Rabu, 27 September 2017

Pilih Mana, Warung Tetangga atau Minimarket?

Dulu, mama saya pernah punya warung kelontong. Kecil-kecilan, tapi alhamdulillah bisa membantu ayah saya mencukupi kebutuhan keluarga. Seenggaknya, saya masih bisa menikmati menu lengkap khas lebaran tiap tahun. Atau sekedar menyantap ayam panggang setiap malam pergantian tahun. Rasanya nikmat sekali... Nggak perlu keluar rumah berkumpul di alun-alun kota. Cukup makan bareng di halaman belakang sambil menikmati pesta kembang api di angkasa.

Sebagai pekerja proyek, tentu ada saatnya ayah saya menganggur untuk menunggu proyek berikutnya. Warung kelontong mama saya membuat kami tak kelaparan. Alhamdulillah, lumayan laris.

Saat minimarket mulai menjamur di Cilacap ditambah tetangga kanan kiri juga mulai usaha yang sama, warung kelontong mama saya mulai meredup. Mama saya bilang, masa mau di atas terus, ada saatnya kita di bawah. Diuji oleh Yang Maha Pemberi Hidup.

Awalnya mama saya mulai mengurangi kuantitas barang yang dijual. Terutama yang tidak tahan lama. Lama kelamaan mama saya hanya bisa mengurut dada, mencoba bersabar. Bagaimana tidak? Tiap pagi mama ke pasar membeli berbagai sayuran segar, biasanya bahkan sebelum mama saya pulang, orang-orang sudah menunggu di depan warung. Tapi sejak ada penjual sayur keliling, orang-orang lebih memilih menunggu si mamang ketimbang berjalan sebentar ke warung mama. Mungkin itu rejekinya si mamang, sahut mana.

Sejak itu mama menutup warungnya dan memilih menunggui Aisha yang kala itu masih bayi, walau saya punya ART.

Sebenarnya bukan soal si mamang sayur atau minimarket yang pasti ada di setiap tikungan jalan, tapi ada hal lain yang membuat warung mama nggak mampu bernapas lagi. Apa itu? Utang dari pelanggan mama yang notabene adalah tetangga di lingkungan rumah.

Kalau inget ini, mama jadi sedih. Ayah saya pernah protes, minta supaya tidak boleh diutang supaya uangnya bisa berputar. Tapi mama saya bilang, warung itu kalo nggak boleh diutang ya nggak laku. Ya emang terbukti sih, warung mama laris banget. Soalnya kalo mau ngutang di warung Cina ya nggak mungkin boleh kan? Ayah saya akhirnya mengalah.

Dan sekarang apakah utang-utang itu udah lunas? Kebanyakan belum. Bahkan ada yang dengan teganya pindah rumah dan masih punya tanggungan utang lebih dari sejuta. Mama saya sudah menagih tapi dengan sehalus mungkin. Namanya lingkungan warga, apapun bisa jadi berita yang viral, bukan? Tapi si pemilik utang itu justru semakin cuek dan pindah rumah lebih jauh lagi. Tak jarang ada yang malah memusuhi. Ketemu di depan rumah seperti nggak lihat. Astaghfirullah... Mama saya akhirnya memilih diam ketimbang jadi ribut dan merusak nama baik orang. Biar jadi urusan Allah saja, pungkas mama.

Nggak cuma terbukti di warung mama, di rumah sebelah ada warung kelontong yang nggak nerapin sistem utang, akibatnya warung itu kurang laku. Kasihan nglihatnya. Apa harus diutang dulu supaya laku dan kemudian gulung tikar kayak warungnya mama? Duh, jangan deh... Walaupun cuma beli gas, terigu, telor, sampo dan jajan Aisha, mudah-mudahan bisa sedikit membantu.

Terus terang, saya belum berani bertanya mengapa orang-orang saat belanja di minimarket atau bahkan supermarket bisa membayar cash, tapi belanja di warung tetangga sendiri malah enan-eman kalo nggak ngutang?

Padahal bisa jadi nominal yang diutang itu adalah modal awal. Bisa jadi sedikit untung yang masih belum lunas itu jika diakumulasikan cukup untuk bayar sekolah beberapa anaknya.
Bisa jadi dana yang belum di tangan itu akan digunakan untuk berobat, membeli peralatan dapur yang sudah masuk wishlist.

Saya masih ingat ekspresi mama saya ketika menerima undangan pernikahan anak si pengutang itu. Kok nggak malu yaa, masih punya hutang kok ngundang-ngundang minta disumbang? Begitu pikiran saya. Mama saya cuma tersenyum dan jelas nggak akan datang ke acara itu.

Mungkin saya harus berkaca pada diri saya sendiri yang sering berutang baju atau tupperware pada teman kerja. Walau yang dibeli lain, tapi namanya utang tetaplah utang. Harus dibayar. Maaf ya temans...

