Senin, 28 Agustus 2017

Tips Jualan Laris Manis

Sejak beberapa hari yang lalu, saya memutuskan untuk berjualan bawang. Segala jenis bawang saya jual. Bawang merah, bawang putih apel, bawang putih kating, bawang bombay bahkan bawang tunggal.
.
Saya memilih jualan bawang karena setelah saya survey di grup jualannya RSI Fatimah, belum ada teman yang berjualan bawang. Istilahnya saya nggak ngerebut lapak teman sendiri kan yess... Hehehehe... Alhamdulillah, reaksi teman-teman di RSI membuat saya makin bersemangat berjualan karena mereka membeli bawang jualan saya. Matur nembah nuwun kanggé rencang-rencang kula teng RSI Fatimah Cilacap. 😊😊
.
.
Dan, yess, selain paksu, mama saya adalah orang sangat mendukung saya saat saya bilang saya ingin berjualan bawang. Lalu mengalirlah wejangan-wejangan tentang etika dan tata krama berjualan yang diberkahi Gusti Allah. Mama saya bilangnya tips, kalau saya malah ke arah pantangan-pantangan gitu. Hehehe. Masih sedikit nyambung lah yaa. Maklum, mamaku adalah generasi orang dulu yang begitu percaya sama adat 'orang-orang tua'. Bahasa lainnya, kejawen gitu lah.
.
Walau jaman dulu belum ada olshop yang menjamur kayak sekarang ini. Belum ada marketplace yang bikin lupa diri karena tawaran diskon itu. Tapi insya Allah tips ini bermanfaat juga buat penggiat online shop ataupun offline shop.
.
Oh nggak, saya nggak akan ngomongin soal follower yaa... Ya kali jaman dulu mana kenal sama yang namanya follower. Banyak sih yang bilang kalo follower itu ikut menentukan ramai nggaknya lapak jualan kita. Tapi.... Menurut saya tips dari mama saya ini, lebih merakyat karena nggak ada hubungannya sama follower.
.
Yuk, langsung aja. 

Perbaiki niatmu 

Niat itu penting yess. Setuju kan. Innamal a'malu binniyat. Segala sesuatu itu tergantung niatnya.
Sejak awal mama saya wanti-wanti bahwa jualan apapun (asal halal), saat ditanya orang kenapa kamu jualan, jangan jawab 'iseng-iseng aja'. Karena rejeki yang datang akan iseng-iseng juga. Allah Maha Mendengar bahkan niat dalam hati. So, mantapkan niat kalo hendak jualan. Nggak perlu terlalu terbuka. Jawab saja, 'untuk nambahin biaya sekolah anak' atau 'untuk uang saku anak' atau 'untuk nambahin beli keperluan dapur' atau apapun yang penting untuk niat mulia. 

Paham yaa... ^^

Jangan bilang habis 

Ini saya juga masih bingung kenapa. Yang jelas saya langsung kena semprit mama waktu ada yang nanya bawang dan saya bilang habis. Katanya tabu. 

Tipsnya pakai kalimat lain. Tapi jangan bilang 'HABIS'. Mama saya nyontohin, bilang saja 'belum datang lagi' atau 'pesan dulu aja yaa'. Bisa juga 'insya Alloh kalau sudah ada saya kabari ya..'
Saya sih nangkepnya supaya nggak terlalu mengecewakan bikin orang yang mau beli. Tapi juga nggak PHP-in mereka. 

Kendalikan emosimu agar lidahmu terkendali 

Biasa kan yes, kalo orang beli pasti pengen yang dapetin barang yang murah tapi berkualitas. Mereka bakalan nawar dagangan kita. Sama kayak kita... 

Tapi inget, jangan sekali-sekali terpancing emosi saat tawar menawar dengan pembeli. Supaya lidah tetap bisa mengeluarkan kata-kata santun dan TIDAK BERDUSTA. 

Maksudnya gimana? Gini, kalo pas ada pembeli yang nawar dagangan kita, jangan sampai terucap 'segitu ya saya belum untung' atau 'dari sananya sekian (nyebutin nominal)'. Itu pantang banget, kata mama saya. Kenapa? Karena bisa jadi jalur DOSA, akibatnya hasil jualan kita nggak berkah. 

Pembeli mah mana tahu. Ya, kan. Bahkan mereka nggak mau tahu. Yang penting mereka dapet barang bagus dan murah. 

Tapi saat kita ngucapin kayak gitu, bisa jadi sebenarnya kita untung tapi sedikit (banget). Judulnya tetap saja untung. Bohong banget kalau sampai bilang nggak untung. Ya nggak... -___-'

Atau nominal harga beli yang kita sebutkan itu cuma modus doang. Supaya pembeli bersimpati. Apa lagi namanya kalau bukan DUSTA? 

