Jumat, 27 Oktober 2017

Aku, Tadi Malam

Tadi malam, aku terkurung
Terjebak dalam kusutan benang yang
tak mampu mengurai dirinya sendiri
Membias sudah segala cita yang melangit

Tadi malam, aku melesak
Meronta mencari seteguk air
Dari panasnya nafsu dan riuhnya pikiran
Namun yang kutemui adalah setengah gelas kosong atau
Setengah gelas terisi? Aku tak paham

Tadi malam, aku melukis
Bunga bangkai diantara mawar merah
Aneh, tapi selalu elok dipandang
Janggal, tapi selalu diterima oleh otakku
Bullshit, tapi aku tergoda
Hingga aku lupa, atau bimbang
Lewat mata kananku ataukah mata kiriku
Air mata ini akan turun

Apakah aku masih aku?
Apakah aku bukan aku?
Apakah aku tetap aku?
Apakah aku menjadi aku?
Bukankah aku adalah aku?

Satu-satunya yang bisa membuatku (tetap) waras
Adalah deretan kata
Menenggelamkan segala rasa sesak
Dalam lautan fiksi
Yang menggelorakan imaji
Menumpahkan jiwa kosongku
Pada wewangian lembaran kertas yang memabukkan
Lalu melebur melupakan setumpuk beban

Menunggu esok hingga beban itu kembali
Dengan seringainya yang mengerikan

Sang cahaya berkata, tegarlah...

Mampukah aku tetap menjadi aku?

Rabu, 27 September 2017

Pilih Mana, Warung Tetangga atau Minimarket?

Dulu, mama saya pernah punya warung kelontong. Kecil-kecilan, tapi alhamdulillah bisa membantu ayah saya mencukupi kebutuhan keluarga. Seenggaknya, saya masih bisa menikmati menu lengkap khas lebaran tiap tahun. Atau sekedar menyantap ayam panggang setiap malam pergantian tahun. Rasanya nikmat sekali... Nggak perlu keluar rumah berkumpul di alun-alun kota. Cukup makan bareng di halaman belakang sambil menikmati pesta kembang api di angkasa.

Sebagai pekerja proyek, tentu ada saatnya ayah saya menganggur untuk menunggu proyek berikutnya. Warung kelontong mama saya membuat kami tak kelaparan. Alhamdulillah, lumayan laris.

Saat minimarket mulai menjamur di Cilacap ditambah tetangga kanan kiri juga mulai usaha yang sama, warung kelontong mama saya mulai meredup. Mama saya bilang, masa mau di atas terus, ada saatnya kita di bawah. Diuji oleh Yang Maha Pemberi Hidup.

Awalnya mama saya mulai mengurangi kuantitas barang yang dijual. Terutama yang tidak tahan lama. Lama kelamaan mama saya hanya bisa mengurut dada, mencoba bersabar. Bagaimana tidak? Tiap pagi mama ke pasar membeli berbagai sayuran segar, biasanya bahkan sebelum mama saya pulang, orang-orang sudah menunggu di depan warung. Tapi sejak ada penjual sayur keliling, orang-orang lebih memilih menunggu si mamang ketimbang berjalan sebentar ke warung mama. Mungkin itu rejekinya si mamang, sahut mana.

Sejak itu mama menutup warungnya dan memilih menunggui Aisha yang kala itu masih bayi, walau saya punya ART.

Sebenarnya bukan soal si mamang sayur atau minimarket yang pasti ada di setiap tikungan jalan, tapi ada hal lain yang membuat warung mama nggak mampu bernapas lagi. Apa itu? Utang dari pelanggan mama yang notabene adalah tetangga di lingkungan rumah.

Kalau inget ini, mama jadi sedih. Ayah saya pernah protes, minta supaya tidak boleh diutang supaya uangnya bisa berputar. Tapi mama saya bilang, warung itu kalo nggak boleh diutang ya nggak laku. Ya emang terbukti sih, warung mama laris banget. Soalnya kalo mau ngutang di warung Cina ya nggak mungkin boleh kan? Ayah saya akhirnya mengalah.

