Senin, 18 September 2017

Jangan Baper, Senyumin Aja



"Sha, tanggal 23 besok ada terjun payung loh di alun-alun, kita nonton yuk," ajak saya pada si gadis delapan tahun, empat hari sebelum tanggal 23. 

Si gadis, anak saya, mendadak bersemangat dan sejak hari itu -setiap waktu- terus bertanya, "Kapan sih, Mi, terjun payungnya?" Berulang kali dia tanya berulang kali pula saya jawab. Seakan-akan tanggal 23 itu tidak lewat Cilacap. 

Itu anak saya dengan saya punya jawaban yang teramat jelas masih juga menanyakan, 'kapan'. Bagaimana dengan yang belum jelas jawabannya? Jelas ini bikin baper. 


Mungkin memang sudah jadi garis hidupnya (halah bahasanya) bahwa begitulah nasib kata tanya 'kapan'. Bikin baper sekaligus horor. Iyaa, gimana nggak horor, ditanyain terus tapi jawaban tetap lurus. Maybe yes maybe no. 

Hingga detik ini, di usia nggak lagi muda meski belum tua juga (hahahaha), saya punya dua pertanyaan 'kapan' yang males banget saya jawab saking seringnya ditanya begitu. 

Pertama, 'kapan kuliah lagi?'
Kedua, 'kapan nambah anak lagi?' 

Mari kita bahas. 

Pertama, kapan kuliah lagi? 

Kabar baiknya yang bertanya nggak cuma teman-teman doang, tapi juga beberapa saudara. Harusnya saya makin termotivasi dong? Harusnya sih iya, tapi nyatanya nggak. 

Saya seorang istri dari suami pekerja proyek. Saya ibu dengan satu anak yang udah gede. Saya perawat yang bekerja di rumah sakit dengan sistem shift. Jujur, keinginan kuliah lagi itu ada. Udah ada niat. Beneran. Suami pun nggak keberatan. Tapi bukankah ada Allah SWT yang paling tahu apa yang terbaik untuk hambaNya? 

Qadarullah, suami sempat habis kontrak sambil nunggu proyek berikutnya. Tentu saja ini berhubungan erat dengan modal kuliah. Ya, modal kuliah nggak cuma niat doang kan... Tapi kudu action. Daftar dan bayar APP per semester. Maka, sebagai menteri keuangan rumah tangga yang baik, sementara (semoga nggak sementahun) keinginan kuliah harus rela dikesampingkan dulu. Tentu demi asap dapur tetap ngebul. Demi biaya sekolah yang nggak macet. Juga demi listrik, air, bensin, dan paket data tetap eksis. Mudah-mudahan Allah SWT memberi saya kesempatan dan umur yang panjang serta barokah untuk bisa melanjutkan kuliah lagi. Aamiin...

Mumpung orang tua masih sehat, masih bisa jagain anakmu, kenapa nggak segera sekolah lagi. Mau nunggu sampai kapan? 

Aduh, Kak. Orang tua saya alhamdulilah masih diberi kesehatan. Tapi beliau berdua orang tua saya bukan baby sitter anak saya. Please deh ah. Saya cukup tahu diri. Ibu saya mau menjaga anak saya saat saya dan suami kerja itu udah alhamdulillah banget ngetik nget... Saya mikir lagi kalau harus merepotkan orang tua saya lagi dengan beban kuliah yang nggak ringan. 

Dan saya nggak perlu jelasin sepanjang itu kan pada si penanya. 

Kedua, kapan punya anak lagi? 

Ini pertanyaan super klasik, tapi entah kenapa masih relevan juga. Mungkin hingga akhir jaman. 
Kalau kita udah usaha sana sini dengan biaya yang nggak sedikit tapi Allah SWT belum jua memberikan amanah lagi, harus bagaimana lagi? 

Saya dan suami hanya bisa merayu Allah SWT dengan ibadah dan berikhtiar dengan jalan yang halal. Mending doa kan saja ketimbang bertanya kapan, kapan dan kapan. 

Trus, apa jawaban saya saat dapat dua pertanyaan 'kapan' yang sangat menggemaskan itu? 

Senyumin aja. Ya, jangan baper. Orang Jawa bilang hidup itu sawang sinawang. Kita ngelihat orang lain bahagia belum tentu begitu kenyataannya. 

Sama. Orang nggak tahu bagaimana kehidupan kita yang sebenarnya. Apa masalah kita. Apa yang sedang ingin kita raih. Mungkin orang melihat kehidupan kita demikian sempurna sehingga seharusnya menurut mereka, kata kapan itu nggak perlu ada untuk kita. (ribet amat sih bahasanya). Ya pokoknya intinya gitu lah. Jangan baper. Karena nggak mungkin juga kan kita membeberkan segala rahasia perusahaan dalam rumah tangga kita. Please, jangan terpancing emosi. Woles... Woles... 

Yang saya lakukan selanjutnya adalah minta didoakan. 

Sumpah, menurut saya, ini elegan banget. Kita udah disakitin kemudian minta didoakan? Mungkin cuma mereka yang sering ditanya kapan yang bisa melakukannya. Sering itu artinya sampai level melebihi dosis minum obat turun panas, 4 jam sekali maksimal 6 kali per hari. 

Eh tapi kita bisa latihan kok. Caranya beri senyuman 5 cm dan bilang, minta doanya saja mudah-mudahan diberi kemudahan. Dijamin, yang nanya langsung klakep. Siapa yang nggak luluh saat dimintai doa?
Tips sederhana ini bisa dipraktekkan untuk jenis pertanyaan 'kapan' yang lain. Asal jangan balik nanya, 'situ kapan matinya?' Bisa panjang nanti urusannya. 

Yang penting kita tetap usaha. Mereka nggak perlu tahu gimana perjuangan kita, berapa banyak biaya yang kita keluarkan, gimana payahnya kita menata hati untuk bisa ikhlas. Sungguh itu bukan sesuatu yang layak diviralkan. Biarlah hanya kita dan Allah SWT saja yang tahu. Karena hanya Dia yang tahu kesiapan kita, kelayakan kita dan kemampuan kita. Pasti kita nggak mau kalau apa yang sudah kita dapatkan tiba-tiba hilang di depan mata karena kengeyelan kita. 

Jangan sampai kita seperti lagu Suket Teki-nya Didi Kempot. "Tak tandur pari jebul thukulé malah rumput teki.. ".

Tidak ada komentar :