Senin, 22 Januari 2018

Disiplin dengan Reward dan Punishment


Yeayyy! Akhirnya RAT juga :D ;D 

SHU...SHU...! Jumlahnya sih nggak seberapa tapi kan lumayan, alhamdulillah banget buat nutup-nutup yang nggak ketutup. Hahahaha. Tanggal tua ya kan ya kan ya kan... 

Selain itu ada doorprize nya pulak... Makin semangatlah ikut acara ini. Hehehe. Tahun lalu saya dapat mixer loh... Alhamdulillah. Sesuatu banget buat emak yang nggak hobi di dapur macam daku... Hehehe.... Tahun ini saya nggak dapat doorprise, hiks. Tapi lumayan dapat bingkisan sama tas keren. ^_^

Eits, bukan cuma itu aja, acara ini juga jadi kesempatan buat para anggota ngeluarin uneg-unegnya. Tanya-tanya soal laporan keuangan dan sebagainya. Ya jelas dong, ini kan acaranya kita-kita anggota koperasi. 

Ngomong-ngomong soal RAT nih, kemarin, saya mengajak Aisha di acara itu. Seperti tahun-tahun sebelumnya, mengajak Aisha harus dengan perjanjian dulu. Dia boleh ikut dengan syarat tidak rewel. Tentu saja ada pajaknya. Dia minta bubur ayam. Okey, sebelum berangkat, saya mampir beli bubur ayam dan dimakan di tempat acara. Maklumlah, berangkat pagi belum sarapan. Hahaha. 


Acara berlangsung sejak pagi hingga ba'da dhuhur. Selama acara berlangsung, apa yang dia lakukan? Banyak. Makan snack (padahal baru makan bubur ayam 1 porsi), nonton doraemon di youtube, sampai mengajak saya selfi. Saya tahu dia bosan. Tapi dia sudah kadung janji sama saya. Berkali-kali saya bilang, "Kalau bosan, Umi telpon Abi ya, biar Aisha dijemput." Dia menolak. Okey. Baiklah. 

diajak selfi biar nggak bosan


Alhamdulillah, hingga acara berakhir, Aisha tidak minta ini itu. Walaupun jelas wajahnya bosan pake banget, nampaknya dia berusaha bertahan, berusaha sabar. Saya salut. Apakah ada hadiah atas perjuangannya bersabar? Tentu saja tidak. Kenapa? Karena nggak ada kesepakatan soal itu sebelumnya. Perjanjiannya jelas. Boleh ikut asal tidak rewel. Kalau rewel ya pulang. Saya tidak menjanjikannya hadiah atau apapun, dan dia juga nggak minta. 

Bertahan sama komitmen ini kadang saya rasanya susah loh. Gimana ya, godaan pengen ngasih reward atau hadiah atas usahanya itu kadang selalu muncul. Tapi saya udah membuktikan dengan ngasih senyum manis dan ucapan terima kasih karena udah mau kooperatif, dia udah seneng banget. Ngerasa dihargai. Makanya saya tambah yakin sama tiga kata ajaib itu. Maaf, tolong dan terima kasih. Itu reward yang luar biasa juga ternyata dampaknya. 

Selain itu reward juga bikin si kecil bersemangat. Contohnya, Aisha disuruh ngapalin perkalian 2 sampai 9. Anak jaman sekarang ya Buibu, baru kelas 3 SD bebannya berat. Nggak kayak kita dulu, beban terberat adalah saat ketinggalan nonton doraemon di tivi. -____-

Bagi Aisha yang sepertinya nggak ada bakat pinter matematika kayak emaknya, perjuangan menghafalkan perkalian sangat sangat berat. Perkalian dua sudah hafal. Perkalian tiga hafal juga. Giliran disuruh ngulang perkalian dua, doi lupa. Aduuuuh...Tepok jidat pokoknya. Antara gemes dan pengen ketawa, demi ngeliat mukanya yang udah frustasi berat. Tapi perjuangan adalah perjuangan bukan? *membayangkan bawa bendera merah putih* jadi harus semangat walau anaknya udah hampir ngibarin bendera putih. 

Akhirnya setelah berusaha, berusaha dan berusaha lagi, Aisha bisa menghafal perkalian 2 sampai 6. Horeee... Tapi ya awalnya gitu 3x6 bisa giliran 6x3 bingung... -__-   

Walau begitu saya tetep ngasih applause dan reward. Apa itu? Cukup tepuk tangan kecil dan ciuman hangat di pipinya. Tak lupa mengatakan, "Tuh bisa! Pinter deh," dengan tulus. Dia jadi semangat banget ngapalinnya. Mungkin kemarin-kemarin saya kurang ngasih reward kali ya Buibu, jadinya dia nggak semangat gitu. Hemmm...