Dan sekarang apakah utang-utang itu udah lunas? Kebanyakan belum. Bahkan ada yang dengan teganya pindah rumah dan masih punya tanggungan utang lebih dari sejuta. Mama saya sudah menagih tapi dengan sehalus mungkin. Namanya lingkungan warga, apapun bisa jadi berita yang viral, bukan? Tapi si pemilik utang itu justru semakin cuek dan pindah rumah lebih jauh lagi. Tak jarang ada yang malah memusuhi. Ketemu di depan rumah seperti nggak lihat. Astaghfirullah... Mama saya akhirnya memilih diam ketimbang jadi ribut dan merusak nama baik orang. Biar jadi urusan Allah saja, pungkas mama.

Nggak cuma terbukti di warung mama, di rumah sebelah ada warung kelontong yang nggak nerapin sistem utang, akibatnya warung itu kurang laku. Kasihan nglihatnya. Apa harus diutang dulu supaya laku dan kemudian gulung tikar kayak warungnya mama? Duh, jangan deh... Walaupun cuma beli gas, terigu, telor, sampo dan jajan Aisha, mudah-mudahan bisa sedikit membantu.

Terus terang, saya belum berani bertanya mengapa orang-orang saat belanja di minimarket atau bahkan supermarket bisa membayar cash, tapi belanja di warung tetangga sendiri malah enan-eman kalo nggak ngutang?

Padahal bisa jadi nominal yang diutang itu adalah modal awal. Bisa jadi sedikit untung yang masih belum lunas itu jika diakumulasikan cukup untuk bayar sekolah beberapa anaknya.
Bisa jadi dana yang belum di tangan itu akan digunakan untuk berobat, membeli peralatan dapur yang sudah masuk wishlist.

Saya masih ingat ekspresi mama saya ketika menerima undangan pernikahan anak si pengutang itu. Kok nggak malu yaa, masih punya hutang kok ngundang-ngundang minta disumbang? Begitu pikiran saya. Mama saya cuma tersenyum dan jelas nggak akan datang ke acara itu.

Mungkin saya harus berkaca pada diri saya sendiri yang sering berutang baju atau tupperware pada teman kerja. Walau yang dibeli lain, tapi namanya utang tetaplah utang. Harus dibayar. Maaf ya temans...

Selain utang belanja bulanan di koperasi RSI (insya Alloh akan dilunasi setelah terima gaji, karena saya nggak boleh utang lagi sebelum lunas) barangkali saya masih punya utang, mohon ditagih yaa..

So, mari kita nglarisi warung tetangga atau jualan teman ketimbang nglarisi minimarket. Asal jangan diutang. Boleh diutang asal si pemilik barang ridho dan ada perjanjian waktu yang jelas kapan utang itu akan dilunasi.

Sebagai introspeksi diri, dalam Al Qur'an surat Al Baqarah ayat 280 Allah SWT berfirman, "Dan jika (orang berutang itu) dalam kesulitan, maka berilah tenggang waktu sampai dia memperoleh kelapangan."

Namun, perlu diketahui, melalui NabiNya, Allah juga memberikan peringatan.
Diriwayatkan oleh Ahmad, seorang laki-laki pernah bertanya kepada Nabi Muhammad SAW tentang saudaranya yang meninggal dalam keadaan menanggung utang. Nabi Muhammad SAW bersabda, "Dia tertahan oleh utangnya. Jadi, lunasilah utangnya untuknya."

Diriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Menunda pembayaran utang bagi orang kaya adalah sebuah kezhaliman." (HR. Abu Dawud dan selainnya).

Referensi : Ringkasan Fikih Sunnah Sayyid Sabiq karya Syaikh Sulaiman Ahmad Yahya Al-Faifi (Pustaka Al Kautsar)
Foto : Google

Senin, 25 September 2017

Hidup Itu Sawang Sinawang



Apa itu sawang sinawang?

