Minggu, 28 Januari 2018

Saat Anak Bicara Cita-cita



Pernahkah Buibu bertanya apa cita-cita si kecil? Saya yakin pasti pernah bertanya. 

Saya juga pernah menanyakannya. Apa cita-citamu? Dan jawabannya bisa berbeda tergantung apa yang dilihatnya.


Saya perawat. Dia bilang ingin jadi perawat juga seperti saya. Tapi berhubung ngeri lihat darah, dia menggeleng saat ditanya orang, kamu mau jadi perawat?

Di TV ada serial kartun yang salah satu tokohnya adalah seorang profesor hebat. Lalu dengan semangat dia bilang pada saya, kalo dia ingin jadi profesor. Bahkan sampai minta dibikinin tulisan 'Prof. Raisya'. Aamiinn, doa saya dalam hati.


Nah, kemarin dia bilang mau jadi chef supaya bisa bikin masakan yang enak. Tadi siang malah bilang mau jadi pilot. Hahahaha.

Lucu ya Buibu, anak memang begitu. Saya kadang mikir ini anak kok kayak nggak ada kemauan gitu pengen jadi apa. Tapi belakangan saya mikir lagi, emang apa yang sudah saya dan suami siapkan untuk Aisha?

Nggak dipungkiri, biaya pendidikan emang semakin mahal. Aisha sekarang sekolah di SD Islam yang SPP nya 350k tiap bulan. Gimana nanti kalau dia SMP, SMA, kuliah....

Satu-satunya yang bisa kami lakukan adalah menabung. Bukan saja menabung dana yang memang kewajiban kami, tapi juga menabung rasa percaya diri dan mental yang kuat pada diri Aisha. Nggak selamanya apa yang kita inginkan bisa kita capai. Dan ada jutaan orang di dunia ini yang bekerja tak sesuai basic pendidikannya. Kenyataannya mereka baik-baik saja.

Saya dan suami pernah merancang pendidikan untuk Aisha. Kadang kami beda pendapat. Saya ingin Aisha mendapat pendidikan di tempat yang terbaik. Jauh pun tak masalah. Tapi suami saya menolak keras. Aisha itu anak perempuan. Ditinggal jauh dari pengawasan orang tua adalah hal yang mengerikan. Bagaimana jika sesuatu yang buruk terjadi padanya. Toh sekolah di Cilacap sudah lumayan bagus. Yang penting dia bisa beradaptasi, bisa menempatkan dirinya, bisa berprestasi sesuai kemampuannya. Lalu bekerja pada bidang yang disukainya. Itu sudah lebih dari cukup.

Saya menghela napas. Saya mengerti kekhawatiran suami saya. Sementara pembicaraan tentang ini selalu berakhir dengan tanpa kesepakatan. Okelah. Kita bicarakan lain kali. Tapi saya yakin suami saya nggak akan berubah pendiriannya.

Mungkin karena anak saya sekarang masih SD, tapi bukankah waktu berjalan dengan sangat cepat? Ah...

Saat ini fokus kami adalah Aisha mengerjakan apa yang dia suka. Saya nggak memaksa Aisha bisa matematika, tapi saya akan marah jika dia membuang sampah sembarangan. Nggak ada korelasinya memang, tapi saya selalu berpikir penting bagi dia untuk selalu mengutamakan kepentingan orang banyak.

Saya dan suami belum muluk-muluk merancang pendidikan untuk Aisha. Bagi kami yang terpenting adalah Aisha menikmati masa sekolahnya. Masa yang nggak akan terulang lagi... Karena dia akan selalu melangkah dengan hari esok yang berbeda. Dan kami selalu berdoa agar hari esok itu selalu lebih baik dan lebih baik lagi.

Bagaimana dengan Buibu? ^_^

#satuharisatukaryaiidn

Tidak ada komentar :