Kamis, 01 Juni 2017

7 Ucapan yang Sebaiknya Tidak Dikatakan Saat Mengunjungi Orang Sakit

AGAIN

AND AGAIN

Ada keluarga pasien yang datang ke nurse station sambil menahan tangis. Beliau datang untuk minta penjelasan atas sakit yang diderita oleh anaknya. Sebagai perawat, saya hanya menjelaskan sebatas kewenangan saya. 

Saya tanya kenapa kok sesenggukan gitu. Katanya beliau baru dijenguk tetangganya yang berkomentar nylekit. Si tetangga bilang, sakit anaknya parah. Udah kategori gawat. Beliau tanya pada saya apa benar begitu. Lalu setengah jam lebih saya mengedukasi beliau dan anaknya, tentu saja masih di jalur kewenangan saya.
.
.
DISCLAIMER : Kejadian ini udah beberapa hari yang lalu. Konsep tulisan ini juga udah lama ngendap di notes hape. Lupa. Ni baru sempet dieksekusi. LOL.




Waduh, gimana kalau keluarga kamu yang dapat omongan begitu. Perawat bukan, dokter bukan, kok bisa-bisanya bilang sakit parah. Udah gawat.

Kan kasihan pasien dan keluarganya. Kita yang tenaga medis aja, kalau emang sakitnya parah dan prognosanya jelek, kita akan bicara baik-baik dengan keluarganya di nurse station. Menjelaskan kondisi pasien apa adanya. Tertutup karena emang sifatnya rahasia. 

FYI, orang kalau lagi sakit itu jadi sensitif banget loh. Apalagi kalau udah jadi pasien, opname, dengan infus terpasang, yang sakit nggak cuman pasiennya tapi juga keluarganya. Keluarganya ikut bingung, ikut sedih, kadang malah jadi ikutan sakit. Nggak sedikit keluarga pasien yang datang ke nurse station minta ditensi karena mengeluh pusing dan mual. Hasilnya tensinya naik. Nggak heranlah, ikut nggak tidur juga. Makanya kita harus berhati-hati kalau bicara dengan pasien dan keluarganya.Salah-salah bukannya menyemangati malah bikin tambah sakit. Mikir soalnya. 

Iya, pikiran juga berpengaruh banget sama tingkat kesembuhan pasien. 
 
Mau nengok, boleh banget. Tapi tolong patuhi jam besuk rumah sakit atau klinik tempat pasien dirawat. Jaga intonasi suara kita. Yups, yang dirawat kan nggak cuma satu pasien tok. Terakhir, jaga ucapan kita. Jangan sampai bikin pasien dan keluarganya sedih. 

Nah, sekalian ngingetin diri sendiri mbok keceplosan, ada 7 kata-kata yang sebaiknya nggak diucapin waktu nengok orang sakit. 

Kok bisa sakit sih?
 
Sering kan, ya, kita nengok orang sakit trus langsung  nyeplos gitu. Sebenarnya nggak perlu jawaban juga. Namanya manusia, ujiannya bisa lewat sakit.

Kalau kita tanya kok bisa sakit, ya bisa lah. Emang kita robot gitu? Lagipula siapa sih orangnya yang pengen sakit. 
 
Mungkin pasien udah benar-benar jaga kesehatan.Segala makanan sehat dipatuhi. Kebersihan dijaga. De el el de el el. Tapi kalau sudah takdir Allah, dia sakit. Sudah tertulis di Lauh Mahfuzh, ya tetap sakit juga. Kan sakit juga sebagai tanda kasih sayang Allah. Kita diperingatkan. Dengan sakit itu insya Allah dosa kita berguguran. Iya, kan?

So, please, jangan tanyakan itu yaa...

Kok bisa sih sampai sakit? Kamu kan tenaga kesehatan..

Sumpah. Ini nylekiiiit banget. Kalau sehat aja, pengen jahit tuh bibir orang yang ngomong. Saya pernah soalnya. 

Guys, tenaga kesehatan itu juga manusia. Iya, mungkin mereka tahu cara mencegah sakit ini itu. Obat ini itu. Tapi tenaga kesehatan kan juga manusia. Bisa khilaf. 

Masa gitu aja harus dikasih tahu. -________-'

Eh, sodara aku sakit kayak kamu juga... trus jadinya malah merembet-rembet... ke jantung, ke paru...
 
Emang ada yang kayak gitu? Banyaaak..... 
 
Tipe begini perlu dilurusin lagi, niatnya nengok itu buat apa?  

Mending nggak usah nengok sekalian. Nggak ninggalin pikiran jelek. 

Harus dilakukan tindakan itu? Berarti sakit kamu parah dong. Gawat itu.
 
Busyet, dah. Buat yang ngomong begitu emang paham ya, tentang tindakan yang akan dilakukan pada pasien. Dasarnya apa? Pengalaman? 

Pengalaman orang menghadapi penyakit itu beda-beda. Kadang nggak sesuai sama klinisnya. Ada yang abis dilakukan tindakan malah sehat wal afiat. Ada juga yang harusnya malah membaik justru perlu penanganan lebih lama. Pemicunya banyak. Jadi jangan gampang menghakimi gawat atau tidak. 
 
(bisik-bisik ke sesama orang nengok) Wah, sodara aku sakit kayak dia. Nggak bertahan lama. Kasihan.

Ini bukan hoax. Saya pernah denger seorang ibu yang sedang menengok salah satu pasien di bansal saya bersama ibu-ibu lainnya dan bilang begitu!

Kalaupun iya, nggak gitu juga sampai harus terucap. Apalagi pas di rumah sakit. Pas nengok. Saya yang perawat, nggak ada hubungan apa-apa dengan si pasien aja agak tersentil dengernya, apalagi kalau sampai pasien atau keluarga pasien sendiri yang denger. 

Bisa sedih banget. Malah nggak sembuh-sembuh. 
 
Ya, panteslah nggak sembuh-sembuh, mondoknya aja di ruang kelas tiga...

Ini maksudnya apa? Situ mau bayarin biaya kalau naik ke kelas yang lebih tinggi? 

Itu komentar yang nggak bermanfaat sama sekali. Kesannya merendahkan pasien dan keluarganya banget. 
 
Kamu sakit apa sih? *kemudian nanya ke nurse station*
 
Keponya udah tingkat internasional. 
 
Begini ya, diagnosa penyakit itu adalah sifatnya rahasia. Dalam general consent yang ditandatangani oleh keluarga pasien, tertulis jelas siapa saja anggota keluarga yang boleh mengetahui penyakit pasien. Dan itu pasien atau keluarga pasien sendiri yang menuliskan. Jadi, kalau nama kamu nggak ada di general consent, ya perawat nggak akan ngasih tau. Kalaupun ngasih tau, paling sekedar keluhan saja. Bukan diagnosa medis dari dokter. 

So, nggak usah nanya-nanya lagi. Cukup doakan saja. Kasih semangat. Motivasi.
.
.
.
.
 
Barangkali teman-teman mau nambahin? Mungkin punya pengalaman pas ditengok orang trus kok rasanya nggak enak banger didengernya, share ya... 
 
Terakhir, mbok saya sendiri pernah ngucapin kata-kata di atas pas saya nengok teman-teman yang lagi sakit, saya minta maaf. Saya khilaf.  





1 komentar :

Bambang Irwanto mengatakan...

Benar sekali, Mbak Ariany.
kadang tanpa sadar, ucapan saat menjenguk, malah membuat sedih yang sakit.
Padahal maksud menjenguk kan, untuk menyenangkan dan memberi semangat agar segera sembuh.