Sabtu, 26 November 2016

Suatu Hari Kala Empati Itu Terasah


Mengajarkan empati sama persis seperti saya mengajarkan anak saya agar suka membaca. Butuh proses. Awalnya, membacakan dia buku-buku cerita sebelum tidur. Sekarang dia lebih suka baca sendiri. 

Empati bukanlah sesuatu yang bisa terjadi begitu saja. Apalagi empati itu erat kaitannya dengan hubungan sesama manusia. Nggak bisa lah dianggap sepele. Santai bilang, nanti juga anknya paham sendiri. No, Mom. 

Menurut KBBI, empati adalah keadaan mental yang membuat seseorang merasa atau mengidentifikasikan dirinya dalam keadaan perasaan atau pikiran yang sama dengan orang atau kelompok lain. Intinya empati tuh kita bisa merasakan apa yang orang lain rasakan. Kita memosisikan diri kita sebagai orang lain. Empati ini tingkatannya lebih tinggi dari simpati. 

Suatu hari sepulang sekolah, tumben-tumbenan Aisha makan siang lagi di rumah, padahal saya sudah membawakannya bekal makan siang. Dia lalu bercerita kalau tadi dia membagi bekalnya pada temannya. Ibu sang teman terlambat mengantar makan siang, padahal sudah waktunya makan siang. Pantas, batin saya. 

Kepo. Saya tanya lagi kenapa makannya nggak nunggu ibunya nganter aja. Dia jawab, “Kasihan, Mi. Temenku kan laper juga kayak aku.” Saya pun tersenyum. Dalam hati bersorak, anakku udah paham empati. 

“Oh, jadi separoan?” tanyaku lagi.
“Nggak. Banyakan dia yang makan. Aku baru satu suap, dia udah tiga suap,” jawabnya manyun. 

Huahahahaha… Anakku ini memang kalau ngunyah makanan lumayan lama. 32 kali kayaknya ada. deh.

Okelah lanjut. 

Anak itu peniru yang baik. Makanya saya berusaha untuk mengajarkan secara nggak langsung pada anak saya. Gimana caranya? Nggak usah jauh-jauh, cukup hubungan baik dengan tetangga, salah satunya. Melayani tetangga yang datang minta ditensi, misalnya. Saya berusaha tidak menolak, karena saya tahu para tetangga datang karena beliau merasa tak enak badan. Walau saya nggak ngasih obat, tapi rata-rata tetangga puas. Apalagi saya nggak memungut bayaran. Iyalah. Ditensi doang. Kalau ada yang minta cek gula, baru deh mereka bayar. Secara, stik gulanya kan saya beli.

Pas lagi berselancar di fb, saya nemu buku Belajar Empati di statusnya Mbak Nurhayati Pujiastuti. Beliau guru nulis saya yang keren. Buku itu masih hangat, karena baru terbit beberapa waktu yang lalu. Buku anak-anak itu beliau yang nulis.

Dari penerbit Al Qudwah Publishing, dengan harga bersahabat, Rp 45.000,00, kita akan disuguhi 15 cerita anak-anak sehari-hari. Gaya bahasanya khas Mbak Nur yang lembut dan cara menyelesaikan masalah juga sangat bijak. Tokoh Ibu banyak berperan di sini, menurut saya karena empati itu harus ada yang mengarahkan. Meski begitu, si anak tetap menyelesaikan masalahnya sendiri. Dengan empati. Ditambah ilustrasi yang menarik oleh Yafie membuat tokoh buku ini seakan ikut bercerita.

Lewat buku ini, Mbak Nur juga menyisipkan ayat-ayat Al Qur’an dan hadist sebagai panduan. Pada cerita Jas Hujan Bilqis, misalnya. 

Mendung. Bilqis cemberut karena jas hujannya sobek. Ibu bilang, masih bisa dipakai. Sampai di sekolah, ternyata Aini belum datang. Kata Pak Guru rumah Aini kebanjiran. Jadi Aini tak bisa masuk sekolah. 

