfill mau beli. Tampilannya sih menarik, diplastikin gitu, kayak aslinya. Tapi, saya kok mau beli rasanya nggak tega gitu. Kebayang gimana susahnya proses penulisan itu. Udah jadi, ditawarkan ke penerbit, belum tentu satu penerbit langsung diacc. Kalau nggak diacc, pindah ke penerbit lainnya, trus kalau diterima masih harus melewati serangkaian proses editing, revisi, dan sebagainya hingga jadi sebuah buku. 

Bener, buku yang kita baca itu nggak sim salabim jadi. Prosesnya panjang. Penerbit juga ngeluarin dana yang nggak sedikit untuk mencetak sebuah buku. Makanya mereka bakalan pilih-pilih naskah yang kira-kira diterima pasar. Gitu. 

Juicer, Wortel, dan Mataku

foto diambil di sini





Sejak seminggu yang lalu, tiba-tiba aku merasa segalanya terasa seperti kabur. Nggak jelas gitu. Awalnya aku kira cuma efek kecapean aja. Maklum, seminggu ini setiap pulang kerja pasti hujan-hujanan. Pakai mantel sih sebenarnya, tapi ya tetep aja ada bagian yang kena hujan.

Eh, tapi semakin ke sini juga sama saja. Mblereng, istilah jawanya. Nggak terlihat jelas kalau nggak dilihat dengan jarak dekat. Sebenarnya sudah lama aku menderita silinder. Sempat beli kacamata. Tapi nggak nyaman dipakai, padahal katanya itu udah sesuai sama kebutuhan mataku. Framenya pun aku yang pilih sendiri. Daann... sampai sekarang nggak kupakai lagi. Padahal harganya lumayan mahal loh. Tiga ratus ribu lebih kalau nggak salah ingat. Iya, bagi aku uang segitu nilainya gede, bisa buat belanja keperluan sebulan di koperasi RSI. Temenku pernah bilang, katanya kacamata harga segitu termasuk murah. Murah? Iya sih, aku belinya pas promo gitu. Hehehe.

Kok aku malah curcol soal kacamata sih? Intinya aku nggak pede pakai kacamata. Udah. Itu doang. Terus gimana sama mata aku yang mulai mblereng ini? Kata Pak Suami sih, itu gara-gara aku keseringan lihat hape. Pendapat blio langsung diaminin sama Aisha. Sedangkan mamaku bilang, katanya aku keseringan baca buku. Entahlah.

Terus, Mama nyaranin aku buat minum jus wortel setiap hari. Baiklah. Saya pun akhirnya memulai ritual itu. Minum jus wortel. 

Selasa, 07 Juni 2016

Yuk, Silaturrahim

 


Assalamua'alaikum...

Alhamdulillah, kita dipertemukan dengan bulan yang mulia ini. Bulan Ramadan. Semoga kita bisa mengisi hari-hari di bulan ini dengan memperbanyak amal ibadah. Semoga kita semua mendapat derajat taqwa. Amiin.

6 Juni 2016 atau tepatnya 1 Ramadan 1437 H adalah hari pertama di bulan Ramadan. Jujur aja sih, saya  merasa rugi di hari pertama ini. Kenapa? Bayangin aja, saya tidur habis shalat subuh eh bangun udah jam 7 pagi. Itu pun dibangunin sama anak saya. Wah, kelimpungan kan saya jadinya. Mana cucian piring numpuk, cucian baju di mesin cuci ikut melambai, belum lagi setrikaan yang menggunung karena udah sejak kapan hari saya belum berniat mencicil nyetrika. 

Langsung deh saya bergegas beberes ini itu. Pokoknya harus selesai sebelum jam sebelas, tekad saya. Iyalah, saya kan juga mesti masak buat buka. 

