Senin, 05 Juni 2017

Horornya Jadi Orangtua Jaman Sekarang

Seharian ini di grup WA beredar berita tentang siswi SMP yang gantung diri setelah dimarahi ibunya karena nilai ujian nasionalnya yang jauh dari kata memuaskan. Walau, ya, lulus. 

 

Seketika air mata saya mengalir. Ah, saya emang baperan. 

Sakit hatikah si anak itu? Atau sang bunda yang begitu kecewa pada anaknya? 

Kalau saya bilang mungkin keduanya. Tapi dengan alasan yang berbeda. Mungkin si anak merasa dia sudah belajar mati-matian, rela begadang agar kelak bisa melanjutkan ke SMA yang diharapkan, berdoa siang malam, lelah fisik dan batin karena harus ikut tambahan pelajaran yang cukup menyita energi, tapi hasilnya malah buruk. 


Sang bunda, mungkin beliau merasa sudah membayar lebih mahal untuk membiayai anaknya. Ikut les ini itu juga pakai uang kan? Berdoa, tahajud tiap malam mendoakan anaknya. Tinggi harapannya si anak mendapat nilai yang layak sehingga bisa masuk SMA yang diharapkannya.

Sama-sama kecewa. Jika tak disikapi dengan bijak, menimbulkan hal-hal di luar dugaan. Siapa yang menyangka, setelah dimarahi ibundanya, si anak membawa sepotong hatinya yang terluka, mampu mengambil keputusan sebesar itu. Bunuh diri. 

Saya menangis membaca kisah itu. Saya membayangkan si anak itu adalah anak saya. Sampai hatikah saya memarahinya kelak jika dia gagal dalam ujian nasionalnya? Apa yang akan saya lakukan jika hal itu sampai terjadi? Na'udzubillahi mindzalik. 

Okey, saya memang baru memiliki satu orang anak, tentu saja pengetahuan saya, pengalaman parenting saya tidak sebanyak ibu-ibu yang memiliki anak lebih dari satu. Tapi ijinkan saya mengurai isi hati saya. 

.
.
Apakah Bunda pernah melihat video edukasi tentang Diva? Saya punya banyak koleksinya karena anak saya menyukainya. Ada satu cerita Diva yang menyadarkan saya sebagai orang tua. Bahwa setiap anak itu punya bakat dan kesukaan yang berbeda-beda. Bahwa ternyata, setiap anak itu pintar. Silakan cari di youtube, kalau perlu beli DVD nya di supermarket.
.
.
Sungguh, Bunda. Saya pernah berada di posisi itu. Ketika saya berharap Aisha mendapat nilai bagus untuk matematikanya. Kenapa? Karena saya yakin saya sudah mengajarinya benar-benar. Aisha pun bisa mengerjakan soal-soal yang saya berikan dengan sempurna. Saya bahkan cuti demi menungguinya ujian semester. 

Tapi apa, alangkah kecewanya saya, saat pulang sekolah, Aisha mengatakan, "Mi, aku ikut ujian remidi matematika." 

Deg. Saya yang baperan mendadak terdiam. Luluh sudah harapan saya yang memang saya ucapkan di dalam hati. Ya, saya tak pernah bilang bahwa saya menargetkan Aisha dapat nilai sekian untuk mapel ini atau itu. Orangtua saya juga tak pernah melakukan itu. Ayah saya cuma bilang, cukup naik kelas saja, itu sudah sangat membantu papa, naik kelas walaupun nilaimu minimalis. Saya bertanya, kenapa?. Ayah saya jawab, karena belum tentu kamu akan membutuhkan pelajaran-pelajaran itu dalam hidupmu kelak.

Melihat saya yang diam saja, Aisha lalu menambahkan, "Umi marah, ya? Semua anak di kelasku juga ikut remidi kok, Mi," lanjutnya. Saya memaksakan seulas senyum. Ingat apa yang dikatakan ayah saya. "Tak apa, nanti malam kita belajar lagi." 

Selesai. Aisha belajar dengan hati yang lebih lega. Dia memainkan jari-jarinya sambil tertawa karena terkadang kelewatan menghitungnya. Saya juga senang. Saya mampu mengendalikan diri siang itu. Doa saya, nilai remidinya lebih bagus. Dan, ya, dia dapat nilai pas sesuai yang ditargetkan sekolah. 
.
.
Sebagai orangtua kadang kita begitu egois terhadap anak kita sendiri. Lupa bahwa sejatinya anak kita adalah cetak biru kita sendiri. Begitu inginnya anak kita jago matematika, padahal kita sendiri nggak pandai matematika. Tak adil, bukan? Akan lebih baik jika kita melihat apa yang menjadi kesukaannya. Barangkali di sanalah bakatnya. Saya ingat, saat SMA, saya punya teman yang pindah sekolah karena dia berminat di kelas Bahasa. Sedangkan kala itu SMA saya belum membuka kelas Bahasa. Saya baru menyadari, orangtuanya sangat bijak memenuhi keinginan anaknya itu. Karena sejak kelas satu, kami, teman sekelasnya tahu, dia tertarik mempelajari berbagai bahasa asing.

