Minggu, 02 April 2017

#MemesonaItu Saat Mampu Mengelola Emosi





Dalam dunia kerja, adalah hal yang lumrah jika kita bersinggungan dengan rekan kerja. Ada saja alasannya. Misal soal pelimpahan pekerjaan, tugas dari team sebelumnya yang menurut kita nggak pas, bahkan sering terjadi team sebelumnya yang mengerjakan tugas, team kita mengimplementasi, eh ada kesalahan, team kita yang kena masalah. Nyebelin memang. 

Ada yang senasib? Please, ngacung. Biar aku ada temannya. Hehehe..

Tapi sebelum kita ngomel-ngomel, marah-marah nggak jelas yang bikin ilfill dan jelas nggak akan ngembaliin kondisi, mendingan kita ke kantin. Pesan es susu coklat yang lezat. Eh, apaan sih? Kok melenceng.

Ups, sorry. 

Iya, kita marah-marah, menggebrak meja sampai memarahi teman satu team karena kesalahan team sebelumnya adalah tindakan yang sama sekali nggak dewasa. Apalagi di dinding kantor jelas tertulis 'No Blamming Culture'. Lebih baik kita cari solusinya bareng-bareng, sambil mengingatkan baik-baik. 


Ingat, bisa jadi kita ada di posisi mereka. Bisa jadi kita bikin kesalahan yang lebih gede dari mereka. Kenapa? Karena kita sama-sama sedang bekerja. Namanya orang kerja hampir selalu dipastikan mereka pernah bikin kesalahan. Bukan dimaklumi. Tapi dicari solusinya bareng-bareng. 

Please, saat bekerja, jika kita bukan bos, atau pemilik perusahaan, nggak perlu sebegitunya sama teman sendiri. Hargai usaha mereka sebagaimana kita ingin hasil kerja kita dihargai.

Makanya, jika aku ditanya tentang #MemesonaItu... aku jawab saat mampu mengelola emosi dengan cerdas dan elegan. Jarang loh ada orang yang bisa tersenyum manis dan stay cool walau di hati pengen banget gigit cangkul. Nggak semua orang bisa tetap menata kalimatnya dengan baik dan anggun meski dalam hati pengen banget nyakar tembok. 

Nggak enak memang dimarahi karena kesalahan rekan kita yang lain. Tapi nggak perlu juga diwujudkan dengan emosi yang meletup-letup seakan kita yang paling sempurna. Nggak pernah salah. 

Adakah yang kayak gitu dalam dunia kerja? Banyak.

Kata Rasulullah SAW, jangan marah, bagimu surga. 

Kerja bareng anak baru?

Woles aja Broo... Mereka udah diterima di tempat kerja kita berarti mereka emang punya kualifikasi yang bagus. Mereka bisa kerja. Mereka dipercaya instansi. Cuma perlu sedikit arahan. Walau apa yang dikerjakan sama, tapi kadang aturan mainnya bisa beda. Katanya, lain ladang lain belalang. Lain lubuk lain ikannya. Lain tempat kerja bisa jadi lain peraturannya.

Kalau mereka salah? Ya tegurlah baik-baik. Jangan lupa kita juga pernah jadi anak baru. Dan kita bakalan sebel banget kalau senior kita ngomelin kita dengan kata-kata dan body languange yang bikin kita ilfill.

Kerja bareng team baru?

Bagus kan? Kita jadi punya pandangan baru. Pengalaman baru bareng orang-orang yang mungkin karakternya bikin kita kaget. Siapa tahu mereka punya solusi-solusi cerdas yang nggak kita pikirkan sama sekali. 

Kalau mereka bikin masalah? Please deh ah, positive thinking napa, penilain itu kan dari sudut pandang kita. Percaya deh, mereka bukannya sengaja bikin masalah. Tapi memang ada hal-hal yang mungkin nggak mampu mereka utarakan. Barangkali karena sikap kita yang sok punya banyak pengalaman sampai nggak mau nerima masukan. Namanya kerja team ya salah benar adalah tanggung jawab team itu. Evaluasi lagi. Cari akar masalahnya, cari penyelesaian terbaiknya. Dan itu dibahas bareng-bareng. 

Jangan mengedepankan emosi doang. Gitu.  

Kerja di lingkungan baru?

Kadang ada masanya kita dipindah atau dimutasi ke bagian tertentu. Panik? Jelas. Kuatir? Apalagi. Takut nggak bisa beradaptasi? Ini sih nggak usah ditanya. 

Kalau kita yang dipindah, seakan kita yang harus 'tahu diri', ya nggak sih? Aku pernah soalnya. Rasanya kayak belum pernah kerja. Biasanya kalau di sana begini, di sini lain lagi. Sama sih intinya. Tapi tetap aja rasanya beda. Berharap banget mereka mau ngertiin kita dengan segenap permakluman. Tapi nggak mungkin kan kayak gitu terus. Semua kan ada prosesnya. Adaptasi itu kan emang nggak segampang kedipin mata. Tetap berusaha. Dan sabar menghadapi kemungkinan penolakan. Tetap panjangkan usus kita, tak perlu membalas dengan emosi juga. Bisa-bisa kita langsung di-kick, karena dianggap kita kerja semau gue

Terus kalau kita yang kedatangan teman dari bagian lain, terimalah dia dengan tangan terbuka. Konon, dinosaurus itu punah karena ketidakmampuan mereka beradaptasi, jangan sampailah teman kita ini di-kick karena sikap sok dan kesombongan kita. Sama-sama nyari uang halal lho.. 

Ada yang emosi karena si teman ini terlalu banyak bertanya. Sebentar-sebentar bertanya. Lalu dijawab silakan nyari tahu sendiri. Iih... rasanya pengen ngunyah vialan obat injeksi. Aku pernah dikayak gituin soalnya. Hehehe. 

Sekali lagi, positive thinking. Mereka nanya karena mereka nggak tahu. Mereka lagi beradaptasi. Sabar dong, proses adaptasi masing-masing individu kan berbeda. Nanti kalau mereka nggak tanya terus melakukan ala bagian mereka sebelumnya terus ternyata beda, mereka diomelin. Katanya, kenapa nggak nanya?! 

Tepok jidat deh. Nanya salah. Nggak nanya pun salah. Dunia oh duniaaa....

Demi semangat cinta instansi yang udah ngasih kesempatan kita berkarya dan bermanfaat untuk orang lain, yuk, jadi pribadi yang memesona. Demi keluarga yang bangga sama kita, yuk, setir emosimu. Jangan kebalikannya. 

Kelola emosi dengan elegan. Nggak usah marah-marah jika ada masalah. Agar orang lain juga bisa menilai kita sebagai pribadi yang siap menghadapi tantangan dan perubahan. 

Are you ready? 



1 komentar :

herva yulyanti mengatakan...

kerja sama orang yang ngeselin emang bikin emosi mba wkwkwk terlepas dia anak baru atau apa >>sabar..sabar :p