Rabu, 26 April 2017

Aisha Kena Cacar Air




Pokoknya aku nggak mau ngaca lagi!

Lha, kenapa?

Mukaku nggak cantik lagi (kemudian nangis)

Ntar juga sembuh kok

Aku juga nggak mau keluar rumah

Di teras aja nggak apa-apa

Nggak mau! Aku maluuu... (nangis lagi)

Ya udah, mainnya di rumah aja

Boseeennnn....! (nangis untuk kesekian kalinya)

.

Senin, 10 April 2017

Big Size Juga Anugerah

Sebenarnya ini bahasan klasik banget. Udah banyak teman-teman medsos yang menulis tentang perempuan yang jadi gemuk setelah menyandang gelar Ibu. 

Tapi... tiba-tiba suami nyeletuk, nggak usah diet lah. Syukuri aja, banyak kok yang malah kepengin gemuk. 

Tentu saja blio ngomong demikian karena aku habis tepar. Ini adalah kedua kalinya aku sakit semenjak aku memutuskan untuk diet. Entah dietku yang salah atau emang badanku yang perlu nutrisi lebih banyak. Hanya Allah SWT yang tahu. 





Dan, mendadak aku inget obrolan iseng saat sedang mengganti infus pasien KP. Ya, si pasien curhat dan aku dengerin dan akhirnya aku lama keluar dari kamarnya. Begitu keluar dari kamarnya, aku langsung buang masker ke tempat sampah infeksius dan cuci tangan 6 langkah. Ehh, ini ngomongin apa sih? Sorry, itu aku lagi ngomongin protap. Hahahaha. 

Jadi, aku minta tolong keluarga pasien untuk menggeser bed supaya aku bisa masuk. Secara, standar infus pasien itu  berada di dekat tembok, bukan di pinggir bed, karena tangan yang diinfus memang bersisian dengan tembok. 

"Bu, tolong bantu saya menggeser ya, saya gemuk nih, jadi nggak bisa masuk," canda saya. Niatnya begitu. Sambil tersenyum si ibu pasien membantu saya. 

"Mbak nggak gemuk kok, ideal," sahut si pasien menanggapi candaanku yang garing. Saya hampir melayang saking senangnya dibilang ideal *lebay mode on* 

"Cuma Mbak loh yang bilang badan saya ideal, yang lain nggak pernah bilang begitu," jawab saya setengah tertawa. 

"Dulu saya juga gemuk Mbak, semok kalau kata orang. Tapi sejak saya sakit paru-paru, berat badan saya terus menyusut," katanya sedih. Aku sukses bengong cantik. Iya sih percaya, wajahnya cantik gitu, masih muda lagi. Belum nikah juga. 

Aku bingung mau ngomong apa. Akhirnya aku cuma bisa tersenyum, "Semoga Mbak sabar, ya... Kalau udah sembuh pasti bisa gemuk lagi badannya." Weleh, bijak amat saya ya...

"Semoga Mbak, tapi kakak saya meninggal karena penyakit ini," ujarnya sambil mengelap air mata. Loh kok jadi nangis? *tepok jidat (dalam pikiranku doang)* Aku jadi salting sendiri, sepertinya aku salah menanggapi. 

"Maaf ya, Mbak," aku kehabisan kata-kata. "Infusnya sudah saya pasang, saya pamit." Lalu aku buru-buru keluar dari kamarnya. 

Bersyukur. Bersyukur. Bersyukur. Tak henti-hentinya kata-kata itu terus berputar di otakku. Jika menjadi gemuk adalah pemberian Tuhan kenapa kita memberatkan diri sendiri. 

Mungkin bisa jadi dietku yang salah. Sudah tahu sering begadang, kerjaan di bangsal cukup menguras tenaga dan pikiran, belum ditambah pekerjaan rumah yang menurutku sudah termasuk olahraga, kenapa kok nggak nyiapin tenaga ekstra dengan makan yang cukup? Kenapa memaksakan diri harus makan ini nggak boleh makan itu, padahal tubuh belum mampu? 

Mungkin memang kita harus makan makanan yang sehat, olahraga teratur, jangan makan malam setelah jam enam sore dan seterusnya dan seterusnya.... Iya, kalau dana mencukupi, iya kalau waktu terpenuhi, iya kalau nggak kelaparan saat shift malam walau RS udah ngasih snack. 

