Senin, 25 September 2017

Hidup Itu Sawang Sinawang



Apa itu sawang sinawang?

Itu bahasa jawa. Artinya kurang lebih apa yang kita lihat dari diri seseorang belum tentu kenyataannya seperti itu. Seperti saat kita di dunia maya. Banyak orang yang memosting kata-kata bijak, belum tentu dia sebijak itu. Banyak orang yang berfoto-foto ria seakan-akan hidupnya bahagia. Tapi siapa yang tahu jika sebenarnya dia sedang mencari pelarian dari masalahnya? Bahkan bisa jadi foto dan kalimat bijak itu dia comot dari sana sini, trus diklaim sebagai milik pribadi. Siapa tahu kan? Sudah banyak juga contohnya.

Yang lagi booming dan sangat viral adalah kasus bos First Travel dan istrinya. Jika para jamaah tidak demo, jika polisi tidak turun tangan, apakah publik tahu kejahatan yang mereka lakukan. Pergi ke luar negeri, mengadakan fashion show, mempertontonkan segala perhiasan dan barang-barang branded. Nggak ada yang menyangka mereka melakukan sesuatu yang menyakiti banyak orang. Mereka berdua memanfaatkan apa yang bukan hak mereka. Mustahil mereka tak tahu ketika selaksa doa telah dilangitkan agar berkesempatan menginjakkan kaki di tanah suci. 


Kita tak pernah tahu isi hati seseorang. Kita hanya bisa menduga-duga. Kita hanya bisa menerka, menebak melalui tingkah laku, perbuatan, dan ucapannya.  Berita baiknya, apa yang kita terka terkadang justru mencerminkan kualitas diri kita sendiri. Apalagi jika tak disertai bukti nyata. 

So, kalau ingin jadi pengamat kehidupan orang, jadilah pengamat yang baik dan cerdas. Tak hanya mengkritisi hal-hal yang 'menurut dia' saja, tapi juga memberi masukan positif. 

Aaah, ini tumben-tumbenan banget opening saya sangat berat (menurutku), but gak apa-apa ya, kita sesekali serius. Heheheh...

Masalah sawang sinawang ini biasanya umum bagi kehidupan masyarakat jawa. Contohnya tentang pekerjaan saya sebagai perawat. Jujur, ini mau curhat.. ahahaha! Ketauan.

Sudah jelas banget bagaimana seorang perawat itu bekerja. Saat shift sore, misalnya. Sejumlah pekerjaan langsung ada di depan mata. Mulai visite dokter dan ini biasanya nggak hanya satu dokter. Dan satu dokter biasanya mempunyai lebih dari tiga pasien. Ya kalau pasien stabil, kalau mendadak harus operasi cyto karena ileus atau peritonitis. Harus segera cek CKMB dan troponin, ada yang hasil glukotestnya HIGH dan kudu segera pasang syringe pump insulin. Belum lagi jika ada pasien yang diijinkan pulang, kita juga mesti edukasi pasien dan jelas nggak semua keluarga pasien bisa bersabar. Apalagi jika yang diijinkan pulang lebih dari lima. Uwow banget pokoknya.

Itu belum ditambah dengan pasien baru yang datang dengan nilai kritis Hb 4, misalnya, atau nilai kritis lainnya yang artinya harus segera dilaporkan dokter penanggung jawab yang dipilih oleh keluarga pasien (eh, kalau di ruamh sakit tempat saya bekerja, keluarga  pasien diberi hak untuk memilih dokter spesialis yang diinginkan sesuai instruksi dokter jaga IGD). Hectic banget deh...

Lalu setelah kondisi luar biasa itu terlewati, tiba-tiba ada saudara seiman yang nyeletuk, "Kan kerjaan perawat cuma ganti infus sama nulis-nulis doang..." Di situ rasanya saya pengen ngunyah itu orang.

Tapi ya sudahlah. Seperti judul tulisan ini, hidup itu sawang sinawang. Saran saya, jika mau bicara apalagi berkaitan dengan menyangkut seseorang, riset dulu, benarkah seperti itu?

Saya pun pernah jadi pelaku praktek sawang sinawang itu. Hari Minggu, kebetulan saya masuk pagi. Suami di rumah karena blio libur. Harapan saya (mungkin juga harapan emak-emak di jagad bumi ini), saat pulang kerja tentu ingin yaa minimal rumah sudah disapu, mengingat ikrar di awal bahwa ini adalah rumah KITA. Tapi betapa kecewanya saya saat pulang ke rumah sore harinya, saya mendapati kondisi rumah sama persis dengan ketika saya tinggalkan.

Merengut. Saya tanya pada Pak Su dengan mulut yang so much, so hard and so constantly. Blio jawab, "Rencana gitu, tapi Ibu telpon kalau aku suruh pulang ke rumah ada masalah bla...bla...bla..."

Saya merasa ter.... T____T

Dosanya bertumpuk-tumpuk. Udah dosa ngomel-ngomel ke suami ditambah dosa berprasangka buruk. Astaghfirullah....

Lain kali jangan cuma lihat luarnya aja, ibarat buku, don't judge the book by it's cover. Menilai itu gampang. Menyalahkan apalagi. Semua orang juga bisa.

Eh, saya lebih suka memilih buah jambu biji yang kulit luarnya ada sedikit bagian yang busuk, karena biasanya dalamnya berwarna merah matang dan manis legit. Beda sama yang kulit luarnya mulus walau sudah menguning biasanya dalamnya masih berwarna putih atau sekedar pink yang rasanya belum manis banget. Ini bukan tips memilih buah jambu biji loh yaa...cuma cerita pengalaman aja. Hehehehe.


Tidak ada komentar :