Itu bahasa jawa. Artinya kurang lebih apa yang kita lihat dari diri seseorang belum tentu kenyataannya seperti itu. Seperti saat kita di dunia maya. Banyak orang yang memosting kata-kata bijak, belum tentu dia sebijak itu. Banyak orang yang berfoto-foto ria seakan-akan hidupnya bahagia. Tapi siapa yang tahu jika sebenarnya dia sedang mencari pelarian dari masalahnya? Bahkan bisa jadi foto dan kalimat bijak itu dia comot dari sana sini, trus diklaim sebagai milik pribadi. Siapa tahu kan? Sudah banyak juga contohnya.

Yang lagi booming dan sangat viral adalah kasus bos First Travel dan istrinya. Jika para jamaah tidak demo, jika polisi tidak turun tangan, apakah publik tahu kejahatan yang mereka lakukan. Pergi ke luar negeri, mengadakan fashion show, mempertontonkan segala perhiasan dan barang-barang branded. Nggak ada yang menyangka mereka melakukan sesuatu yang menyakiti banyak orang. Mereka berdua memanfaatkan apa yang bukan hak mereka. Mustahil mereka tak tahu ketika selaksa doa telah dilangitkan agar berkesempatan menginjakkan kaki di tanah suci. 

Jumat, 22 September 2017

Kacamata Baru (1)

Kemarin di Pemakaman Karangsuci, Donan, Cilacap dihebohkan dengan penemuan bayi. Bayi itu diletakkan begitu saja dekat sebuah makam. Qadarullah, saat ditemukan, bayi tak berdosa itu telah kembali ke pangakuan Allah SWT. 

Aah, begitu mudahnya seorang ibu membuang darah dagingnya, sementara saya dan mungkin banyak ibu di dunia sedang menantikan kehadiran seorang anak untuk pertama atau kedua kalinya atau ke sekian kalinya. Karena sejatinya seorang anak adalah anugerah, rejeki tak ternilai dariNya. Siapa orangnya di dunia ini yang tak menginginkan rejeki? 

Ingin rasanya saya katakan pada si ibu tak berhati itu, cobalah jadi perawat dan sungguh kalian akan bisa melihat masalah dengan kacamata baru. Kacamata yang akan membuat kita jadi lebih bijak melangkah dan membuat keputusan. 

Senin, 18 September 2017

Jangan Baper, Senyumin Aja



"Sha, tanggal 23 besok ada terjun payung loh di alun-alun, kita nonton yuk," ajak saya pada si gadis delapan tahun, empat hari sebelum tanggal 23. 

Si gadis, anak saya, mendadak bersemangat dan sejak hari itu -setiap waktu- terus bertanya, "Kapan sih, Mi, terjun payungnya?" Berulang kali dia tanya berulang kali pula saya jawab. Seakan-akan tanggal 23 itu tidak lewat Cilacap. 

Itu anak saya dengan saya punya jawaban yang teramat jelas masih juga menanyakan, 'kapan'. Bagaimana dengan yang belum jelas jawabannya? Jelas ini bikin baper. 

Senin, 28 Agustus 2017

Tips Jualan Laris Manis

Sejak beberapa hari yang lalu, saya memutuskan untuk berjualan bawang. Segala jenis bawang saya jual. Bawang merah, bawang putih apel, bawang putih kating, bawang bombay bahkan bawang tunggal.
.
Saya memilih jualan bawang karena setelah saya survey di grup jualannya RSI Fatimah, belum ada teman yang berjualan bawang. Istilahnya saya nggak ngerebut lapak teman sendiri kan yess... Hehehehe... Alhamdulillah, reaksi teman-teman di RSI membuat saya makin bersemangat berjualan karena mereka membeli bawang jualan saya. Matur nembah nuwun kanggé rencang-rencang kula teng RSI Fatimah Cilacap. 😊😊

Selasa, 22 Agustus 2017

Mengintip Eksotisnya Benteng Pendem





Benteng Pendem atau dalam bahasa Blanda disebut  dengan “ KUSTBATTERIJ OP DE LANDTONG TE TJILATJAP” adalah salah satu dari sekian banyak obyek wisata di Cilacap. Bangunan bersejarah ini masih berada dalam area Pantai Teluk Penyu. Maka tak heran jika paa wisatawan yang datang ke Pantai Teluk Penyu pasti sayang banget kalau nggak masuk ke Benteng Pendem. 