Jadi, masihkah mau memarahi anak kita saat ternyata nilai ujiannya tak seperti yang kita harapkan? Aisha sekarang juga sedang ujian kenaikan kelas. Saya pun ambil cuti. Tak hentinya berdoa agar dia bisa mengerjakan soal-soal ujiannya. Karena, sejak naik kelas 2, minat belajarnya turun. Dia lebih suka mengajak saya ke perpustakaan daerah demi membaca buku cerita. Dia menagih saya buku cerita baru tiap bulan. Alhamdulillah, dengan rizki dari Allah SWT saya berusaha memenuhi permintaannya. Tentu dengan syarat, saya yang memilihkan. 

Aisha asyik milih buku di pameran buku Gramedia
Seorang teman pernah nyeletuk, jadi orangtua jaman sekarang itu horor banget. Meleng sedikit aja, anak bisa kenapa-napa. Kebanyakan main gadget bisa begini begitu, ceroboh sebentar anak jadi korban penculikan. Ngomong sedikit keras, anak ikutan emosi, orang bilang itu kebanyakan nonton sinetron. Endebre endebre.

Ah iya juga yaa. Tapi atasan saya juga dulu pernah bilang, anak itu ibarat bangunan. Kita arsiteknya. Mau dibikin bangunan seperti apa itu tanggung jawab kita. Dan sudah jelas, jika kita ingin mendirikan bangunan yang kokoh, tahan panas dingin, tentunya kita butul tools yang berkualitas. Itulah tugas kita. Memberikan sebanyak mungkin tools yang baik, yang bisa dia teladani, yang bisa menjadi pegangan dia. Utamanya adalah kita harus tanamkan baik-baik, bahwa ada Allah SWT  di sampingnya, yang akan membantunya, sepanjang kita berdoa padaNya. 
.
.
Kembali pada kasus anak SMP itu, sungguh, itu merupakan tamparan keras bagi semua pihak. Orangtua, pendidik, dan masyarakat. Bagaimanapun juga stigma 'nilai adalah segalanya' masih menjadi ukuran di masyarakat. Menajdi bahan pergunjingan gurih di antara ibu-ibu jika nilai sang anak tidak sesuai harapan. 

Rumah sakit tempat saya bekerja menerapkan budaya No Blamming Culture, tidak ada saling menyalahkan. Saya berusaha menerapkannya juga di rumah. Menahan emosi saat anak saya bersikap tak seperti yang saya inginkan. Jangan lupa, lingkungan juga mempengaruhi. 

Sebagai penutup, saya ingin mengingatkan diri saya sendiri. Ada meme yang beredar, bahwa jangan mengotori hari yang suci dengan pertanyaan basi semacam kapan nikah? kapan punya anak kedua? kapan kuliah lagi? dan sebagainya. Saya hanya menambahkan, agar kita sebagai orangtua juga tidak menanyakan, rangking berapa? Berapa nilai tertinggimu? Ada nilai seratusnya nggak? dan seterusnya. Cukup kita sapa, "Naik kelas, kan?" Saya bayangkan anak yang kita tanya mengangguk, lalu kita puji dia, "Hebat, ya." Si anak pasti akan tersenyum bangga, begitu juga orangtuanya. ^__^

Sungguh, bisa naik kelas pun merupakan sebuah prestasi yang sudah seharusnya diapresiasi. Tak perlu ditambahi pertanyaan embel-embel yang justru memojokkannya. 




2 komentar :

Nindi Fanswari mengatakan...

sepaham mba. nilai bukan segalanya kok. attitudes, tanggung jawab, disiplin, emotional intelligence, oenguatan karakter, pendidikan agama, yg seharusnya lebih diutamakan untuk memoerkokoh mentalnya dewasa kelak. semangat ya kk aisha dan bunda.

Ariany Primastutiek mengatakan...

Setuju Bun... Tapi kan tetap ada aja yang berpandangan nilai ujian itu segala-galanya..

Makasih, Bun, udah mampir ^^