Selasa, 30 Januari 2018

Kompak Bilang Yes Or No

(parenting.com)

Siapa sih yang nggak ingin jadi orangtua yang kompak? Nggak jarang, meski kita udah bikin beberapa kesepakatan, ada saja ulah anak yang bikin kita lumer karena kelucuan mereka. Akibatnya, saya yang udah tegas bilang 'tidak' jadi terkejut saat Pak Suami mengabulkan kemauannya. Alasan klasiknya, nggak tega. Anak minta sesuatu, kita bisa ngasih kok nggak dikasih. Hmmm...

Jujur, saya juga pernah begitu. Jadi mau marah sama Pak Suami ya salah kan?

Kalo udah kejadian begini, biasanya saya akan ngajak Pak Suami bicara dari hati ke hati. Ya, ini harus kita komunikasikan lagi. Kompak itu perlu. Sehati itu harus. Nggak tega itu bukan alasan. Jangan sampai anak menganggap salah satu orangtuanya pelit. Jangan sampai anak berpikir kalo sama ibunya nggak boleh, berarti dia harus minta ke ayahnya. Prinsip saya, se-nggak kompak-nggak kompaknya kita, jangan sampai anak melihat kalo kita nggak kompak. Gitu.


Kadang, saya ngasih tau ke Pak Suami, kalo Aisha begini sebaiknya kita bersikap begitu. Aisha minta ini itu, jawaban kita harus kompak. Ekspektasinya begitu. Tapi seringnya, anak lebih kreatif. Dia bakal minta sama eyangnya. Ini yang bikin kami kecolongan. Solusinya, ya kami harus ngasih edukasi ke eyangnya. Walau kadang yaa nggak berhasil juga sih. Sependek pengalaman saya, eyang selalu lebih sayang ke cucunya. Iya, kan?

Gimana kalo udah begini? Ya udah, mau gimana lagi, mau nggak mau ya kita kudu ngelibatin anak. Beri penjelasan yang bisa dipahami, kenapa begini nggak boleh, begitu dilarang. Wes, lupa sudah saya tentang teori parenting yang katanya nggak boleh melarang anak, nggak boleh bilang jangan. Sungguh, kalo lagi posisi pengen ngomong sama anak, saya susah nyari padanan kata 'jangan'. Hehehe.. 😁

Kompak ini kadang jadi problem misalnya saat anak mulai merajuk. Apalagi di tempat umum. Kalo anak balita, akan tantrum. Kalo anak seusai Aisha, ngambeknya sungguh menguji kesabaran. Ya nggak mau shalat, nggak mau belajar, nggak mau mandi, walaupun alhamdulillah nggak sampai nggak mau sekolah. Kalau udah begini, ya kita kudu mediasi sama anak. Anak maunya apa, kita maunya seperti apa. Dicari jalan tengahnya. Biasanya saya akan ngasih keputusan, boleh begini asal begitu. Saya nggak mau juga dong bikin keputusan yang nggak disetujui anak. Saya nggak mau anak merasa dirugikan dengan keputusan sepihak. Bagi saya dan suami, win-win solution harus dikedepankan.
Tentang pola asuh, saya dan suami terkadang menerapkan pola asuh yang berbeda. Ya kan masing-masing kita membawa pengalaman pengasuhan yang berbeda juga. Di sinilah pentingnya kerja sama. 😃
Suami saya tipe orang yang menjunjung tinggi kebersihan dan kerapian, makanya blio mukanya langsung asem kalo lihat rumah berantakan sama mainannya Raisya. Apalagi kalo lihat saya malah asyik nyetrika, ngetik atau baca buku. Saya cuma bilang ke Aisha, "Sha, nanti selesai mainan dirapikan lagi ya.." Aisha jawab, iya. Bagi saya selesai sambil pasang senyum manis ke Pak Suami. Hehehe... 😂

Nggak heran suami saya sangat ringan tangan. Kalau Aisha lagi ujian dan belum makan malam. Blio langsung bikin nasgor. Nggak pernah ngomel ini itu. Menurut saya, itulah yang namanya kerja sama. Anak pun akan melihat bahwa orangtuanya kompak dalam mengurusnya. Nggak terkotak-kotak, ini tugasmu itu tugasku.

Contoh kerja sama lainnya adalah saat Aisha mau masuk sekolah. Saya mencari informasi tentang sekolah ini, Pak Suami juga ikut nyari rekomendasi sekolah. Lalu kita diskusikan.
Intinya, kerja sama dan tetap kompak itu sangat penting. Bahkan kalo saya bilang itu bisa mempengaruhi jiwa anak. Iya, dia perlu rasa nyaman di rumah. Perlu ada rasa dihargai. Saya yakin semua anak akan merasa ayem jika orangtuanya saling bersinergi. Bekerja sama membuat suasana rumah menjadi adem. Insya Alloh.

Gimana dengan Buibu? Punya cerita apa aja saat mengasuh si kecil bersama Pak Suami?

#satuharisatukaryaiidn

Tidak ada komentar :