Yuk, kita puter-puter Benteng Pendem dulu.

Rabu, 09 Agustus 2017

Back To Nature With Raw Honey

Dunia pengobatan herbal sedang berduka. Salah satu perusahaan jamu terbesar di Indonesia dinyatakan pailit dan asetnya dibekukan. Padahal ribuan pegawai menggantungkan nasibnya pada perusahaan keluarga itu. Sedih, ya?

 

Menilik ke masa lalu sejarah perusahaan jamu ini, ternyata ada peran seorang ibu di dalamnya.  Ibu yang luar biasa. Beliau mewariskan ilmu pengobatan tradisional pada anak perempuannya, Lauw Ping Nio atau lebih dikenal dengan Nyonya Meneer, sehingga namanya dan fotonya terkenal seantero negeri.

Minggu, 06 Agustus 2017

Asyiknya Mendesain Blog Sendiri


www.business2community.com

Ngeblog?
Dengarnya saja udah kayak bergayaaa banget, padahal blog cuma diisi pas lagi mood doang. LOL. Diisinya juga sama cerita-cerita kecil di sekitar saya saja. Jadi tujuan saya ngeblog itu apah? Biar kekinian aja. Hahahaha. 

Naah, yang paling bikin betah kalau pas buka blog itu adalah soal desain mendesain. Iyaaa, suka aja kalau buka desain blog trus gonta ganti tema, warna latar belakang, jenis huruf, dan sebagainya. Nggak konsisten banget deh pokoknya. 

Jumat, 28 Juli 2017

Anak dan Buku


foto by google



Aisha lagi mempelajari tentang hak dan kewajiban. Dalam buku tematiknya, dia mencatat apa itu hak apa itu kewajiban.

Jadi, hak adalah sesuatu yang harus kita terima.

Kewajiban adalah sesuatu yang harus kita lakukan.

Hak dan kewajiban dan seimbang.

Kayak gitulah intinya. Dijabarin hak dan kewajiban dia sebagai anak, sebagai murid, dan seterusnya.


Kamis, 27 Juli 2017

Jadi Pengunjung Rumah Sakit yang Bijak


Lagi asyik masyuk di depan lepi. Ngetik cantik dengan konsentrasi penuh (lebay mode on), tiba-tiba ada pesan WA masuk . Dan saya pun terlibat dalam percakapan serius... (halah)

Ri, masuk apa?
.
Libur. 
.
Yaa, kirain masuk pagi..
.
Emang ada apa
.
Bokap gue dirawat di Ruang VIP, blio pengen ketemu ma anak gue. Eh... malah nggak boleh masuk ama satpamnya.
.
Bukannya anak lo baru tiga tahun?

Kamis, 08 Juni 2017

Menghargai Privasi Anak

Aisha punya sebuah foto yang sangat dia benci. Bencinya itu sampai level dia nafsu banget buat nyobek-nyobek itu foto. 

Itu sebenarnya juga fotonya dia. Gambarnya dia. Cuma yang bikin dia nggak suka, karena dalam foto itu dia lagi mewek. Mbah Kakungnya jahil banget motoin dia dengan wajah kayak gitu. Udah gitu iseng pula dicetak dengan ukuran gede. Begitu Aisha lihat fotonya dipajang, ya udin ngamuklah dia. 

Asal tahu aja, itu foto waktu Aisha umur 4 tahun. Now, she's 8 years old. Imagine that! 4 tahun. Dan dia masih sebel sama fotonya itu.


Terus apa alasan saya masih nyimoen fotonya itu? Cuma satu. LUCU. Ya ekspresinya, raut mukanya, pokoknya saya dan mbahnya sepakat itu foto bakal jadi legendaris saking lucunya. 

Senin, 05 Juni 2017

Horornya Jadi Orangtua Jaman Sekarang

Seharian ini di grup WA beredar berita tentang siswi SMP yang gantung diri setelah dimarahi ibunya karena nilai ujian nasionalnya yang jauh dari kata memuaskan. Walau, ya, lulus. 

