Senin, 29 Januari 2018

Disiplin Sejak Kecil, Bisa Kok

(ebookanak.com)
"Di rumah ini kok banyak aturannya ya?" kata Aisha kesal. 

"Misalnya?" goda saya sambil nahan ketawa. 


"Nggak boleh buang sampah sembarangan, harus shalat 5 waktu, kalo main pas adzan harus pulang, harus tidur siang, harus begini harus begitu... Sebel deh." 

"Kenapa sebel, manfaatnya kan kamu juga yang ngerasain," 

"Ah udahlah." Aisha langsung melipat mukenanya dan masuk ke kamarnya.



Saya geli melihatnya. Sungguh, semarah apapun anak, bagi saya wajahnya tetap lucu. Hehehe.

Sebenarnya semua hal yang Aisha bilang tadi sudah saya terapkan sejak dia masih kecil. Saat dia mulai paham, ini loh tempat sampah, ini mukena, dan seterusnya. Tapi kenapa dia baru komplain sekarang? Mungkin karena dia sudah semakin paham bahwa ada 'hukuman' jika dia tak melaksanakan aturan-aturan itu. Bahwa ada konsekuensi yang akan dia rasakan sendiri saat dia mencoba melanggar aturan itu. Semisal dia sering sekali malas tidur siang, akibatnya habis maghrib dia udah ngantuk berat. Padahal besok ada ulangan. Yang terjadi kemudian adalah dia ngomel karena masih harus shalat isya, rewel karena badannya pegal, dan yang paling drama keesokan paginya. Baru inget kalo belum belajar untuk ulangan. -___-'

Bisa ditebak, dia bakal marah-marah, bukan sama saya, tapi sama dirinya sendiri dan menyesal nggak tidur siang. Harusnya kan jadi pelajaran yaa... Ini malah keulang lagi dan lagi...


Ya ampuun..

Memang ya, menerapkan disiplin pada anak itu susah susah gampang. Banyak susahnya kalo kata saya. Kudu nyiapin hati supaya nggak terpancing emosi. Ya, namanya anak cara ngajarinnya kudu ekstra sabar dan lembut walau kepala udah kremut-kremut (pusing maksudnya, hehehe).

Rasulullah saw bersabda, "Perintahkan anak-anakmu untuk melaksanakan sholat ketika ia berumur 7 tahun, dan pukullah ia (bila meninggalkannya) ketika ia berumur 10 tahun. (Shahih Lighari, HR Abu Dawud, at Tirmidzi)

Salah satu cara saya ngajarin disiplin untuk shalat adalah dengan memperdengarkan ustaz atau ustazah menyampaikan hadist itu pada Aisha. Iyaa, dia harus diberitahu bahwa bukan saya saja yang ngomong tentang hadist itu. Tapi semua ulama. Gitu.

Aisha mah gitu, harus dikasih bukti nggak sekedar omongan doang.

Saya perlu lebih dari 5 kali untuk membuatnya hafal hadist itu. Hafal isinya maksud saya. Bahwa saya nggak segan-segan ngambek sama dia, nggak mau masak bareng sama dia, disetorin hafalan suratan sama dia, nemenin tidur dan bikin kue kalo Aisha nggak sholat. Hehehe, begini cara saya 'memukul' dia. Dan sudah pernah saya buktikan saat dia mangkir sholat. Waktu itu dia minta maaf dan saya luluh seketika. Sejak itu, alhamdulillah, walau ngomel sepanjang apapun, dia tetap shalat. Hehehe.

Kenapa saya tegas banget soal ini? Karena saya yakin shalat ini bisa membuka pintu kedisiplinan yang lain. Akan mudah bagi saya untuk membuat Aisha disiplin tentang banyak hal jika dia sudah disiplin shalatnya. Dia akan merasa butuh bukan sekedar kewajiban.

Saya ingin saat dia membuang sampah di tempatnya, misalnya, dia akan berpikir bahwa begitulah seharusnya. Supaya orang lain juga merasa nyaman.

Banyak cara mengajarkan anak untuk disiplin. Tapi ya percuma kalo kitanya malah nggak disiplin, kan? Misal nyuruh anak shalat tapi kita malah main hape. Nyuruh anak berhenti nonton tv, kita malah asyik nonton film di layar kaca 21. Menurut saya, gaya nyuruh-nyuruh tanpa contoh dari orangtua itu hanyalah menunjukkan superioritas orangtua. Bukan mendidik sih kata saya. Malah bikin anak merasa diperlakukan tidak adil. Pengalaman saya, mood anak menjadi salah satu faktor keberhasilan disiplin yang kita terapkan. Anak tetaplah anak-anak. Nggak mau ya nggak bisa dipaksa. Saya mencoba sebisa mungkin memaksa anak tapi dia nggak merasa dipaksa. Contohnya ya dengan ancaman kenyamanan seperti yang saya bilang di atas. Walaupun dia terpaksa dia tetap tau bahwa yang betul ya seperti itu.

Jangankan anak-anak, kita yang orang dewasa juga kadang melanggar aturan kita sendiri kan? Ada saatnya ketika kita malas cari tempat sampah, rasanya pengen jajan padahal baru kemarin kolesterol dan asam urat tinggi, tergoda tidur lagi abis shubuh... 
*ini saya banget*


Kuncinya adalah konsisten dan contoh real dari orangtua. Itu hasil eksperimen saya mengajarkan Aisha supaya disiplin. Hehehe..

Gimana dengan Buibu sendiri? ^_^

#satuharisatukaryaiidn

Tidak ada komentar :