Sabtu, 27 Januari 2018

Pilih yang Tradisional, Why Not?

(kumpulanpenyakit.com)

Jika anak tengah malam mendadak panas, apa yang Buibu lakukan pertama kali? Pasti cari parasetamol, kan? Sama. Saya juga. Ndilalah nggak ada? Ini yang repot. 

Dulu pas saya hamil, mama saya menanam daun dadap srep. Daun yang ujungnya bertangkai tiga ini kata mama saya punya banyak manfaat. Salah satunya untuk menurunkan demam. Iya, bahkan sampai sekarang, daun itu masih jadi andalan saya kalau anak nggak mau dikompres. Katanya di kepala berat. Padahal ngompresnya  pake kasa basah. -___-

Caranya, tiga sampai enam lembar daun dadap srep diremas-remas pake air biasa. Trus ditaruh di dahi, ketiak, dan selangkangan. Secara teori sih, tempat-tempat itu memang area yang pas untuk melakukan pengompresan. Jadi mau pake media apa saja, insya Allah panasnya akan turun. 


Tapiii, bedanya kalo pake daun dadap srep ini rasanya sejuk di kepala dan nggak berat juga. Mungkin ini yang bikin anak saya mau dikompres. Hehehe.... Silakan dicoba, Bu.. ^^

Daun dadap srep (hudhanewblog.blogspot.com)

Itu salah satu manfaatnya. Sayangnya tanaman itu sekarang sudah mati. T__T Kalau butuh ya paling minta ke tetangga. 

Sudah sering banget kita dengar, kalau batuk minum air perasan kencur atau air jeruk nipis dikasih kecap. Kalau muntah dikasih air kunyit mentah mateng(kunyit yang dibakar dicampur kunyit mentah). Ada lagi kalau bintitan (kelopak mata bengkak) dioles irisan bawang putih, walau rasanya wow... banget perihnya. Nggak nafsu makan, aksih temulawak. Kalau badan menggigil kedinginan, kasih wedang jahe. Itu sebagian resep tradisional pengobatan dari nenek moyang kita. Entah siapa yang memulai atau yang bikin riset tapi alhamdulillah pengobatan tersebut rupanya cukup manjur. Bisa dikatakan sebagai pertolongan pertama.

Nggak bisa dipungkiri ya Buibu, di jaman modern begini, kita butuh segala sesuatu yang instan, yang cepat, termasuk juga urusan penyakit. Maunya ya cepat sembuh. Jalan yang diambul biasanya kita akan kangsung ke dokter. Dikasih antibiotik, segala obat supaya keluhan berkurang. Saya pun begitu. Mengingat Aisha pernah kejang wkatu kecil dulu, jadi kalau dia panas sedikit, harus segera minum obat turun panas. Trauma saya, Bu...

Tapi kalau kita mau mencermati, obat-obat itu sejatinya mengandung banyak kimia yang kurang bisa diterima oleh tubuh. Apalagi jika dikonsumsi dalam jangka waktu panjang. Coba deh lihat di etiket obat, pasti ada peringatan kalau obat itu nggak boleh dikonsumsi dalam jangka panjang. Akhirnya obat tradisional masih jadi andalan keluarga, kecuali jika memang parah sekali.


(mengobati.info)



Selain mengandung bahan kimia, kebanyakan obat-obatan itu harganya nggak ramah di kantong. Generik pun ada yang harganya mahal. Bahkan beberapa obat juga nggak masuk tagihan BPJS. Kenapa? Karena emang mahal. Apalagi kalo Buibu milih yang paten, harganya bisa tiga kali lipat harga generik. Ibarat kopi, sama-sama kopi, kopi yang kita numbuk sendiri (setelah disangrai dan digiling) yang harganya murah, akan beda jauh dengan kopi Ka*al *pi. Walau, iya, sama-sama kopi, cara bikinnya juga sama, tapi harganya lebih mahal. Ya, kan? Hehehe.

Selain itu bahan-bahan tradisional cenderung mudah didapat. Bahkan bisa kita tanam di halaman rumah kita. Kalaupun harus beli harganya lebih murah. Keuntungan lainnya, efek sampingnya relatif lebih kecil ketimbang obat-obat kimia, bahkan jika digunakan secara tepat tidak menimbulkan efek samping sama sekali. Meskipun biasanya reaksinya lebih lambat, tapi obat tradisional dipercaya bisa memperbaiki sistem tubuh kita, sehingga sering jadi alternatif untuk mengobati penyakit-penyakit kronis yang sulit disembuhkan dengan obat-obat kimia.

Hanya saja belum ada aturan yang baku untuk dosisnya dan berapa jumlah pemakaiannya. Kita hanya mengira-ngira saja. Terlalu banyak, tentu juga tidak bagus efeknya.

Meski begitu saya setuju banget untuk tetap memakai obat-obat tradisional dari bahan-bahan alami. Bukan saja sebagai pertolongan pertama namun juga untuk melestarikan warisan turun menurun pada anak cucu kita. Agar mereka tahu, bahwa alam sudah menyediakan banyak bahan-bahan untuk pengobatan.

Bagaimana dengan Buibu? Setujukah tetap pakai obat tradisional?   ^__^


#satuharisatukaryaiidn

Tidak ada komentar :