Jumat, 22 September 2017

Kacamata Baru (1)

Kemarin di Pemakaman Karangsuci, Donan, Cilacap dihebohkan dengan penemuan bayi. Bayi itu diletakkan begitu saja dekat sebuah makam. Qadarullah, saat ditemukan, bayi tak berdosa itu telah kembali ke pangakuan Allah SWT. 

Aah, begitu mudahnya seorang ibu membuang darah dagingnya, sementara saya dan mungkin banyak ibu di dunia sedang menantikan kehadiran seorang anak untuk pertama atau kedua kalinya atau ke sekian kalinya. Karena sejatinya seorang anak adalah anugerah, rejeki tak ternilai dariNya. Siapa orangnya di dunia ini yang tak menginginkan rejeki? 

Ingin rasanya saya katakan pada si ibu tak berhati itu, cobalah jadi perawat dan sungguh kalian akan bisa melihat masalah dengan kacamata baru. Kacamata yang akan membuat kita jadi lebih bijak melangkah dan membuat keputusan. 

Pernahkah kalian dicurhati keluarga pasien? Bukan pasangan muda, tapi pasangan sepuh. Sang istri terbaring koma karena stroke. Sang suami yang setia menunggui tiba-tiba melelehkan air mata dan berkata, "Coba kalau saya punya anak ya, Mbak, saya jadi punya teman untuk gendu-gendu rasa." 

Saya hanya bisa tersenyum dan menahan gelombang air mata yang hendak tumpah. Saya bersyukur. Sangat bersyukur. Allah begitu baik telah mengaruniai saya seorang anak. 

Sudah bersyukurkah kalian akan rejeki seorang anak itu? Maka jika anak kalian lebih dari satu, seharusnya syukur itu terus bertambah bukan? 

Tugas selanjutnya adalah membimbing mereka karena anak pun bisa jadi ujian bagi kita, orangtuanya.
Betapa banyak pasien sepuh yang opname hanya ditemani pasangannya. Kemana anak-anaknya? 

"Anak saya cuma satu, Mbak. Dia lagi sibuk dengan bayinya."
(Ini yang bikin saya semangat untuk promil, bukan untuk merepotkan anak. Tapi percayalah kasih sayang seorang anak membantu kesembuhan orangtuanya yang sedang sakit) 

"Anak saya lima. Di luar kota semua dan belum bisa pulang. Pekerjaan mereka tak bisa ditinggal."
(Ini bukan drama sinetron, tapi memang kenyataannya hal itu terjadi) 

"Anak saya laki-laki semua."
(Dan jawaban ini membuat saya berdoa agar saya bisa menjadi menantu yang baik, yang senantiasa memuliakan ayah ibu mertua.)

Ibu saya pernah bilang, "Sampai kapanpun Mama tetap akan melihat kamu sebagai anak, yang butuh disuapi ilmu agar tetap lurus jalanmu. Walau kamu sudah jadi orangtua."

Jadi mari, jika kita ingin anak kita kelak berbakti pada kita, maka mulai sekarang tunjukkan bakti kita pada orangtua kita. 

Bicara soal ilmu, saya salut sama Mbak Gesi, ibunda dari Ubii. Blio nggak berhenti cari ilmu dan menularkan ilmunya. Berharap banyak Ubii adalah yang terakhir yang mengalami berbagai syndrome akibat virus Rubella. Bahkan hingga komunitas agar para ibu yang memiliki anak istimewa mampu bangkit dan tak lelah berjuang. 

Ingat Mbak Gesi, saya jadi ingat ibu yang anaknya mengalami Hydrocephalus. Ini adalah kejadian 10 tahun yang lalu, awal-awal saya baru jadi perawat di RSI. Blio bekerja sebagai PNS di kantor pemerintahan. Blio nggak patah semangat. Apalagi saat anaknya harus bolak balik opname hingga ke RSCM. Tak jarang sebelum jadwal terapinya di RSCM, si anak harus mondok dulu di RSI karena panas atau diare.
Ibu itu sama sekali nggak punya basic tentang dunia medis, tapi melihat putrinya itu, semangatnya mencari ilmu luar biasa. 

Blio paham betul semua tentang Hydrocephalus. Bahkan blio sudah mengikuti banyak seminar dan workshop yang membahas tentang hydrocephalus. Tak heran bahasanya saat berkonsultasi dengan DSA seperti sesama tenaga medis. 

Demi siapa lagi kalau bukan demi anaknya. Blio butuh informasi itu. Blio butuh banyak masukan dari pakarnya langsung. Blio butuh semua itu agar putrinya punya banyak kesempatan menikmati indahnya matahari terbit dan tenggelam. 

Qadarullah, putrinya meninggal saat perawatan di RSI. Tapi blio ikhlas. Blio tahu segala yang terbaik telah diusahakan. 

Sungguh luar biasa. Seorang anak ternyata bisa membuat orangtuanya melakukan apapun hingga di luar batas kemampuannya. Demi sang anak.

Sudahkah kita membalas kebaikan Bapak Ibu kita?

Tidak ada komentar :