Sabtu, 20 Mei 2017

Apakah Sekedar Jual Beli Semata?


Curhat tengah malam.

Ceritanya beberapa hari yang lalu saya membeli beberapa bungkus makanan ringan dari seorang teman jaman saya masih unyu-unyu dulu. Sebut saja namanya Mawar. 

Lalu muncul WA dari seorang teman seangkatan, panggil saja Melati. Begini obrolannya. 
Saya (A) Melati (M) dengan redaksi disesuaikan.

M =  Ri, kamu beli snacknya Mawar nggak? Tadi dia nawarin ke aku.
A  =  Iya, beli. Enak kok. 
M = Beli? Rugi kamu, Ri. Di toko ANU (sambil menyebut sebuah toko oleh-oleh terkenal di Cilacap) harganya lebih murah. Bedanya tiga ribu sendiri. Lagian di toko itu jelas lebih terjamin kebersihannya.
A  =  (pake emot ketawa) Masa sih? Ngapain aku harus jauh-jauh ke toko itu kalau ada yang lebih deket nawarin? Hehehe.
M = Ah, kamu beli karena kasihan kali ya? Kamu kan emang gitu. Suka baperan. Gampang kepenginan. Apa-apa dibeli. Ya kan? 
(Eitss... ni orang judgementnya to the point banget. Tanpa tedeng aling-aling) Dan saya mulai emosi. 
A = Terserah saya dong ya... 
(selepas itu dia chat minta maaf kalau bikin saya tersinggung dan saya enggan menanggapi. Hanya memberi jempol saja) Sepertinya perubahan kata aku menjadi saya itu cukup membuatnya tahu kalau saya tersinggung. Hehehe.


Nah, berhubung ini adalah blog pribadi saya. Maka, saya akan membuat PEMBELAAN. 
.
LOL
.
 --> Saya baperan? Iya. Gampang terharu? Banget. Suka nggak tegaan? Betul. Terus, saya salah? 

Gampang kepenginan? Apa-apa dibeli? Sebentar, ini sebenarnya mau ngomong apa. Saya gagal paham. 

Baiklah. Saya akan memberitahu logika saya. 

Jika seorang teman datang, yang kita tahu gimana karakternya, yang kita tahu persis gimana kehidupan rumah tangganya karena viral dalam circle grup kita, lalu menawarkan dagangan kecil-kecilannya, apa salahnya jika kita membantunya?

Barangkali dengan membantu membeli dagangannya, kita bisa membuatnya bisa menghidupi anak-anaknya. Barangkali dengan membeli sedikit dagangannya, kita bisa membantunya menabung untuk menghadapi tahun ajaran baru yang sudah di depan mata. 

Ayolaah, akui saja. Bagi sebagian besar anak-anak, nggak peduli dari ekonomi manapun, tahun ajaran baru identik dengan perlengkapan sekolah yang baru. Iya, kan? Sebagai orangtua tentu kita akan berusaha untuk tidak mengecewakan mereka, bukan?

--> Rugi dong, di toko anu lebih murah tiga ribu rupiah. Duit itu loh. Tahu teori ekonomi nggak sih?

Jaman sekarang membandingkan harga udah nggak perlu survei sana sini. Gerakkan jarimu. Jelajahi dunia internet yang luas. Jalan-jalan ke marketplace, kamu akan menemukan banyak barang yang sama dijual dengan harga yang berbeda-beda. 

Tapi, apa sih arti seribu, dua ribu, tiga ribu perak dibandingkan melihat senyum kawan kita karena dagangannya kita beli? Sungguh, hati kita akan ikut tersenyum. 

--> Di toko anu lebih terjaga kebersihannya, loh. 

Yakin? Emang situ pegawainya? Silakan bully saya, tapi entah kenapa saya lebih percaya pada kualitas dagangan teman sendiri. Walau nggak dikemas seciamik yang dijual di toko, saya percaya, teman yang baik tak akan membahayakan kita. Tak akan mungkin membuat kita keracunan. Tambahlah kita paham bagaimana akhlaknya. 

 .

Kembali lagi, saya juga kadang nggak enak hati kalau terpaksa harus menolak membeli dagangan beberapa teman. Nggak munafik, kadang logika derajat butuh nggaknya saya terhadap barang tersebut ikut mempengaruhi mau tidaknya saya membeli. Duh, bahasanya ribet amat yaa... 

Maafkan.... T___T

Tapi saya nggak pernah keberatan kok di-tag dagangan orang di facebook. Lha, kan mereka cuma nawarin. Lagian setiap saya di-mention, di Tinjauan Kronologi, selalu muncul pilihan Tambahkan ke Kronologi atau Sembunyikan. Tinggal klik Sembunyikan saja kan, kalau kita nggak berkenan dengan apa yang dia tawarkan.

Sesederhana itu. 

Tapi, ya, tetap kita harus menghargai saat ada teman yang nggak suka di-tag dagangan. Sifat orang beda-beda, kan? Kalau sama dunia nggak akan indah. Hehehe.

So, kesimpulannya, (lagi-lagi) menurut logika saya, jual beli itu nggak sebatas mikirin untung atau rugi. Saat kita membeli dagangan teman sendiri, ada ikatan silaturahim terjalin di sana. Persahabatan dan persaudaraan terasa lebih erat. Rasa saling menghargai dan menyayangi juga akan meresap dalam hati kita.

Setuju?





1 komentar :

Bambang Irwanto mengatakan...

Padahal, kalau tidak ingin beli, tidak usah memberi komentar atau pendapat yang kurang sedap ya, Mbak Ariany.
Dan saya setuju, temannya jualan ingin mencari tambahan rezky. Jadi bila kita membeli dagangannnya, kita pun ikut membantu.