Mungkin belum terbiasa. Boleh jadi. Mau melanjutkan proses pembiasaan itu? Silakan. Asal kita bisa memastikan agar tak perlu mengorbankan orang lain. Terutama anak dan suami. 

Ukur diri sendiri ya Mak. Apa yang orang lain lakukan pada diri mereka belum tentu cocok di kita. Sepanjang suami enjoy ngajak kita ke kondangan, asik aja gandeng tangan kita di mall, nggak absen ngasih nafkah batin, anak tetap terurus, kenapa musti mikirin pendapat orang lain. 

Gemuk pun kalau saat medical check up kita dinyatakan sehat, pasti seneng banget kan? Iyalah. Tes darah normal. Jantung paru no problem. Gigi sehat. Nikmat Tuhan yang manakah yang kau dustakan?

Ada banyak cara untuk menjadikan tubuh kita bak biola tanpa perlu menyusahkan diri sendiri. Tentu cara itu hanya kita yang paham. Tak perlulah tergoda sama olshop yang rajin banget ngiklanin obat pelangsing. Atau meniru menu makanan sehat yang bersliweran di share orang, padahal menu itu kalau dihitung-hitung bisa menghabiskan pos makan dua kali lipat. Plus belum tentu dimakan juga. 

Inget loh, definisi ideal itu disesuaikan sama tinggi badan juga. Ideal ya, bukan langsing. Karena kalau udah ngomongin langsing masing-masing individu bisa berbeda penafsirannya.

Nggak munafik, aku kadang iri sama teman-temanku yang badannya tetap langsing walau udah punya anak tiga. Aku aja, baru punya anak satu, naiknya berkilo-kilo. Gimana kalau anakku tiga? Serem dah ngebayanginnya. T______T

Kita bisa bersyukur tentu saja ketika kita melihat di bawah kita. Iya, kan? Buat yang masih galau karena badannya melar, silakan mampir ke rumah sakit. Betapa banyak mereka yang kehilangan berat badan karena digerogoti penyakit.

Nggak mau kan kurus karena sakit?

Kalau dipikir-pikir, kenapa sih kebanyakan emak-emak jadi gemuk? Katanya karena banyak makan. Iyalah, siapa yang tega buang nasi sisa makan anak kita yang nggak habis? 

Kalau masalahnya di makanan sehat, yuk, mulai sekarang atur menu makanan kita menjadi lebih sehat yang sesuai dengan budget kita. Kalau menurut kita, makanan sehat itu nggak pakai micin atau penyedap rasa, silakan dipraktekkan. Kalau menurut dana kita, makanan sehat itu adalah bikin sendiri, silakan mulai bergabung di grup masak di FB atau buka google. Di sana bertebaran resep makanan sehat yang nggak bikin kantong bolong. Kalau menurut kita makanan sehat itu yang low sugar, kenapa tidak dicoba. Kalau menurut kita makanan sehat itu no lemak no kolesterol, sok atuh jangan pakai lama. Tapi inget, lemak juga dibutuhkan oleh tubuh ya selama dikonsumsi dalam jumlah wajar.

Gimana kalau masalahnya di olahraga? Kalau kita punya waktu berzumba ria atau ikut senam di RT sebelah, bisa tuh dimanfaatkan. Tapi kalau kita kemana-mana diekori si kecil, bisa manfaatin saat si kecil tidur. Asal kita nggak ikut ketiduran yaa. Hahahaha. Aku sering gitu soalnya. Saat si kecil tidur, kita bisa naik turun tangga atau menganyunkan tangan yang diberi beban buku tebal atau satu botol air mineral. Sederhana aja, yang penting rutin.

Intinya, kita yang ngatur diri kita ya, Moms. Bukan diatur. Supaya kurus itu harus begini harus begitu. No. Karena kita yang lebih paham dengan kemampuan tubuh kita sendiri.

So, jangan takut gemuk yaa...asal sehat mah nggak masalah. ^^



Jumat, 07 April 2017

Ketika Aisha Sekolah

Mi, kalau aku sekolah, Umi di rumah ngapain aja?

Ya kerjalah.

Itu kan kalau Umi masuk pagi. Kalau Umi masuk sore atau masuk malem?

