Selasa, 07 Juni 2016

Yuk, Silaturrahim

 


Assalamua'alaikum...

Alhamdulillah, kita dipertemukan dengan bulan yang mulia ini. Bulan Ramadan. Semoga kita bisa mengisi hari-hari di bulan ini dengan memperbanyak amal ibadah. Semoga kita semua mendapat derajat taqwa. Amiin.

6 Juni 2016 atau tepatnya 1 Ramadan 1437 H adalah hari pertama di bulan Ramadan. Jujur aja sih, saya  merasa rugi di hari pertama ini. Kenapa? Bayangin aja, saya tidur habis shalat subuh eh bangun udah jam 7 pagi. Itu pun dibangunin sama anak saya. Wah, kelimpungan kan saya jadinya. Mana cucian piring numpuk, cucian baju di mesin cuci ikut melambai, belum lagi setrikaan yang menggunung karena udah sejak kapan hari saya belum berniat mencicil nyetrika. 

Langsung deh saya bergegas beberes ini itu. Pokoknya harus selesai sebelum jam sebelas, tekad saya. Iyalah, saya kan juga mesti masak buat buka. 


Singkat cerita, semua tugas rumah tangga berhasil saya selesaikan. Nggak semua ding, belum sempat nyetrika juga. Hehehe. Tapi siang itu saya dan suami udah berencana berkunjung ke rumah adik suami yang seminggu lalu melahirkan. Saya dan suami baru sempat nengokin dia karena pas adik ipar saya masuk rumah sakit, anak saya sedang demam. Udah gitu saya dan suami baru hari ini sama-sama libur. 

Kedatangan saya dan suami ke rumah adik suami saya itu, saya niatin silaturrahim. Lama banget kami nggak ketemu, terakhir ketemu waktu dia nikahan. Padahal kami sama-sama di Cilacap. Tapi, ya itu, suami saya tiap harinya pulang mendekati maghrib. Giliran dia libur, saya yang lagi ngeshift. 

Ngomong-ngomong silaturrahim nih, saya jadi inget ceramah ustaz waktu kajian di rumah sakit tentang manfaat silaturrahim. Hemm, sambil buka buku catatan kajian saya coba meringkas dikit, ya. 

Biar gampang kita memahami manfaat silaturrahim, kita bisa membaca dan mencermati hadist-hadist tentang silaturrahim. Antara lain, "Barangsiapa yang ingin diluaskan rezekinya atau dikenang bekasnya (perjuangan atau jasanya), maka hendaklah dia menghubungkan silaturrahim." (HR Muslim)

Ada juga, "Barang siapa yang senang dipanjangkan umurnya, diluaskan rezekinya, dan diajuhkan dari kematian yang buruk, maka hendaklah bertaqwa kepada Allah dan menyambung silaturrahim." (HR Imam Bazar, Imam Hakim). Lainnya lagi, "Tidak akan masuk surga orang yang memutuskan hubungan silaturrahim." (HR Imam Muslim).

Kesimpulannya, manfaat silaturrahin antara lain :

1.  Diluaskan rezekinya
     Rezeki itu datangnya dari arah yang nggak disangka-sangka. Beneran. Waktu itu suami saya yang baru selesai dari kerja proyeknya, sengaja berkunjung ke rumah teman lamanya untuk silaturrahim karena sudah lama tidak bertemu. Eh, ternyata, sang teman memberitahu suami saya, tentang perusahaan A yang membuka lowongan pekerjaan. Juga perusahaan B di kota C yang juga menerima lamaran via email. Suami saya yang sedang mencari pekerjaan tentu saja sangat berterima kasih, padahal niat awalnya cuma ingin tahu kabar sang teman. Saya juga pernah menengok sahabat yang baru saja melahirkan, trus beliaunya ngasih saya resep dan doa mujarab supaya cepat hamil. Saya yang udah nikah sepuluh bulan belum hamil juga akhirnya bisa hamil dengan bantuan resep dan doa yang diajarkan sahabat saya itu. 

Rezeki itu nggak melulu berupa uang. Informasi-informasi berharga dan ternyata sangan kita butuhkan itu juga bisa melebarkan jalan kita untuk mendapatkan rezeki. Setuju?

2. Dikenang kebaikannya
    Ada seorang sesepuh di lingkungan saya yang sangat dihormati. Dia orang shalih yang gemar bersilaturrahim. Meskipun hidup dari pensiunan yang nggak seberapa, tapi beliau yang membayarkan listrik mushala, paling pertama menengok ketika mendengar tetangga yang sakit, rajin mengajak warga untuk berbuat kebaikan dengan kajian-kajian rutinnya plus mengajarkan iqra kepada anak-anak tiap sore tanpa meminta bayaran. Nah, ketika meninggal, semua warga merasa kehilangan sosok yang menjadi panutan itu. Namanya Mbah Abu. Mudah-mudahan Allah melapangkan kuburnya, mengampuni dosa-dosanya, dan memndapat tempat terbaik di sisiNya. Amiin.

