Jumat, 28 Juli 2017

Anak dan Buku


foto by google



Aisha lagi mempelajari tentang hak dan kewajiban. Dalam buku tematiknya, dia mencatat apa itu hak apa itu kewajiban.

Jadi, hak adalah sesuatu yang harus kita terima.

Kewajiban adalah sesuatu yang harus kita lakukan.

Hak dan kewajiban dan seimbang.

Kayak gitulah intinya. Dijabarin hak dan kewajiban dia sebagai anak, sebagai murid, dan seterusnya.




dokumen pribadi

Nggak tau gimana ceritanya, tiba-tiba dia nanya, baca buku itu hak atau kewajiban? Saya paham kenapa dia nanya soal itu, karena emaknya ini emang mewajibkan dia baca buku minimal dua atau tiga halaman sebelum tidur. Kebiasaan ini udah dari dia kecil. Awalnya saya bacain, sejak dia udah bisa baca, dia pilih baca sendiri.


dokumen pribadi

Sebagai emak yang cerdas (ehm...) saya jawab, bisa hak bisa juga kewajiban. Eh, ini yang saya uraikan udah disesuaikan yaa... nggak pakai bahasa anak delapan tahun.

Menurut saya, membaca buku menjadi hak karena setiap anak berhak atas ilmu pengetahuan. Selain pengalaman, tentu pengetahuan bisa diperoleh dari buku bacaan. Makanya, tiap sekolah pasti punya perpustakaan.

Kita juga bisa membuat perpustakaan pribadi di rumah. Saya yakin dengan mendekatkan anak pada buku, mereka akan tahu kemana mencari pembenaran atas informasi yang diperolehnya. Nggak serta merta percaya. Lalu menceritakan pada orang-orang. (Mengingat anak saya sendiri suka bercerita).

Anak saya nggak suka baca, keluh seorang ibu pada saya. Saya balik nanya, Ibu suka membaca? Dia mesem-mesem, iya, baca buku tabungan, jawabnya. -____-
Saya bilang ke blio, kalau ibunya aja nggak suka baca gimana anaknya mau nyaman dengan buku?

Ayolah, Mom. Kalau beli SK II aja nggak pernah absen. Setiap minggu nungguin paket baju olshop. Makan di restoran dianggarkan tiap bulan, shopping di luar kebutuhan rumah tangga masuk list belanja wajib, kenapa anak kita nggak dibeliin buku barang sebiji?

Ada survey yang bilang minat baca orang Indonesia itu sangat rendah. Nggak heran, mereka gampang percaya sama berita hoax. Males baca, males cari informasi soalnya.

Tapi untuk anak-anak, saya kurang setuju sama survey itu. Teman-teman anak saya di lingkungan rumah, sering pada main cuma pengen baca buku-bukunya Aisha. Saya tanya, memangnya di rumah nggak ada buku cerita? Jawab mereka, mama papaku nggak pernah beliin buku. Nah loo...Masa nyalahin anak dengan bilang nggak suka baca, padahal karena emang nggak difasilitasi oleh ortunya.

Kewajiban orangtua loh ya memberi pendidikan pada anak-anaknya sebatas kemampuannya.

Saya nanya lagi, pinjam buku di perpustakaan daerah saja. Buku anak-anaknya lengkap. Mereka malah balik nanya, perpustakaannya di mana? Saya tepok jidat. Sementara Aisha sibuk ngasih ancer-ancer letak perpustakaan daerah. Dia hapal banget. Dia sering banget saya ajak ke sana. Bahkan saya buatkan dia kartu anggota, (ini juga gegara dulu pas TK ada kunjungan ke perpustakaan), hehehe. Dengan kartu itu, dia kan berasa jadi anggota perpustakaan yang pasti bukin dia bangga dan senang.


dokumen pribadi
Sudah tercerahkan untuk beliin si kecil buku? Alhamdulillah. Tapi kendali tetap ada di tangan kita ya, Mom, kita yang pilih bukunya, kita yang pertama baca bukunya juga. Kecuali buku yang kita beli untuk anak kita sudah banyak direview dan kita simpulkan bahwa buku itu aman untuk anak kita.

Misalnya buku yang sudah saya review di blog saya yang satunya. Ketika Buku Bercerita. Monggo mampir. ^___^
.
.
Lalu membaca buku itu menjadi kewajiban saat si kecil menghadapi masalah dan jawaban yang dia terima tak memuaskan. Misal, pernah dia membaca sebuah peribahasa dalam sebuah buku, lupa-lupa ingat diananya ke omnya. Omnya malah bercanda dengan ngasih jawaban yang keliru. Merasa nggak sreg dia langsung nyari buku komik peribahasa dan langsung menunjukkan artinya pada omnya. Omnya cuma tertawa aja.

Iya, membaca itu wajib saat kita menerima berita yang sifatnya masih simpang siur kebenarannya. Baca artikel lain, baca pandangan-pandangan dari pakarnya, itu membuat kita jadi lebih bijak. Sehingga kita pun bisa memberi komentar yang membangun bukan menjatuhkan.
.
.
Anak itu peniru yang baik ya, Mom. Apa yang kita lakukan plek jiplek bakal dia ikutin kalau kita nggak ngasih pengertian yang masuk akal menurut dia. Percaya, kan? Termasuk soal membaca ini. Mulai saat ini paksa diri kita untuk membaca beberapa buku dalam seminggu. Kalau membeli dirasa mahal sekali, bisa pinjem di perpustakaan daerah. Supaya apa? supaya kita dan anak kita menjadi manusia yang beradab, berempati pada orang lain, menghargai perbedaan, dan berpikiran jernih saat mengahdapi masalah. Serta menanggapi masalah orang lain dengan tanpa menghakimi.



Siap, Mom?

#self_reminder

Tulisan ini bertema Hari Anak Nasional sebagai tugas Kelas Menulis Blog Seru #2






6 komentar :

mery kusyeni mengatakan...

Aku siap mba... Tp belum punya anak hehe. Semangat mba.

Bintang Arini mengatakan...

ada tahapan jenis buku di setiap usiakah mbak?

prasasti ika mengatakan...

bagus mba blognya.

Ariany Primastutiek mengatakan...

Makin semangat buat nikah, ya, Mbak... Saya doain, insya Allah... ^^

Ariany Primastutiek mengatakan...

Iya, Mbak. Kalau jenis picbook ada usia sasaran si anak. Cara menyampaikan isinya juga beda. Buat anak usia prasekolah biasanya kata-katanya sedikit tapi bertenaga.

Ariany Primastutiek mengatakan...

Makasih, Mbak ^^