Nyuci, nyetrika, beres-beres, nyapu

Oh, berarti nggak nulis yaa?

*krik krik krik


Hahaha.... Kritis juga dia.... 
*ngusap kepala

Jujur sih ya, kalau anak udah sekolah, suami berangkat kerja, kayaknya rumah tuh sepiiii banget. Apalagi aku masih bergelar mahmud abas alias mamah muda (*digetok palu, muda?? hallooo) anak baru satu. Hahaha. 

Nah, Aisha kan berangkat sekolah jam tujuh kurang seperempat, deket soalnya, pulang nganterin dia sekolah saya bengong cantik. Nggak juga sih sebenarnya, tugas negara udah menanti di depan mata minta dikerjain. Cucian yang numpuk, setrikaan yang menggunung, mainan dan segala macam barang berserakan, ditambah isi kulkas melambai-lambai minta diolah. Aku mah woles aja. Lha wong tanganku cuma dua (alhamdulillah) ya ngerjainnya satu-satu dong. 

Terus, intinya aku ngapain aja? Pulang abis nganterin Aisha, biasanya saya tidur dulu. Beneran. Apalagi kalau aku abis shift sore, pulangnya kan jam setengah sebelas malem sampe rumah. Selonjoran sambil minum susu coklah anget, trus byur byur sebentar, baru naik ke tempat tidur jam setengah dua belasan. Pak Suami? Udah tidur duluan dia. Biasanya aku nggak nulis, soalnya badan udah berasa remuk banget. Paginya, jam empat atau paling telat adzan shubuh, aku udah segera bangun, masak nasi de el el de el el...

Bayangin, gimana nggak ngantuk coba paginya. Makanya aku sempetin tidur barang sejam untuk mulihin stamina. Itu ekspektasinya, ya. Kenyataannya aku malah bangun jam sembilanan. Huhuhu.... nyeseeeelll banget. T______T Makanya, biar nyeselnya ngga terus-terusan, biar produktif gitu ceritanya, pas abis nganterin Aisha sekolah aku langsung nulis aja. Perjuangan melawan kantuk dan godaan bantal guling itu ternyata berat, sodara-sodara. Tapi.... aku kan udah bertekad. Hehehe. 

Jadi akhirnya, aku ngisi blog dulu, ngerjain naskah komik yang nggak kelar-kelar, bikin status, pokoknya apapun deh di depan laptop supaya ngantuknya minggat. Minum kopi? Lambung suka teriak-teriak bikin nggak nyaman. 

Kalau hasrat nulis udah terpenuhi, baru deh ngerjain tugas negara. Kan jadi semangat gituh... Yaaa, selesai nggak selesai, kan nanti bisa dioperin ke Pak Suami, kerjaan apa aja yang belum beres. Macam timbang terima gitu kalau pergantian shift di rumah sakit. Hahahaha.... Dan aku bisa berangkat shift dengan nyaman. Yehaaaa...

Kalau kamu, apa kegiatanmu saat sendiri di rumah? 


Minggu, 02 April 2017

#MemesonaItu Saat Mampu Mengelola Emosi





Dalam dunia kerja, adalah hal yang lumrah jika kita bersinggungan dengan rekan kerja. Ada saja alasannya. Misal soal pelimpahan pekerjaan, tugas dari team sebelumnya yang menurut kita nggak pas, bahkan sering terjadi team sebelumnya yang mengerjakan tugas, team kita mengimplementasi, eh ada kesalahan, team kita yang kena masalah. Nyebelin memang. 

Ada yang senasib? Please, ngacung. Biar aku ada temannya. Hehehe..

Tapi sebelum kita ngomel-ngomel, marah-marah nggak jelas yang bikin ilfill dan jelas nggak akan ngembaliin kondisi, mendingan kita ke kantin. Pesan es susu coklat yang lezat. Eh, apaan sih? Kok melenceng.

Ups, sorry. 

Iya, kita marah-marah, menggebrak meja sampai memarahi teman satu team karena kesalahan team sebelumnya adalah tindakan yang sama sekali nggak dewasa. Apalagi di dinding kantor jelas tertulis 'No Blamming Culture'. Lebih baik kita cari solusinya bareng-bareng, sambil mengingatkan baik-baik.