Selain utang belanja bulanan di koperasi RSI (insya Alloh akan dilunasi setelah terima gaji, karena saya nggak boleh utang lagi sebelum lunas) barangkali saya masih punya utang, mohon ditagih yaa..

So, mari kita nglarisi warung tetangga atau jualan teman ketimbang nglarisi minimarket. Asal jangan diutang. Boleh diutang asal si pemilik barang ridho dan ada perjanjian waktu yang jelas kapan utang itu akan dilunasi.

Sebagai introspeksi diri, dalam Al Qur'an surat Al Baqarah ayat 280 Allah SWT berfirman, "Dan jika (orang berutang itu) dalam kesulitan, maka berilah tenggang waktu sampai dia memperoleh kelapangan."

Namun, perlu diketahui, melalui NabiNya, Allah juga memberikan peringatan.
Diriwayatkan oleh Ahmad, seorang laki-laki pernah bertanya kepada Nabi Muhammad SAW tentang saudaranya yang meninggal dalam keadaan menanggung utang. Nabi Muhammad SAW bersabda, "Dia tertahan oleh utangnya. Jadi, lunasilah utangnya untuknya."

Diriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Menunda pembayaran utang bagi orang kaya adalah sebuah kezhaliman." (HR. Abu Dawud dan selainnya).

Referensi : Ringkasan Fikih Sunnah Sayyid Sabiq karya Syaikh Sulaiman Ahmad Yahya Al-Faifi (Pustaka Al Kautsar)
Foto : Google

Senin, 25 September 2017

Hidup Itu Sawang Sinawang



Apa itu sawang sinawang?

Itu bahasa jawa. Artinya kurang lebih apa yang kita lihat dari diri seseorang belum tentu kenyataannya seperti itu. Seperti saat kita di dunia maya. Banyak orang yang memosting kata-kata bijak, belum tentu dia sebijak itu. Banyak orang yang berfoto-foto ria seakan-akan hidupnya bahagia. Tapi siapa yang tahu jika sebenarnya dia sedang mencari pelarian dari masalahnya? Bahkan bisa jadi foto dan kalimat bijak itu dia comot dari sana sini, trus diklaim sebagai milik pribadi. Siapa tahu kan? Sudah banyak juga contohnya.

Yang lagi booming dan sangat viral adalah kasus bos First Travel dan istrinya. Jika para jamaah tidak demo, jika polisi tidak turun tangan, apakah publik tahu kejahatan yang mereka lakukan. Pergi ke luar negeri, mengadakan fashion show, mempertontonkan segala perhiasan dan barang-barang branded. Nggak ada yang menyangka mereka melakukan sesuatu yang menyakiti banyak orang. Mereka berdua memanfaatkan apa yang bukan hak mereka. Mustahil mereka tak tahu ketika selaksa doa telah dilangitkan agar berkesempatan menginjakkan kaki di tanah suci. 

Jumat, 22 September 2017

Kacamata Baru (1)

Kemarin di Pemakaman Karangsuci, Donan, Cilacap dihebohkan dengan penemuan bayi. Bayi itu diletakkan begitu saja dekat sebuah makam. Qadarullah, saat ditemukan, bayi tak berdosa itu telah kembali ke pangakuan Allah SWT. 

Aah, begitu mudahnya seorang ibu membuang darah dagingnya, sementara saya dan mungkin banyak ibu di dunia sedang menantikan kehadiran seorang anak untuk pertama atau kedua kalinya atau ke sekian kalinya. Karena sejatinya seorang anak adalah anugerah, rejeki tak ternilai dariNya. Siapa orangnya di dunia ini yang tak menginginkan rejeki? 

Ingin rasanya saya katakan pada si ibu tak berhati itu, cobalah jadi perawat dan sungguh kalian akan bisa melihat masalah dengan kacamata baru. Kacamata yang akan membuat kita jadi lebih bijak melangkah dan membuat keputusan. 

Senin, 18 September 2017

Jangan Baper, Senyumin Aja



"Sha, tanggal 23 besok ada terjun payung loh di alun-alun, kita nonton yuk," ajak saya pada si gadis delapan tahun, empat hari sebelum tanggal 23. 

Si gadis, anak saya, mendadak bersemangat dan sejak hari itu -setiap waktu- terus bertanya, "Kapan sih, Mi, terjun payungnya?" Berulang kali dia tanya berulang kali pula saya jawab. Seakan-akan tanggal 23 itu tidak lewat Cilacap. 

Itu anak saya dengan saya punya jawaban yang teramat jelas masih juga menanyakan, 'kapan'. Bagaimana dengan yang belum jelas jawabannya? Jelas ini bikin baper.