Selasa, 29 November 2016

Dunia, Kesetiaan, dan Sahabat

Kepikiran nggak sih, ada seseorang yang punya harta triliyunan rupiah tapi nggak terdeteksi sama wartawan? Sehingga nggak ada satupun media yang menyebut namanya sebagai salah satu orang terkaya di dunia?
Percaya nggak sih, kalau sukses dunia bisa didapat dari kerja cerdas di samping kerja keras? Selalu melangkah lebih maju, inovatif, dan kreatif, namun setelah semua itu ada di tangan, akhirnya memilih hidup dengan kebersahajaan?

Atau, apa arti sahabat sejati menurutmu? Apa arti kesetiaan bagimu?



Novel ini menjawab semuanya. Tentang kamu. Tentang indahnya menyulam rasa sabar. Tentang berharganya seorang sahabat. Tentang cinta yang teruji. Tentang prinsip yang tak goyah oleh duniawi.



Dari penerbit Republika. Masih fresh. Baru terbit sebulan yang lalu, dengan tebal 524 halaman.

Pengacara muda yang ditempa oleh kerasnya kehidupan, terusir dari haknya, akhirnya mendapat pekerjaan penuh tantangan. Bukan karena posisi yang dijanjikan jika dia berhasil menuntaskan kasus unik itu, namun dia bagai berkaca pada hidup yang dia dan ibunya jalani selama 18 tahun terakhir.

Waktunya sempit. Dia harus mencari surat wasiat dan ahli waris dari seseorang yang memilih hidup sederhana padahal dia menyimpan aset senilai 19 triliun rupiah. Sri Ningsih namanya. Putri pelaut tangguh dari Pulau Bungin, Sumbawa. Akhirnya bisa keliling dunia sesuai cita-cita ibundanya, ibunda yang tak pernah dia lihat wajahnya, tapi ayahnya selalu menceritakan hal itu. Sahabat sekaligus hantu masa lalunya terus mengejar dirinya. Tapi dia tak melawan. Dia tak ingin melukai sahabatnya itu, walau sang sahabat telah menuduhnya sebagai pengkhianat. Tidak. Lebih baik dia pergi daripada menciptakan ruang untuk luka lagi.

Adalah Zaman Zulkarnaen, pengacara muda dari firma hukum elite, Thompson and Co. Perjalanannya menyusuri kehidupan dan masa lalu Sri Ningsih, -yang memilih meninggal di panti jompo di Paris-, membuatnya memahami bahwa dengan menerima dan memeluk semua rasa sakit justru dapat mengurangi rasa sakit itu bahkan membuat kita bersemangat untuk terus melaju. Memang tak mungkin dilupakan, tapi biarlah menjadi kenangan di belakang.


Walau ini hanya fiksi, kita akan diajak memahami alur pikir seorang Sri Ningsih. Semangat belajarnya yang tinggi ditambah kemampuannya membaca peluang bisnis plus kesabaran dan kegigihan membuatnya sukses menjajal banyak bidang bisnis. Itupun dia harus berurai air mata ketika usahanya hancur tak bersisa ketika terjadi peristiwa Malari 1974, krisis moneter 1998, dan dua kali hantu masa lalunya datang mengancam, membuatnya harus segera mengambil keputusan.

Tetapi orang baik selalu banyak yang mengenang, bukan? Sri Ningsih dikelilingi orang-orang baik yang barangkali dihadiahkan Tuhan untuknya. Zaman memperoleh banyak informasi dari mereka yang dekat dengan Sri Ningsih dan merasakan ketulusan serta kebaikan jiwanya.

Di bagian akhir, agak aneh juga sih, ketika ternyata surat wasiat yang dicari-cari Zaman malah ada di kotak kayu jati. Kotak itu pemberian Nur'aini, sahabat baik Sri Ningsih di Surakarta. Dialah tempat Sri Ningsih bertukar kabar lewat surat sebelum akhirnya memutuskan pergi ke London. Ya, kotak itu berisi surat-surat Sri Ningsih yang menjadi panduan Zaman mencari jejak keberadaan Sri Ningsih selama di Jakarta.

Lewat petugas panti jompo tempat Sri Ningsih meninggal, Zaman akhirnya tahu ternyata Sri Ningsih mempelajari hukum dan menemukan kisah dibalik firma hukum Thompson and Co. Seorang teman Sri Ningsih di panti jompo juga mengatakan kalau dia pernah diminta Sri Ningsih untuk mengantar dua surat ke London dan ke Indonesia. Siapa lagi kalau bukan ke Nur'aini?

Benar dugaan Zaman, Sri Ningsih meninggalkan surat wasiat yang disimpan Nur'aini dalam kotak itu. Tidak bersama surat-surat Sri Ningsih, tapi di bagian bawah kotak itu. Ada kompartemen tersembunyi di bagian dasar kotak itu. Pertanyaannya, mengapa tidak sejak awal Nur'aini mengatakannya pada Zaman? Toh, jelas sekali Zaman memperkenalkan dirinya sebagai pengacara dari Belgrave Square, London, yang sedang mengusut kasus harta warisan sahabatnya. Bahkan di amplop surat itu tertulis, bahwa Nur'aini boleh membukanya ketika mendengar kabar sahabatnya telah meninggal atau dia harus menyerahkan surat itu pada pengacara yang datang. Nur'aini jelas tidak ragu karena Sri Ningsih berpesan bahwa Nur'aini bisa mempercayai pengacara yang datang menemuinya.

Mungkinkah lupa karena faktor usia? Bisa jadi.

Tapi, bukan itu pembelaan atas pertanyaan saya. Saya menganggapnya sebagai pembelaan alih-alih jawaban. 
 
Saya jelas nggak mau nyeritain apa pembelaannya, karena sama saja saya nulis ulang isi novelnya. Bukan resensi lagi dong namanya. 

Hehehe.



5 komentar :

iis soekandar mengatakan...

Cakep resensinya

iis soekandar mengatakan...

Cakep resensinya

Ariany Primastutiek mengatakan...

Hehehe, ini ceritanya lagi mulai konsen sama blog yang terlantar. Makasih Mbak Iis udah mampir.

Fifadila mengatakan...

Aw...aw..padet banget pesan pesan yang disampaikan TY di setiap novelnya ^_^

Fifadila mengatakan...

Pesannya padet banget ya khas novep novel novel TY yang lain...