3. Dipanjangkan umurnya
    Allah telah menetapkan umur bagi tiap hamba-hambaNya. Umur yang barokah dan bermanfaat tentu saja menjadi harapan bagi setiap manusia. Mudah-mudahan kita termasuk di dalamnya.

4. Khusnul khatimah
    Akhir-akhir ini ramai diberitakan seorang ustazah yang meninggal saat sedang membaca surat yasin sebelum memulai pengajiannya. Ada juga berita tentang jamah haji yang meninggal saat sedang sujud menunaikan shalat di Masjidil Haram. Itulah salah satu contoh akhir hidup yang baik. Kita semua semua tentu berharap mendapat kematian dalam keadaan yang diridhoi oleh Allah SWT. Amiiin.

5. Kecintaan dalam keluarga
    Silaturrahim berasal dari kata 'shilah' yang artinya hubungan, dan 'rahim' yang artinya sayang, persaudaraan, atau rahmat Allah SWT. Jadi, silaturrahim berarti menghubungkan persaudaraan dan kasih sayang pada sesama manusia. Dengan bersilaturrahim akan menambah rasa sayang dan hormat kita pada anggota keluarga, sahabat, tetangga. Lihat saja, sesama saudara yang tak saling mengunjungi, tentu akan menimbulkan prasangka yang bukan-bukan. Seseorang yang tak mau berbaur dengan tetangganya umumnya akan dikucilkan warga lainnya. 

6. Kunci masuk surga
    Saat kita bersilaturrahim dengan tetangga atau saudara kita akan tahu kabar mereka, mungkin juga masalah mereka. Inilah kesempatan kita meraih pahala Allah. Kita bisa membantu mereka dengan harta kita atau sekedar doa kita. 

Oh ya, silaturrahim itu nggak harus berkunjung dari rumah ke rumah. Pertemuan warga kayak arisan RT, kerja bakti, atau sekedar duduk-duduk di teras rumah bersama para tetangga bisa juga jadi lahan silaturrahim. Kalau di bulan Ramadan ini, shalat tarawih di mushala bisa menjadi alternatif silaturrahim. Gimana nggak? Mereka yang jarang ke mushala jadi tiap hari ke mushala. 

Seperti shalat tarawih kedua di musahala belakang rumah. Mungkin masih awal-awal puasa jadi musahala masih ramai, biasanya menjelang akhir Ramadan mushala di belakang rumah saya semakin sepi. Entah di mushala atau masjid di tempat lain. Kajian ba'da shalat isya tadi sebelum shalat tarawih membahas tentang anjuran supaya kita menjaga kemurnian puasa kita. Jangan sampai pahala puasa kita dikurangi karena kita gagal menahan hawa nafsu, bukan hanya nafsu makan minum, tapi juga nafsu bergunjing, berkata bohong, mencuri, dan sebagainya. Karena hakikatnya tentang puasa kita hanya kita dan Allah saja yang tahu. Puasa kita pun akan sia-sia jika kita berniat puasa hanya karena musimnya orang puasa bukan karena iman dan taqwa kita pada Allah SWT. Tentu kita nggak mau rugi kayak gitu, kan? 

Saya jadi tersentil sendiri mengingat saya juga masuk kategori jarang bersilaturrahim ke rumah saudara. Tulisan saya ini sih saya tujukan buat diri saya sendiri, mengingatkan saya agar rajin bersilaturrahim. Mudah-mudahan teman-teman yang membacanya juga mendapat manfaat dari artikel saya ini. Makanya mumpung masih bulan Ramadan, pahala dilipatgandakan, ayo kita tekadkan untuk rajin bersilaturrahim agar saat bulan mulia ini berlalu kita jadi terbiasa bersilaturrahim. Jadi nggak cuma pas lebaran doang silaturrahimnya. Hehehe.



Referensi : www.motivasi-islam.com

2 komentar :

Irham Sya'roni mengatakan...

Kunjungan silaturahim dari Jogja via dunia maya. :)
Selamat berpuasa dan beribadah Ramadhan...

Ahliah Citra mengatakan...

masyaa Allah... Shohih, Mba. Islam memang sangat menganjurkan mempererat silahturahmi. Manfaatnya byk, dunia akhirat