Saya dan suami berusaha ngasih reward sekecil apapun usahanya. Seperti dia yang senang bantuin saya di dapur. Ikut ngulek bumbu nasgor (walau bertahan lima detik doang, karena ngeluh capek), bikin sarden (bantuin buka tutupnya). Karena saya ngeliaht dengan reward sederhana berupa pujian atau sekedar ucapan terima kasih udah bikin mood nya naik lagi. Senyum kanan kiri seakan baru menyelamatkan dunia. Hahaha...

Gimana dengan punishment alias hukuman? 

Di rumah, saya dan suami menerapkan sejumlah aturan yang harus dipatuhi semua anggota keluarga (saya, suami dan Aisha). Misal, buang sampah di tempat sampah. Selain urusan shalat dan ngaji, buang sampah ini yang jadi perhatian saya dan suami. Kenapa? Karena budaya membuang sampah di tempat sampah sekarang ini sudah hampir terkikis. Lihat saja di alun-alun saat malam minggu. Adalah pemandangan biasa saat Minggu pagi sampah berserakan di mana-mana, padahal tempat sampah ya berjejer di pinggir alun-alun. 

Peratran yang kami buat tentu atas kesepakatan bersama. Artinya jika ada anggota keluarga yang melanggar, maka hukuman wajib dikenakan. Misal, Aisha makan jajan, mungkin karena malas ke dapur, sampahnya dia tarus begitu saja. Saya cuma menatapnya tajam. Dan dia langsung paham. Walau sambil merengut, akhirnya diambilnya sampah itu lalu dibuang ke tempat sampah. Hahaha...

Hukuman yang kami terapkan biasanya cukup dengan body language. Lirikan mata, melengos, kadang mendiamkan saja. Namanya juga anak-anak. Tetap ada dong masanya dia memberontak, kesal dan coba melanggar aturan. Sebagai orang tua, saya dan suami berprinsip menjaga perasaan anak adalah sesuatu yang penting. Setidaknya supaya dia nggak merasa dihakimi, dipermalukan, dan tindakan lain yang bisa melukai perasaannya. Bagi saya, anak bukanlah miniatur orang dewasa. Anak tetaplah individu dengan perasaan dan kemauannya sendiri. Kitalah stirnya. 

Makanya mencubit, memukul dan sebangsanya itu bukanlah solusi. Anak malah akan jadi penasaran dan mencoba hal yang lebih buruk lagi. Saya pernah sekali memukul mulutnya walau pelan karena dia bicara kata-kata kotor mengikuti temannya. Dia berusaha nggak nangis, walau matanya berkaca-kaca. Tapi saya tahu hatinya terluka. Dan saya menyesal sekali, berjanji dalam hati nggak akan ngulang lagi. Huhuhu. Saya minta maaf. Baru dia nangis di pelukan saya T__T Dia juga langsung minta maaf. Hati saya meleleh jadinya. Sejak itu dia tahu dia nggak boleh bicara dengan kata-kata kotor lagi. 

Imbasnya saya dimarahi pak suami T__T katanya saya terlalu kasar sama anak. Blio bilang harusnya saya ngomong baik-baik bukan main tangan kayak gitu. Ya gimana, namanya orang kaget. Tangan gerak refleks aja gitu... T__T

Jadi ya gitulah cara saya dan suami ngasih hukuman. Berusaha tetap sabar dan kepala tetap dingin, supaya nggak main fisik. Hukuman yang diterapkan sesuai kesalahannya saja. Nggak perlu mengungkit-ungkit yang udah kejadian. Nggak penting. Beneran. 

Mungkin karena Aisha udah besar, dia jadi paham kenapa nggak boleh begini kenapa nggak boleh begitu. Cukup dijelaskan sekali. Tapi tetap sajalah namanya anak usia sekolah, rasa penasarannya sedang tinggi-tingginya. Kalau dia yakin bisa, nggak bakal ragu deh nglakuinnya. Contohnya, nggoreng telur. Ambil teflon, kasih minyak sedikit, nyalain kompor, tunggu sampai panas. Lalu ambil kursi, naik, ngambil sendok kayu. Pecahkan telurnya di atas teflon dan...sreengg... tambahkan garam. Dibalik telurnya. Matang deh. -____-

Saya berkali-kali bilang, harus didampingi oleh orang dewasa. Dianya cuma nyengir, dengan wajah nggak berdosa bilang, "Lupa. Tapi aku bisa kok." 

Gimana dengan Buibu? Reward dan punishment apa yang sudah diterpkan demi kedisiplinan si kecil?

#satuharisatukaryaiidn

Tidak ada komentar :