 

Seketika air mata saya mengalir. Ah, saya emang baperan. 

Sakit hatikah si anak itu? Atau sang bunda yang begitu kecewa pada anaknya? 

Kalau saya bilang mungkin keduanya. Tapi dengan alasan yang berbeda. Mungkin si anak merasa dia sudah belajar mati-matian, rela begadang agar kelak bisa melanjutkan ke SMA yang diharapkan, berdoa siang malam, lelah fisik dan batin karena harus ikut tambahan pelajaran yang cukup menyita energi, tapi hasilnya malah buruk. 

Kamis, 01 Juni 2017

7 Ucapan yang Sebaiknya Tidak Dikatakan Saat Mengunjungi Orang Sakit

AGAIN

AND AGAIN

Ada keluarga pasien yang datang ke nurse station sambil menahan tangis. Beliau datang untuk minta penjelasan atas sakit yang diderita oleh anaknya. Sebagai perawat, saya hanya menjelaskan sebatas kewenangan saya. 

Saya tanya kenapa kok sesenggukan gitu. Katanya beliau baru dijenguk tetangganya yang berkomentar nylekit. Si tetangga bilang, sakit anaknya parah. Udah kategori gawat. Beliau tanya pada saya apa benar begitu. Lalu setengah jam lebih saya mengedukasi beliau dan anaknya, tentu saja masih di jalur kewenangan saya.
.
.
DISCLAIMER : Kejadian ini udah beberapa hari yang lalu. Konsep tulisan ini juga udah lama ngendap di notes hape. Lupa. Ni baru sempet dieksekusi. LOL.




Waduh, gimana kalau keluarga kamu yang dapat omongan begitu. Perawat bukan, dokter bukan, kok bisa-bisanya bilang sakit parah. Udah gawat.

Sabtu, 20 Mei 2017

Apakah Sekedar Jual Beli Semata?


Curhat tengah malam.

Ceritanya beberapa hari yang lalu saya membeli beberapa bungkus makanan ringan dari seorang teman jaman saya masih unyu-unyu dulu. Sebut saja namanya Mawar. 

Lalu muncul WA dari seorang teman seangkatan, panggil saja Melati. Begini obrolannya. 
Saya (A) Melati (M) dengan redaksi disesuaikan.

M =  Ri, kamu beli snacknya Mawar nggak? Tadi dia nawarin ke aku.
A  =  Iya, beli. Enak kok. 
M = Beli? Rugi kamu, Ri. Di toko ANU (sambil menyebut sebuah toko oleh-oleh terkenal di Cilacap) harganya lebih murah. Bedanya tiga ribu sendiri. Lagian di toko itu jelas lebih terjamin kebersihannya.
A  =  (pake emot ketawa) Masa sih? Ngapain aku harus jauh-jauh ke toko itu kalau ada yang lebih deket nawarin? Hehehe.
M = Ah, kamu beli karena kasihan kali ya? Kamu kan emang gitu. Suka baperan. Gampang kepenginan. Apa-apa dibeli. Ya kan? 
(Eitss... ni orang judgementnya to the point banget. Tanpa tedeng aling-aling) Dan saya mulai emosi. 
A = Terserah saya dong ya... 
(selepas itu dia chat minta maaf kalau bikin saya tersinggung dan saya enggan menanggapi. Hanya memberi jempol saja) Sepertinya perubahan kata aku menjadi saya itu cukup membuatnya tahu kalau saya tersinggung. Hehehe.

Rabu, 26 April 2017

Aisha Kena Cacar Air




Pokoknya aku nggak mau ngaca lagi!

Lha, kenapa?

Mukaku nggak cantik lagi (kemudian nangis)

Ntar juga sembuh kok

Aku juga nggak mau keluar rumah

Di teras aja nggak apa-apa

Nggak mau! Aku maluuu... (nangis lagi)

Ya udah, mainnya di rumah aja

Boseeennnn....! (nangis untuk kesekian kalinya)

.