Rabu, 01 Juni 2016

Membaca, Memahami, Mengoneksi





Saya beneran jatuh cinta sama kutipan yang saya jadiin judul artikel ini. Kutipan itu saya dapat dari halaman terakhir novel biografi Muhammad SAW karya Kak Tasaro GK. Nanti saya ceritain secara singkat tentang buku ini di bawah. Kutipan itu sejenis dengan daftar pustaka kalau di makalah-makalah atau buku-buku lainnya. Kedengaran asyik kan bacanya. Dengan kutipan itu, saya kayak diajak nggak hanya membaca tapi juga memahami isinya sekaligus menghubungkannya dengan kehidupan untuk kita terapkan kemudian. 

Hmm... jujur saja sih, saya ngerasa tersindir banget. Ya, dari sekian banyak buku yang saya baca, cuma sedikit yang saya pahami isinya. Kebiasaan buruk saya adalah saya hanya membaca buku yang saya beli itu cuma sekali. Terus disimpan. Jadi jangan heran kalau minjem buku saya yang udah dari kapan tahun, tapi sampul masih rapi nyaris kayak baru. Ini mungkin yang bikin Pak Suami jadi rusuh pengen ngejual koleksi saya. Katanya kalau buku-buku saya dijual udah bisa buat beli rumah. Lebay banget, kan? Saya monyong dibuatnya. 

Nah, ini ceritanya lagi blogwalking, terus nemu giveaway-nya Mbak Anne Adzkia, ndilalah temanya pas banget dengan curhatan saya soal koleksi buku-buku saya. Akhirnya saya puas-puasin deh curhatnya. Hehehe. 

Selasa, 17 Mei 2016

Ahad Bersama Musa dan Abinya





Assalamu'alaikum ... 
Lama banget saya nggak buka blog, sampai laba-laba bersarang di mana-mana. Hehehe. Mengawali semangat menulis yang nggak tahu kenapa jadi menggebu-gebu ini, saya ingin memberi oleh-oleh kajian hari Ahad kemarin, 15 Mei 2016, dalam acara Tabligh Akbar di Masjid Agung Darussalam, Cilacap. Pembicaranya adalah La Ode Abu Hanafi, ayahanda dari Musa, yang beberapa waktu lalu berhasil meraih juara 3 Musabaqah Hifzil Quran di Mesir. Keren, ya. Eh, ada Musa juga loh.

Namanya juga anak-anak, ya nggak lepas dari ciri khasnya. Selama kajian, Musa lebih suka ngemil. Saat diminta untuk membacakan salah satu surat panjang, air mukanya sedikit cemberut, kesal karena acara ngemilnya terganggu. Namun toh, Musa tetap mau membacakan beberapa ayat dari surat panjang itu. Setelah itu, dia senyum-senyum gembira ke abinya sambil kembali ngemil. Bukan itu saja, ketika tengah membacakan satu surat sebelum kajian berakhir, Musa malah bersendawa. Kebanyakan ngemil mungkin, ya. Tentu saja semua yang ikut kajian tertawa melihat tingkah lucunya. 

Ada juga sesi tanya jawab hadist dan menyambung ayat dari beberapa penguji, baik dari seorang ustaz dan juga dari peserta kajian. Hebatnya, Musa bisa menyelesaikan semua itu dengan sempurna. Seorang penguji bahkan terharu hingga meneteskan air mata. Subhanallah.

Dalam kajian kemarin, Ust. Abu Hanafi menjelaskan, bahwa ada banyak faktor, dari luar dan dari dalam, yang mempengaruhi akhlak seorang anak. Faktor-faktor tersebut juga erat kaitannya dengan hak yang seharusnya si anak dapatkan dari orangtuanya, terutama dari ayahnya. Kalau saya simpulkan, kajian kemarin secara tidak langsung, menjelaskan trik-trik beliau mengajari Musa dan anak-anaknya yang lain dalam menghapal Al Qur'an. Ternyata umi dan abinya Musa sangat kompak dalam mendidik anak-anak mereka.