Sampai di rumah, ternyata Ibu juga sedang menyiapkan terigu dan gula untuk disumbangkan. Ada juga beberapa jas hujan. Bilqis jadi ingat jas hujannya. Bagaimanapun juga dia lebih beruntung karena rumahnya tidak bocor dan tidak kebanjiran. Dia pun tetap bisa memakai jas hujan yang sudah ditambal Ibu. Akhirnya dengan uang tabungannya, diapun ikut menyumbang beberapa jas hujan. Ya, bersyukur. Bilqis paham, bayak orang di sekitarnya yang lebih susah darinya. 

Ada juga cerita Nena Tidak Sarapan. Ibu berpesan pada Irma untuk bergaul dengan semua teman-temannya, jadi kalau ada temannya yang tidak masuk karena sakit, Irma jadi tahu. Ibu bahkan membekali Irma dengan satu bungkus nasi lagi untuk temannya tak sempat sarapan. Tapi, menurut Irma semua temannya sarapan. Irma tak tahu juga jika ada temannya yang sedang sakit, karena Irma jarang bergaul dengannya. Setelah Ibu menceritakan kisah Julaibib (sahabat Rasul yang buruk rupa dan miskin, sehingga tak ada yang menyadarinya saat dia tak ada, lalu para sahabat mencarinya setelah Rasul menanyakan keberadaannya), barulah Irma sadar, bahwa Nena tidak masuk sekolah. 

Ibu lalu mengajak Irma ke rumah Nena. Nena tak punya orangtua, hanya tinggal dengan neneknya yang kini terbaring sakit, sehingga tak bisa menyiapkan sarapan untuk Nena dan berjualan combro seperti biasa. Nena jadi sering tidak masuk sekolah, karena harus berjualan membantu neneknya. Nena bilang ibunya Irma sering datang dan mengajarinya pelajaran sekolah. 

Irma jadi malu. Dia pun bertekad akan membantu Nena berjualan. Misalnya dengan menawarkan kotak pensil-kota pensil buatan Nena kepada teman-temannya. 

Ceritanya sederhana. Tapi menyentuh, anak saya suka memabacanya. 

Ada lagi cerita Ibra yang dicap sebagai anak nakal, sehingga tak ada teman yang mau bermain dengannya. Bahkan ibu mereka juga melarang anaknya bergaul dengan Ibra. Takut ketularan nakal, katanya. Tapi Agus suka bermain dengan Ibra, walau kakaknya melarang. Ibu juga jadi bertambah banyak cuciannya karena setiap pulang main dengan Ibra, baju Agus pasti kotor sekali. 

Menurut Agus, Ibra tidak nakal. Ibra teman yang menyenangkan. Orangtua Ibra tak pernah melarang Ibra melakukan ini itu.

Ibu lalu menyuruh Agus agar mengajak Ibra datang ke rumah. Ibu akan memberinya hadiah. Berupa sarung. Agus harus mengajak Ibra ke masjid. Ibu bilang, teman yang baik, harus mengajak temannya menjadi lebih baik. Kalau berteman dnegan Ibra membuat Agus lupa shalat, Ibu akan melarang Agus berteman lagi dengan Ibra. 

Agus tersenyum ternyata Ibra mau diajak shalat di masjid. Agus ingin bersama Ibra masuk surga. 

Indah kan, ceritanya. Masih ada 12 cerita lainnya yang Insya Allah membuat anak paham tentang empati. Ohya, ada beberapa lembar untuk mewarnai di halaman belakang buku ini. Cocok untuk merilekskan pikiran anak-anak. Jangan lupa ajak anak untuk menceritakan gambar yang sudah diwarnainya. 

Sungguh menyenangkan melihat anak kita mampu menunjukkan rasa empatinya pada orang lain. Buku ini recommended untuk orangtua yang ingin menanamkan rasa empati pada anak lewat cerita. Dengan anak memiliki empati, suatu hari, kelak jika dewasa diharapkan dia akan selalu berpikir positif serta mengutamakan kepentingan orang lain di atas kepentingannya sendiri, tidak egois, dan bisa bekerja sama. Hidup ini indah bukan, jika kita bisa berempati pada sesama kita?





2 komentar :

Nurhayati Pujiastuti mengatakan...

Terima kasih

Ariany Primastutiek mengatakan...

Sama-sama, Bu Guru. Terima kasih sudah mampir.