Senin, 10 April 2017

Big Size Juga Anugerah

Sebenarnya ini bahasan klasik banget. Udah banyak teman-teman medsos yang menulis tentang perempuan yang jadi gemuk setelah menyandang gelar Ibu. 

Tapi... tiba-tiba suami nyeletuk, nggak usah diet lah. Syukuri aja, banyak kok yang malah kepengin gemuk. 

Tentu saja blio ngomong demikian karena aku habis tepar. Ini adalah kedua kalinya aku sakit semenjak aku memutuskan untuk diet. Entah dietku yang salah atau emang badanku yang perlu nutrisi lebih banyak. Hanya Allah SWT yang tahu. 





Dan, mendadak aku inget obrolan iseng saat sedang mengganti infus pasien KP. Ya, si pasien curhat dan aku dengerin dan akhirnya aku lama keluar dari kamarnya. Begitu keluar dari kamarnya, aku langsung buang masker ke tempat sampah infeksius dan cuci tangan 6 langkah. Ehh, ini ngomongin apa sih? Sorry, itu aku lagi ngomongin protap. Hahahaha. 

Jadi, aku minta tolong keluarga pasien untuk menggeser bed supaya aku bisa masuk. Secara, standar infus pasien itu  berada di dekat tembok, bukan di pinggir bed, karena tangan yang diinfus memang bersisian dengan tembok. 

"Bu, tolong bantu saya menggeser ya, saya gemuk nih, jadi nggak bisa masuk," canda saya. Niatnya begitu. Sambil tersenyum si ibu pasien membantu saya. 

"Mbak nggak gemuk kok, ideal," sahut si pasien menanggapi candaanku yang garing. Saya hampir melayang saking senangnya dibilang ideal *lebay mode on* 

"Cuma Mbak loh yang bilang badan saya ideal, yang lain nggak pernah bilang begitu," jawab saya setengah tertawa. 

"Dulu saya juga gemuk Mbak, semok kalau kata orang. Tapi sejak saya sakit paru-paru, berat badan saya terus menyusut," katanya sedih. Aku sukses bengong cantik. Iya sih percaya, wajahnya cantik gitu, masih muda lagi. Belum nikah juga. 

Aku bingung mau ngomong apa. Akhirnya aku cuma bisa tersenyum, "Semoga Mbak sabar, ya... Kalau udah sembuh pasti bisa gemuk lagi badannya." Weleh, bijak amat saya ya...

"Semoga Mbak, tapi kakak saya meninggal karena penyakit ini," ujarnya sambil mengelap air mata. Loh kok jadi nangis? *tepok jidat (dalam pikiranku doang)* Aku jadi salting sendiri, sepertinya aku salah menanggapi. 

"Maaf ya, Mbak," aku kehabisan kata-kata. "Infusnya sudah saya pasang, saya pamit." Lalu aku buru-buru keluar dari kamarnya. 

Bersyukur. Bersyukur. Bersyukur. Tak henti-hentinya kata-kata itu terus berputar di otakku. Jika menjadi gemuk adalah pemberian Tuhan kenapa kita memberatkan diri sendiri. 

Mungkin bisa jadi dietku yang salah. Sudah tahu sering begadang, kerjaan di bangsal cukup menguras tenaga dan pikiran, belum ditambah pekerjaan rumah yang menurutku sudah termasuk olahraga, kenapa kok nggak nyiapin tenaga ekstra dengan makan yang cukup? Kenapa memaksakan diri harus makan ini nggak boleh makan itu, padahal tubuh belum mampu? 

Mungkin memang kita harus makan makanan yang sehat, olahraga teratur, jangan makan malam setelah jam enam sore dan seterusnya dan seterusnya.... Iya, kalau dana mencukupi, iya kalau waktu terpenuhi, iya kalau nggak kelaparan saat shift malam walau RS udah ngasih snack. 

Mungkin belum terbiasa. Boleh jadi. Mau melanjutkan proses pembiasaan itu? Silakan. Asal kita bisa memastikan agar tak perlu mengorbankan orang lain. Terutama anak dan suami. 

