Jumat, 27 Oktober 2017

Aku, Tadi Malam

Tadi malam, aku terkurung
Terjebak dalam kusutan benang yang
tak mampu mengurai dirinya sendiri
Membias sudah segala cita yang melangit

Tadi malam, aku melesak
Meronta mencari seteguk air
Dari panasnya nafsu dan riuhnya pikiran
Namun yang kutemui adalah setengah gelas kosong atau
Setengah gelas terisi? Aku tak paham

Tadi malam, aku melukis
Bunga bangkai diantara mawar merah
Aneh, tapi selalu elok dipandang
Janggal, tapi selalu diterima oleh otakku
Bullshit, tapi aku tergoda
Hingga aku lupa, atau bimbang
Lewat mata kananku ataukah mata kiriku
Air mata ini akan turun

Apakah aku masih aku?
Apakah aku bukan aku?
Apakah aku tetap aku?
Apakah aku menjadi aku?
Bukankah aku adalah aku?

Satu-satunya yang bisa membuatku (tetap) waras
Adalah deretan kata
Menenggelamkan segala rasa sesak
Dalam lautan fiksi
Yang menggelorakan imaji
Menumpahkan jiwa kosongku
Pada wewangian lembaran kertas yang memabukkan
Lalu melebur melupakan setumpuk beban

Menunggu esok hingga beban itu kembali
Dengan seringainya yang mengerikan

Sang cahaya berkata, tegarlah...

Mampukah aku tetap menjadi aku?

Tidak ada komentar :