Bilang saja, 'untungnya mepet banget' atau langsung saja bilang 'belum boleh' tanpa embel-embel alesan. Pembeli udah paham kok. 

Ada uang ada barang 

Ini saya bingung menjelaskan pakai bahasa judul. LOL. Artinya gini kualitas barang yang kita berikan pada pembeli harus sama saat dia membayarnya. Belibet ya bahasaku? Langsung contoh aja yaa... 

Mama lebih suka belanja di pasar tradisional (di Cilacap kayak Pasar Sangkal Putung atau Pasar Gede). Sering banget Mama lupa abis beli bawang atau apalah trus dititipin sama bakulnya karena masih mau muter-muter pasar. Eh, sampai rumah baru inget kalo ada belanjaan yang belum kebawa. Mau balik ke pasar, males ya udah akhirnya nggak diambil. Esok atau beberapa hari kemudian, Mama tanya sama si bakul dan si bakul bilang bawangnya udah dijual lagi soalnya ditunggu sampai siang Mama nggak dateng-dateng. Alasannya mbok bawangnya jadi kisut kalo nggak dijual hari itu. Sama si bakul, Mama disuruh milih bawang lagi yang masih baru seperti transaksi kemarin. Harganya juga sama kayak kemarin pas beli. 

Kata Mama, ini etika berjualan yang betul. Menghargai pembeli karena kepuasan pembeli itu nomor satu. Jangan sampai udah bayar buat barang bagus eh kita dapetnya barang nggak layak. Padahal udah pasti kan yaa, pembeli pasti memilih barang yang bagus. 

Ada satu cerita, ini bukan ghibah, tapi mari kita ambil hikmahnya. Suatu hari Mama beli buah apel sama pedagang buah yang cukup terkenal di pasar tradisional. Qadarullah, Mama lupa bawa apel itu setelah membayarnya dan baru inget setelah sampai di rumah. 

Tiga hari kemudian, Mama ke pedagang buah itu. Si pedagang menyerahkan bungkusan apel yang tempo hari sudah dibayar Mama. Mama sedikit kaget dengan buah apel itu, karena buahnya sudah kisut dan menurut Mama nggak layak dimakan. Mama tanya kenapa nggak dijual dulu. Si pedagang malah menjawab ketus kalau dijual lagi trus sekarang minta yang baru bisa-bisa dia rugi karena harga apel tiap hari berubah. Cukup alot perdebatan itu hingga didengar pedagang lain. 

Menghela napas, Mama mengalah. Mengembalikan apel yang sudah kisut itu pada si pedagang dan membeli lagi buah apel yang baru karena Mama bilang malu kalau ngasih apel yang kisut untuk suami dan anak-anaknya. 

Seminggu kemudian, Mama datang ke pasar tradisional itu dan iseng bertanya pada pedagang sepatu mengapa kios si pedagang pedagang buah itu tutup? Si pedagang yang ditanyai oleh Mama menjawab si pedagang buah itu sedang mengalami musibah, rumahnya kebakaran malam setelah insiden pagi itu. 

Mama ber-istighfar. Mama bilang, Mama bilang kalau hari itu Mama sudah ikhlas dan sama sekali tidak mendoakan keburukan untuk si pedagang buah itu. Ibu pedagang sepatu itu menjawab, "Mungkin nggak berkah, Bu." 

Inget kejadian itu, Mama serius bilang pada saya. Jadilah pedagang yang baik yang memuliakan pembelinya. 

Jangan mencurangi pembeli 

Contohnya, mengurangi timbangan. Ini udah pada jelas yaa... Gimana dosanya orang yang mengurangi timbangan demi keuntungan. Walau mungkin pembeli nggak lihat, tapi Allah Maha Melihat perbuatan kita. 

Termasuk juga mencurangi pembeli dengan memberikan barang lama tanpa sepengetahuan pembeli padahal yang dibayar adalah barang baru. Itu DOSA.Sungguh. 

Emang ada yang kayak gitu? Banyaklah videonya di YouTube.
.
.
Ada tips lain mungkin? Share dong... 

Intinya dalam bermuamalah tetap menjunjung tinggi kejujuran. Pembeli bakalan paham sendiri dan pastinya jadi pilihan. Siapa orangnya yang mau dibohongi? Mending beli barang -pada penjual jujur- yang jelas kualitasnya walau harganya sedikit mahal ketimbang barang murah di luar bagus tapi yang kita dapetin malah sebaliknya. 

Ingat bahwa Allah selalu mengawasi kita. Kelak anggota badan kita akan ditanya tentang apa yang sudah dilakukan (dan mereka tak akan berdusta) sedangkan mulut kita terkunci tak mampu menahan apalagi memberi pembelaan. 

#reminder_for_me

Tidak ada komentar :