Ukur diri sendiri ya Mak. Apa yang orang lain lakukan pada diri mereka belum tentu cocok di kita. Sepanjang suami enjoy ngajak kita ke kondangan, asik aja gandeng tangan kita di mall, nggak absen ngasih nafkah batin, anak tetap terurus, kenapa musti mikirin pendapat orang lain. 

Gemuk pun kalau saat medical check up kita dinyatakan sehat, pasti seneng banget kan? Iyalah. Tes darah normal. Jantung paru no problem. Gigi sehat. Nikmat Tuhan yang manakah yang kau dustakan?

Ada banyak cara untuk menjadikan tubuh kita bak biola tanpa perlu menyusahkan diri sendiri. Tentu cara itu hanya kita yang paham. Tak perlulah tergoda sama olshop yang rajin banget ngiklanin obat pelangsing. Atau meniru menu makanan sehat yang bersliweran di share orang, padahal menu itu kalau dihitung-hitung bisa menghabiskan pos makan dua kali lipat. Plus belum tentu dimakan juga. 

Inget loh, definisi ideal itu disesuaikan sama tinggi badan juga. Ideal ya, bukan langsing. Karena kalau udah ngomongin langsing masing-masing individu bisa berbeda penafsirannya.

Nggak munafik, aku kadang iri sama teman-temanku yang badannya tetap langsing walau udah punya anak tiga. Aku aja, baru punya anak satu, naiknya berkilo-kilo. Gimana kalau anakku tiga? Serem dah ngebayanginnya. T______T

Kita bisa bersyukur tentu saja ketika kita melihat di bawah kita. Iya, kan? Buat yang masih galau karena badannya melar, silakan mampir ke rumah sakit. Betapa banyak mereka yang kehilangan berat badan karena digerogoti penyakit.

Nggak mau kan kurus karena sakit?

Kalau dipikir-pikir, kenapa sih kebanyakan emak-emak jadi gemuk? Katanya karena banyak makan. Iyalah, siapa yang tega buang nasi sisa makan anak kita yang nggak habis? 

Kalau masalahnya di makanan sehat, yuk, mulai sekarang atur menu makanan kita menjadi lebih sehat yang sesuai dengan budget kita. Kalau menurut kita, makanan sehat itu nggak pakai micin atau penyedap rasa, silakan dipraktekkan. Kalau menurut dana kita, makanan sehat itu adalah bikin sendiri, silakan mulai bergabung di grup masak di FB atau buka google. Di sana bertebaran resep makanan sehat yang nggak bikin kantong bolong. Kalau menurut kita makanan sehat itu yang low sugar, kenapa tidak dicoba. Kalau menurut kita makanan sehat itu no lemak no kolesterol, sok atuh jangan pakai lama. Tapi inget, lemak juga dibutuhkan oleh tubuh ya selama dikonsumsi dalam jumlah wajar.

Gimana kalau masalahnya di olahraga? Kalau kita punya waktu berzumba ria atau ikut senam di RT sebelah, bisa tuh dimanfaatkan. Tapi kalau kita kemana-mana diekori si kecil, bisa manfaatin saat si kecil tidur. Asal kita nggak ikut ketiduran yaa. Hahahaha. Aku sering gitu soalnya. Saat si kecil tidur, kita bisa naik turun tangga atau menganyunkan tangan yang diberi beban buku tebal atau satu botol air mineral. Sederhana aja, yang penting rutin.

Intinya, kita yang ngatur diri kita ya, Moms. Bukan diatur. Supaya kurus itu harus begini harus begitu. No. Karena kita yang lebih paham dengan kemampuan tubuh kita sendiri.

So, jangan takut gemuk yaa...asal sehat mah nggak masalah. ^^



Jumat, 07 April 2017

Ketika Aisha Sekolah

Mi, kalau aku sekolah, Umi di rumah ngapain aja?

Ya kerjalah.

Itu kan kalau Umi masuk pagi. Kalau Umi masuk sore atau masuk malem?

Nyuci, nyetrika, beres-beres, nyapu

Oh, berarti nggak nulis yaa?

*krik krik krik


Hahaha.... Kritis juga dia.... 
*ngusap kepala

Jujur sih ya, kalau anak udah sekolah, suami berangkat kerja, kayaknya rumah tuh sepiiii banget. Apalagi aku masih bergelar mahmud abas alias mamah muda (*digetok palu, muda?? hallooo) anak baru satu. Hahaha. 

Nah, Aisha kan berangkat sekolah jam tujuh kurang seperempat, deket soalnya, pulang nganterin dia sekolah saya bengong cantik. Nggak juga sih sebenarnya, tugas negara udah menanti di depan mata minta dikerjain. Cucian yang numpuk, setrikaan yang menggunung, mainan dan segala macam barang berserakan, ditambah isi kulkas melambai-lambai minta diolah. Aku mah woles aja. Lha wong tanganku cuma dua (alhamdulillah) ya ngerjainnya satu-satu dong. 

Terus, intinya aku ngapain aja? Pulang abis nganterin Aisha, biasanya saya tidur dulu. Beneran. Apalagi kalau aku abis shift sore, pulangnya kan jam setengah sebelas malem sampe rumah. Selonjoran sambil minum susu coklah anget, trus byur byur sebentar, baru naik ke tempat tidur jam setengah dua belasan. Pak Suami? Udah tidur duluan dia. Biasanya aku nggak nulis, soalnya badan udah berasa remuk banget. Paginya, jam empat atau paling telat adzan shubuh, aku udah segera bangun, masak nasi de el el de el el...

Bayangin, gimana nggak ngantuk coba paginya. Makanya aku sempetin tidur barang sejam untuk mulihin stamina. Itu ekspektasinya, ya. Kenyataannya aku malah bangun jam sembilanan. Huhuhu.... nyeseeeelll banget. T______T Makanya, biar nyeselnya ngga terus-terusan, biar produktif gitu ceritanya, pas abis nganterin Aisha sekolah aku langsung nulis aja. Perjuangan melawan kantuk dan godaan bantal guling itu ternyata berat, sodara-sodara. Tapi.... aku kan udah bertekad. Hehehe. 

Jadi akhirnya, aku ngisi blog dulu, ngerjain naskah komik yang nggak kelar-kelar, bikin status, pokoknya apapun deh di depan laptop supaya ngantuknya minggat. Minum kopi? Lambung suka teriak-teriak bikin nggak nyaman. 

Kalau hasrat nulis udah terpenuhi, baru deh ngerjain tugas negara. Kan jadi semangat gituh... Yaaa, selesai nggak selesai, kan nanti bisa dioperin ke Pak Suami, kerjaan apa aja yang belum beres. Macam timbang terima gitu kalau pergantian shift di rumah sakit. Hahahaha.... Dan aku bisa berangkat shift dengan nyaman. Yehaaaa...

Kalau kamu, apa kegiatanmu saat sendiri di rumah? 


Minggu, 02 April 2017

#MemesonaItu Saat Mampu Mengelola Emosi





Dalam dunia kerja, adalah hal yang lumrah jika kita bersinggungan dengan rekan kerja. Ada saja alasannya. Misal soal pelimpahan pekerjaan, tugas dari team sebelumnya yang menurut kita nggak pas, bahkan sering terjadi team sebelumnya yang mengerjakan tugas, team kita mengimplementasi, eh ada kesalahan, team kita yang kena masalah. Nyebelin memang. 

Ada yang senasib? Please, ngacung. Biar aku ada temannya. Hehehe..

Tapi sebelum kita ngomel-ngomel, marah-marah nggak jelas yang bikin ilfill dan jelas nggak akan ngembaliin kondisi, mendingan kita ke kantin. Pesan es susu coklat yang lezat. Eh, apaan sih? Kok melenceng.

Ups, sorry. 

Iya, kita marah-marah, menggebrak meja sampai memarahi teman satu team karena kesalahan team sebelumnya adalah tindakan yang sama sekali nggak dewasa. Apalagi di dinding kantor jelas tertulis 'No Blamming Culture'. Lebih baik kita cari solusinya bareng-bareng, sambil mengingatkan baik-baik.